SILAHKAN GUNAKAN FASILITAS "SEARCH" pojok kanan atas
untuk mencari judul skripsi yang di inginkan

pemesanan => Hub: 0857-351-08864

Wednesday, January 18, 2012

aktualisasi madrasah dalam mewujudkan suasana religious | Contoh Skripsi


Penulis : -
Kode     : 134
Judul     : aktualisasi madrasah dalam mewujudkan suasana religious ( studi kasus di madrasah tsanawiyah negeri malang i )
 -------------------------------------------------
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai ciri khas Islam, madrasah memegang peran penting dalam proses pembentukan kepribadian anak didik, karena itu melalui pendidikan madrasah ini para orang tua berharap agar anak-anaknya memiliki dua kemampuan sekaligus, tidak hanya pengetahuan umum (iptek) tetapi juga memiliki kepribadian dan komitmen yang tinggi terhadap agamanya (imtaq). Oleh sebab itu jika kita memahami benar harapan orang tua ini maka sebenarnya madrasah memiliki prospek yang cerah.
Sebagaimna tertuang dalam kurikulum madrasah tahun 1994, bahwa madrasah adalah sekolah yang berciri khas agama Islam. Ciri khas  itu berbentuk (1) mata pelajaran-mata pelajaran keagamaan yang dijabarkan dari pendidikan agama Islam, yaitu: al-Qur’an hadits, aqidah akhlak, fiqh, Sejarah Kebudayaan Islam, dan bahasa arab; (2) suasana keagamaannya, yang berupa suasana kehidupan madrasah yang agamis/religius, adanya sarana ibadah, penggunaan metode pendekatan yang agamis dalam penyajian bahan pelajaran bagi setiap mata pelajaran yang memungkinkan; dan kualifikasi guru yang harus beragama Islam dan berakhlak mulia, disamping memenuhi kualifikasi sebagai tenaga pengajar berdasar ketentuan yang berlaku.

