SILAHKAN GUNAKAN FASILITAS "SEARCH" pojok kanan atas
untuk mencari judul skripsi yang di inginkan

pemesanan => Hub: 0857-351-08864

Friday, May 4, 2012

pendidikan berbasis ketauhidan | Contoh Skripsi


Penulis : -
Kode     :176
Judul     :  PENDIDIKAN BERBASIS  KETAUHIDAN
 -------------------------------------------------
BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah


            Pada beberapa dekade terakhir sampai pada abad millennium ini, kita bisa melihat betapa pendidikan di Indonesia seperti “mati suri” akan nilai-nilai yang menjadi budaya bangsa timur yang cenderung untuk mengedepankan nilai-nilai moralitas, etika masyarakat yang berbudi luhur, serta menjunjung tinggi nilai-nilai dari agama (religius) sesuai dengan jati diri dan kepribadian bangsa. Kita bisa melihat pada akhir-akhir ini para generasi muda, khususnya para pelajar yang sedang terjangkiti penyakit “dekadensi moral” seperti kekerasan atau tawuran antar pelajaran, pemerkosaan, hamil diluar nikah, pengunaan obat terlarang, minum-minuman keras, perkelahian dan lain sebagainya seolah-olah sudah menjadi hal yang biasa. Hal inilah menjadikan bangsa Indonesia pada hari ini terasa seperti tercerabut dari akar budaya bangsa sendiri.Contoh Skripsi
1
 
            Kejadian-kejadian semua itu seolah hanya menjadi sebuah tontonan bagi masyarakat dan rakyat bangsa Indonesia. Mengapa semua itu bisa terjadi?  Padahal kita semua tahu bahwa dahulu bangsa  Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah-tamah, religius, suka gotong royong, suka bertoleransi, suka hidup dalam kedamaian dan kerukunan serta mempunyai budaya yang luhur, yang tentunya hal ini menjadi sebuah fenomena pendidikan bangsa Indonesia yang harus segera diatasi.Contoh Skripsi

Melihat kenyataan-kenyataan tersebut, kita bisa mencermati betapa besar dan tingginya pelanggaran pada nilai-nilai yang terkandung dalam Bangsa ini. Hal ini diperparah lagi oleh tindakan-tindakan yang sangat tidak etis yang dipertontonkan oleh para oknum pejabat dan tokoh masyarakat yang hampir tersebar keseluruh aspek dan sendi-sendi kehidupan, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), yang menjadikan runhtuhnya harga dan martabat bangsa Indonesia.Contoh Skripsi
Lebih tragisnya, kasus korupsi terbesar di Indonesisa justru berada di Department Pendidikan (DIKNAS) dan Department Agama (DEPAG) yang notabene adalah lembaga negara tempatnya orang-orang yang berpendidikan tingkat tinggi dan para tokoh agama (paling faham terhadap agama). Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, bahwa lembaga tersebut tidak lebih hanya menjadi sarangnya para penyamun, para penjahat Negara, pemakan harta rakyat, yang seharusnya diberdayakan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.Contoh Skripsi

=================================== 
DAPATKAN FILE nya Dengan menghubungi admin
Anda dapat memiliki word/file aslinya
Silahkan download file aslinya setelah menghubungi admin….. klik disini
 Hanya mengganti biaya administrasi pengelolaan webite sebesar,  50.000,- MURAH Meriah
                                                     Anda tidak repot lagi mencari referensi.
                                                     Di jamin asli.contohmakalah