Inti dari kebijakan tersebut, ialah bahwa pendidikan madrasah hendak dirancang dan diarahkan untuk membantu, membimbing, melatih serta mengajar dan / atau  menciptakan suasana agar para siswa (lulusannya) menjadi manusia muslim yang berkualitas. Dalam arti mampu mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup dan ketrampilan hidup yang Islami dalam konteks keindonesiaan. Makna pendidikan Islami sebagai aktivitas (formal dan non formal) dan sebagai fenomena peristiwa (informal) semuanya termuat dan perlu terkondisikan di madrasah. Pemahaman manusia berkualitas dalam khazanah pemikiran Islam sering disebut sebagai insan kamil (Zarkowi Soejoeti, 1987), yang mempunyai sifat-sifat : manusia yang selaras : (jasmani-rohani, duniawi-ukhrawi), manusia nazhar dan I’tibar (kritis, berijtihad, dinamis, bersikap ilmiah dan berwawasan ke depan) serta manusia yang memakmurkan bumi.Contoh Skripsi
Dalam prakteknya, dapat kita pahami bahwa aktualisasi madrasah sebagai sekolah yang memiliki ciri khas agama Islam masih jauh dari yang diharapkan. Pemahaman tentang ciri khas agama Islam masih dipahami secara parsial, hanya dilihat dari aspek luarnya saja (eksoterik) dan simbolik. Pemahaman dan aktualisasi ciri khas pertama misalnya hanya dilihat dari segi penjabaran materi dan alokasi waktu yang lebih banyak dibandingkan sekolah non madrasah. Pada pendidikan madrasah mata pelajaran agama Islam dibagi ke dalam beberapa sub mata pelajaran, yaitu: al-Qur’an-hadits, Aqidah Akhlak, Fiqih, sejarah Kebudayaan Islam, dan bahasa arab, sehingga porsi mata pelajaran pendidikan agama Islam lebih banyak. Sementara pada pendidikan non madrasah, mata pelajaran pendidikan agama Islam digabung menjadi satu, dan porsinya hanya dua jam per-minggu. Namun demikian di dalamnya pada dasarnya juga meliputi al-Qur’an Hadits, keimanan (aqidah), akhlak, ibadah-syariah-muamalah (fiqh), dan sejarah (kebudayaan) Islam.
Demikian juga pada ciri khas yang kedua, pemahaman dan aktualisasinya juga masih terbatas pada aspek luarnya saja. jika dibedakan dengan sekolah non madrasah maka perbedaan  itu dapat dilihat misalnya dalam berpakaian seragam dan ucapan-ucapan salam. Di madrasah para siswanya (puteri) memakai jilbab dan siswa putera memakai celana panjang, sedangkan pada sekolah non madrasah para siswa puteri memakai baju rok dan siswa (putera) memakai celana pendek untuk tingkat SLTP, sedangkan pada tingkat SMU siswa (laki-laki) memakai celana panjang dan siswa puteri boleh memakai rok boleh juga memakai jilbab. Bila siswa berjumpa dengan dengan siswa lain atau berjumpa dengan guru, atau tenaga kependidikan lainnya, maka untuk di madrasah mereka akan saling mengucapkan salam (Assalamu’alaikum) sedangkan di sekolah non madrasah bisa bermacam-macam, ada selamat pagi, selamat siang dan selamat sore. Di madrasah, kegiatan belajar mengajar didahului dengan ucapan salam dari sang guru atau mungkin ditambah dengan do’a berbahasa arab, demuikian juga pada akhir kegiatan belajar mengajar. Sedangkan di sekolah non madrasah mungkin sebagian besar tidak demikian, karena para gurunya bervariasi.Contoh Skripsi
Masih banyak lagi perbedaan-perbedaan antara keduanya yang lebih mengarah pada simbol-simbol tertentu. Ketika perbedaan antara madrasah dan non madrasah hanya dipahami sebagaimana tersebut di atas, maka kita akan terjebak pada pemahaman kulit luar atau lahiriah (eksoterik) yang bersifat simbolik. Sehingga ketika perbedaan-perbedaan tersebut sudah mampu diciptakan di sekolah non madrasah, maka beda antara madrasah dan non madrasah sudah menjadi kabur dan bahkan hilang. Dengan demikian untuk apa madrasah disebut sebagai sekolah yang berciri khas agama Islam bilamana tidak ada perbedaan yang subtansial antara keduanya.Contoh Skripsi
Jika ditelaah lebih mendalam ciri khas agama Islam tersebut di atas, maka pada ciri khas yang pertama, mengandung makna bahwa pendidikan agama Islam di madrasah bukan hanya didekati secara keagamaan, tetapi juga didekati secara keilmuan (Muhaimin, 1997: 15). Pendekatan keagamaan mengasumsikan perlunya pembinaan dan pengembangan komitmen (pemihakan) terhadap ajaran agama Islam sebagai pandangan hidup muslim. Sedangkan pendekatan keilmuan mengasumsikan perlunya kajian kritis, rasional, obyektif-empirik dan universal terhadap masalah keagamaan Islam.Contoh Skripsi
Kedua pendekatan tersebut harus didukung oleh komitmen akademis-religius atau personal dan profesional religius dari para pengelola dan pembinanya. karena jika tidak, bisa jadi pendekatan keilmuan akan tertindih oleh pendekatan keagamaan, sehingga penjabaran mata pelajaran pendidikan agama Islam ke dalam sub-sub mata pelajaran tersebut akan kehilangan makna. Jika demikian maka tidak ada bedanya antara pendidikan agama Islam yang dilakukan di madrasah dengan non madrasah, atau dengan di masyarakat atau di masjid dan mushalla, dan jika memang demikian adanya maka sebaiknya diserahkan saja pendidikan agama itu kepada masjid-masjid atau TPA-TPQ, majlis ta’lim di masjid, mushalla dan seterusnya. Atau sebaliknya bisa jadi pendekatan keagaman tertindih oleh pendekatan keilmuan, sehingga pendidikan agama Islam menjadi Islamologi yang hanya menekankan pada intelectual exercise  dan suasana religius tidak tercapai di madrasah.Contoh Skripsi
Pada ciri khas yang kedua, mengandung makna perlunya penciptaan suasana religius di madrasah. Suasana religius bukan hanya bermakna simbolik seperti dalam berpakaian siswanya (puteri) memakai jilbab dan siswa putera memakai celana panjang, bila berjumpa dengan orang lain mengucapkan salam (assalamu’alaikum) dan seterusnya, tetapi lebih jauh dari itu berupa penanaman dan pengembangan nilai-nilai religius (keIslaman) pada setiap bidang pelajaran yang termuat dalam program pendidikannya. Konsekuensinya diperlukan guru-guru yang mampu mengin tegrasikan wawasan imtaq dan iptek, diperlukan buku teks yang bernuansa religius dan bermuatan pesan-pesan agamis pada setiap bidang atau mata pelajaran yang diprogramkan. Contoh Skripsi