Hal ini menunjukkan indikasi bahwa pendidikan yang berlangsung selama ini belum memberikan hasil yang optimal dan sesuai dengan sasaran atau bisa dibilang inilah akibat kegagalan dari sector pendidikan dalam penyadaran nilai-nilai secara bermakna dalam kehidupan. Nilai-nilai luhur dan universal yang ditanamkan dan disosialisasikan di sekolah-sekolah tampaknya belum menjadi karakter yang mempribadi atau menginternalisasi pada diri peserta didik.
Salah satu penyebab rendahnya mutu sumber daya manusia (SDM) Indonesia setidaknya diakibatkan oleh adanya pergeseran makna secara subtantif dari pendidikan ke pengajaran. Maka yang terjadi adalah pendidikan yang syarat akan muatan nilai-nilai moral bergeser pada pemaknaan pengajaran yang berkonotasi sebagai transfer pengetahuan an sich. Lebih ironis lagi, sinyalemen itu sering terjadi justru dalam mata pelajaran yang berlabelkan  agama ataupun pendidikan moral, yang  dulu bernama Pendidikan Moral Pancasila (PMP) sekarang menjadi Pendidikan Kewarganegaraan atau PPKn yang tentunya syarat akan muatan nilai, moral  dan norma. Sepertinya tidak sulit kita menemukan pada dua mata pelajaran tersebut pengukuran aspek kognitif  berlangsung seperti halnya pada mata pelajaran lainya seperti saintek atau IPA.
Diakui atau tidak, bahwa ternyata ilmu dan tekhnologi tidak mampu memberikan makna peningkatan kecerdasan yang sebenarnya, kalau tidak disertai dengan nilai yang kokoh. Untuk itu, disinilah pentingnya pendidikan yang sarat nilai diberikan sejak dini di keluarga dan sekolah, agar mereka mempunyai kesadaran nilai yang tinggi yang pada gilirannya dapat memotivasi atau bisa memberi stimulus bagi mereka untuk berprilaku yang lebih baik sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan.[1] Kematangan secara moral menjadikan seseorang mampu memperjelas dan menentukan sikap terhadap subtansi nilai dan norma, demikian pula pembuktian akan jati diri dan totalitas suatu bangsa tidak terlepas dari kematangan moral yang dimiliki.
Perlu diketahui, pada dasawarsa terakhir ini terjadi kecenderungan baru di dunia yaitu tumbuhnya (kembali) kesadaran nilai. Kecenderungan ini terjadi secara global yang dapat digambarkan sebagai sebuah titik balik dalam peradaban manusia. Dimana-mana orang berbicara tentang nilai dan dalam banyak kesempatan tema-tema tentang nilai atau yang terkait dengan nilai dibahas. Bahkan untuk bidang yang sebelumnya dianggap “bebas nilai” (Value-free) sekalipun, kedudukan dan peran nilai makin banyak diangkat. Misalnya, orang sekarang hampir tidak pernah lagi berbicara tentang sains yang bebas nilai. Bahkan dikalangan saintis sendiri, dalam pengertian ilmu-ilmu alam, sekarang mulai ada rasa malu untuk berbicara tentang ilmu yang bebas nilai –sesuatu yang hingga tahun 1970-an masih sering diungkapkan.[2]
Sementara itu, selama dua dasawarsa terakhir, para ahli pendidikan sains mengembangkan teori-teori dan pendekatan yang menghubungkan pendidikan sains dengan lingkungan yang dikenal dengan Sains, Tekhnologi, dan Masyarakat. Diantara strateginya adalah dengan memberikan muatan nilai pada sains, nilai dimaksud dapat berupa nilai budaya dan nilai etik-moral, termasuk nilai moral keagamaan. Hal ini disebabkan karena sains dan tekhnologi sebagai (penerapannya) mempunyai implikasi social dan moral yang luas.[3]
Dekadensi moral yang terjadi dewasa ini sebenarnya juga disebabkan oleh masih kurang efektifnya pendidikan dalam arti luas (di rumah, di sekolah, di luar rumah dan sekolah). Pelaksanaan pendidikan yang sarat nilai dianggap belum mampu menyiapkan generasi muda bangsa menjadi warga negara yang lebih baik. Oleh karena itu, perlu dilakukan reposisi, reevaluasi, dan redefinisi pendidikan nilai. Keteladanan, keterpaduan, dan kesinambungan penyelenggaraan pendidikan nilai yang dilakukan orang tua di rumah (lingkungan), para guru di sekolah, para Pembina/instruktur/pelatih di luar sekolah dan di luar rumah (pendidikan informal, formal, nonformal); serta penyampaian materi yang didekati dengan metode-metode yang menyentuh totalitas emosional anak adalah merupakan prinsip-prinsip penting yang sangat perlu diperhatikan menuju terwujudnya kualitas karakter bangsa yang diharapkan.
Sasaran pembangunan pendidikan di Indonesia adalah untuk mewujudkan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, tangguh, sehat, cerdas, patriotic, berdisiplin, kreatif, produktif, dan professional demi tetap mantapnya budaya bangsa yang beradap, bermartabat, kehidupan yang harmonis dan pada nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai kemanusiaan dalam proses pendidikan di sekolah.[4] Namun, karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang mempunyai keberagaman atau majemuk dalam berbagai pengertian mulai etnis, ras, keagamaan, maka secara otomatis mempunyai kerangka nilai yang berbeda-beda. Sehingga relative sulit untuk menemukan dan mengembangkan nilai-nilai universal yang merupakan nilai bersama.
Walaupun demikian, pendidikan yang mempunyai nilai universal dalam masyarakat merupakan proses belajar terus-menerus bagi semua orang dan semua golongan. Sehingga pada kali ini penulis akan banyak memfokuskan pada pendidikan nilai dalam aspek agama (Islam) sesuai dengan bidang yang sedang ditekuni penulis dijurusan Pendidikan Islam, Sehingga ada sinergitas antara pendidikan nilai yang masih bersifat universal tersebut dengan pendidikan Islam.
Berbicara tentang Pendidikan Islam, kita tidak bisa melepaskan dari struktur bangunan Islam itu sendiri. Islam sendiri mempunyai kepentingan dan komitmen untuk menjadikan nilai-nilai tauhid sebagai landasan dan praktik dalam dunia pendidikan. Pendidikan yang mempunyai landasan tauhid ini adalah pendidikan yang mempunyai landasan kuat terhadap nilai ilahiayah (teologi) sebagai acuan normative-etis dan nilai-nilai insaniah dan alamiah sebagai acuan praksis.[5]
Sehingga dari pandangan ini, tauhid tidak dijadikan sebagai “materi pelajaran” tetapi lebih sebagai system ataupun konsep yang mendasari keseluruhan system pendidikan Islam. Dengan kata lain tauhid akan menjadi basis yang melandasi keseluruhan aktivitas dari proses pendidikan Islam.
Karena subyek utama dalam pendidikan adalah manusia, maka dengan tauhid ini pendidikan hendak mengarahkan anak didik menjadi “manusia tauhid”, dalam arti manusia yang memiliki komitmen yang tinggi terhadap Tuhannya dan menjaga hubungan baik dengan sesama dan lingkungannya.[6] Oleh karena itu pendidikan Islam harus dibangun atas landasan yang kuat dan benar dari pandangan dunia tauhid.
Dalam makna lain, tujuan pendidikan Islam  adalah proses sesuatu yang terikat oleh nilai-nilai ketuhanan (teistik) atau ketauhidan. Karena itu, pemaknaan pendidikan merupakan perpaduan antara keunggulan spiritual dengan cultural. Dengan demikian, budaya akan berkembang dengan berlandaskan nilai-nilai agama, yang mana pada gilirannya akan melahirkan hasil cipta, karya, rasa dan karsa manusia yang sadar akan nilai-nilai ilahiah (keimanan-ketauhidan).[7]
Kesadaran tinggi akan keberagamaan yang mengkristal dalam pribadi orang yang beriman dan bertaqwa adalah wujud dari kepatuhannya terhadap Allah SWT. Kepatuhan ini dilandasi oleh keyakinan dalam diri seseorang mengenahi pentingnya seperangkat nilai religius yang dianut. Karena kepatuhan maka niat, ucapan, tindakan, perilaku dan tujuan senantiasa diupayakan berada dalam lingkup nilai-nilai yang diyakini. Apabila hal ini dikaitkan dengan pendidikan Islam maka akan mempunyai peran yang sangat signifikan dalam pencapaian tujuan dari pendidikan Islam.
Pandangan terhadap fenomena pendidikan di atas memberikan inspirasi pada penulis untuk lebih jauh mengungkap pendidikan yang sarat akan nilai-nilai luhur, karena sesuai dengan bidang yang sedang ditekuni oleh penulis adalah pendidikan Islam maka kajian tentang nilai ini kemudian dispesifikkan atau dikhususkan pada aspek nilai ketauhidan, yang sekaligus sebagai landasan dalam pengembangan pendidikan Islam. Sehingga penulis memberi judul penulisan ini dengan judul: “PENDIDIKAN BERBASIS  KETAUHIDAN (Tela’ah Nilai Ketauhidan Dalam Praksis Pendidikan Islam)”

B. Rumusan Masalah
            Dari uraian di atas, maka focus masalah yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini sebagai berikut :
1.      Bagaimana Konsep Tauhid dalam Islam?
2.      Bagaimana Pendidikan Islam dalam Kerangka Tauhid?
3.      Bagaimana Pendidikan Berbasis Ketauhidan dalam praksis pendidikan Islam?

 =================================== 
DAPATKAN FILE nya Dengan menghubungi admin
Anda dapat memiliki word/file aslinya
Silahkan download file aslinya setelah menghubungi admin….. klik disini
 Hanya mengganti biaya administrasi pengelolaan webite sebesar,  50.000,- MURAH Meriah
                                                     Anda tidak repot lagi mencari referensi.
                                                     Di jamin asli.contohmakalah


[1] Muhaimin, dkk., Strategi Belajar Mengajar: Penerapannya DalamPembelajaranPendidikan Agama, (Surabaya: Citra Media,1996), h.34.
[2] Dedi Supriadi, pendidikan nilai: “sebuah megatend”?. dalam Rohmat Mulyana,Mengartikulasikan Pendidikan Nilai(Bandung:Alfabeta,2004),h.i
[3] Ibid,h.vi
[4] Hadiwardoyo, A.P. Nilai Kemanusian Hikmat Bagi Pendidikan Dalam Kaswardi,K.(penyunting). PendidikanNilai memasuki tahun 2000. (Jakarta: pendidikan KWI/MNPK dan Gramedia Widiasarana),h.31
[5] Muhammad Irfan, Mastuki HS, Teologi Pendidikan, dalam kata pengantar prof. Dr. H Mastuhu,  Jakarta: friska Agung insani. 2000. h. x
[6] ibid. h.x
[7] Mulyana, Rohmat, Mengartikulasi Pendidikan Nilai, Bandung, Alfabeta, 2004 h.199

No comments:

Post a Comment

Post a Comment

1

2










                 KLIK

translet


Tags

tempat sharing

Blog Archive

Blog Archive