            Menurut Nucholis Madjid (1997: 124), suasana religiusitas yang berbentuk ritual dan simbolik dianggap sebagai “bingkai” atau “kerangka”, sebab itu ritus dan formalitas bukanlah tujuan, ia akan baru memiliki makna yang hakiki jika menghantarkan orang yang bersangkutan kepada tujuannya yang hakiki, yaitu kedekatan (taqarrub) kepada Allah dan kebaikan kepada sesama manusia (akhlak karimah). Sebab itu secara subtansial menurut Nurcholis Madjid (1997: 128), terwujudnya suasana religiusitas adalah ketika nilai-nilai keagamaan berupa nilai rabbaniyah dan insaniyah (ketuhanan dan kemanusiaan) tertanam dalam diri seseorang dan kemudian teraktualisasikan dalam sikap, prilaku dan kreasinya. Nilai-nilai ketuhanan tersebut oleh Madjid dijabarkan antara lain berupa nilai: iman, Islam, Ihsan, taqwa, Ikhlas, Tawakkal, Syukur dan Shabar. Sementara nilai Kemanusiaan berupa: silaturrahmi, persaudaraan, persamaan, adil, baik sangka, rendah hati tepat janji lapang dada, dapat dipercaya, perwira, hemat, dermawan. (Madjid, 1997: 128-136).Contoh Skripsi
            Setelah proses penanaman dan internalisasi nilai-nilai rabbaniyah dan insaniyah di atas pada akhirnya diharapkan terwujud dan teraktualisasi dalam sikap dan prilaku sehari-hari. Bagi civitas madrasah, aktualisasi nilai-nilai religius tersebut akan tampak dalam aktivitas pendidikan, performansi manusia atau masyarakat madrasah (kepala madrasah, guru, murid, dan karyawan), suasana dan lingkungan pendidikan, suasana pembelajaran, serta keadaan fisik madrasah.Contoh Skripsi
            Suasana religius di MTs N Malang I yang sementara ini dapat penulis amati adalah suasana dimana kehidupan baik guru-guru, tata usaha dan karyawan lainnya serta para siswa setiap harinya selalu memberikan corak kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam. Sekilas dapat digambarkan kehidupan religius di MTs N Malang I antara lain tergambar dalam kebiasaan dan rutinitas pelaksanaan kegiatan pendidikan, seperti: kebiasaan membaca do’a sebelum pelajaran pertama di mulai dan setelah pelajaran, membaca al-Qur’an selama lima menit sebelum jam pelajaran pertama di mulai, kebiasaan mengucapkan salam (baik sesama siswa, sesama guru dan pegawai tata usaha, maupun siswa dan guru serta pegawai tata usaha), sholat dzuhur berjamaah, sholat dhuha, sholat jum’at, puasa senin dan kamis, pemeliharaan kebersihan lingkungan sekolah melalui jum’at bersih, penataan lingkungan sekolah.
Kegiatan yang menggambarkan suasana religius di atas berjalan secara rutin setiap hari. Disamping itu kegiatan-kegiatan lain yang juga merupakan kegiatan yang bersifat religius yang dilakukan pada saat-saat tertentu, seperti: berkurban pada bulan zul Hijjah (setelah/selesai sholat ‘Idul adha) peringatan-peringatan hari besar Islam (Isra’ mi’raj, dan lain-lain) dan halal bi halal pada bulan Syawal.
Suasana religius di MTs N Malang I seperti digambarkan di atas, menurut Bapak Juned dan Ibu Sri Istuti Mamik telah berlangsung sejak lama terutama kebiasaan sholat dhuhur berjama’ah, sholat jum’at, membaca do’a sebelum dan sesudah pelajaran, dan mengucapkan salam antar siswa, guru, karyawan. Suasana religius semakin tampak sejak kepemimpinan Bapak Abd. Djalil sampai kepemimpinan Ibu Mamik sekarang ini, disamping mengembangkan kegiatan di atas, kegiatan lain seperti; sholat dhuha, mentradisikan puasa senin dan kamis, dan membaca al-Qur’an lima menit sebelum pelajaran pertama di mulai.
Penelitian ini selanjutnya hendak mendeskripsikan secara empirik dan lebih mendalam tentang aktualisasi madrasah dalam menciptakan suasana religius dengan mengambil kasus MTs N Malang I. Penelitian ini untuk mengetahui ada dan/ atau tidak adanya nya kesenjangan antara apa yang diharapkan dari madrasah sebagai sekolah yang berciri khas agama islam dengan apa yang dipraktekkan atau diaktualisasikan oleh MTs N malang I. Penelitian ini pada akhirnya berusaha mengkonstruk teori tentang model pengembangan madrasah dalam rangka aktualisasinya dalam menciptakan suasana religius di sekolah.Contoh Skripsi
B.   RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang penulis uraikan di atas, maka berikut ini penulis kemukakan beberapa permasalahan yaitu :
1.    Bagaimana aktualisasi Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang I dalam menciptakan suasana religius di sekolah ?
2.    Bagaiamana persepsi guru-guru, karyawan dan siswa terhadap penciptaan suasana religius di Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang I ?
3.    Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi MTs N Malang I dalam menciptakan suasana religius ?

=================================== 
Anda dapat memiliki word/file aslinya
Silahkan download file aslinya setelah menghubungi admin….. klik disini
 Hanya mengganti biaya administrasi pengelolaan webite sebesar,  50.000,- MURAH Meriah
                                                     Anda tidak repot lagi mencari referensi.
                                                     Di jamin asli.contohmakalah
winrar sortware: 
http://www.ziddu.com/download/17271885/wrar390.exe.html



C.   TUJUAN STUDI
Sebagaimana rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.    Mengetahui aktualisasi Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang I dalam menciptakan suasana religius di sekolah
2.    Mengetahui persepsi guru-guru, karyawan dan siswa terhadap suasana religius di Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang I
3.    Mengidentifikasi Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi MTs N Malang I dalam menciptakan suasana religius

No comments:

Post a Comment

Post a Comment

1

2










                 KLIK

translet


Tags

tempat sharing

Blog Archive

Blog Archive