SILAHKAN GUNAKAN FASILITAS "SEARCH" pojok kanan atas
untuk mencari judul skripsi yang di inginkan

pemesanan => Hub: 0857-351-08864

Tuesday, June 7, 2011

metode kontemporer dalam pembelajaran al qur’an



Kode     : 009
Judul     : IMPLEMENTASI METODE KONTEMPORER DALAM PEMBELAJARAN AL QUR’AN (Studi Komparatif Metode Iqra’ dengan Metode Tilawati)
=======================================
 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Al Qur’an merupakan Kitab Suci yang diturunkan oleh Allah s.w.t kepada Nabi Muhammad s.a.w sebagai mu’jizat dan salah satu rahmat yang tiada taranya bagi alam semesta. Allah s.w.t. menurunkan KitabNya yang kekal Al Qur’an-agar dibaca oleh lidah-lidah manusia, didengarkan oleh telinga mereka, ditadaburi oleh akal mereka, dan menjadi ketenangan bagi hati mereka.[1] Selain itu Al Qur’an juga merupakan petunjuk kepada jalan yang benar/lurus. Sebagaimana yang tertuang dalam firman Allah Q.S. Al Isro’ ayat 9, yang berbunyi:
إنَّ هذا القرآنَ يَهْدِيْ للتيْ هِيَ أقوَمُ ويُبَشرُ المُؤْمنيْنَ الذيْنَ يَعْملوْنَ الصَّالِحَاتِ أنَّ لهُمْ أجْرًا كَبيْرًا (الإسراء:   )
Artinya: “Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal sholeh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (Q.S Al Isro’: 9) [2]
            Mengingat demikian pentingnya peran Al Qur’an dalam membimbing dan mengarahkan kehidupan manusia, maka belajar membaca, memahami dan menghayati Al Qur’an untuk kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari merupakan kewajiban bagi setiap insan muslim. Namun sayangnya, fenomena yang terjadi saat ini tidaklah demikian. Masih banyak kaum muslim baik dari kalangan anak-anak, remaja, dewasa, bahkan orang tua belum dapat membaca dan menulis huruf Al Qur’an (buta huruf Al Qur’an). Keadaan yang demikian inilah menimbulkan keprihatinan khususnya bagi muslimin di Indonesia.
            Hal tersebut disebabkan bukan karena minimnya lembaga-lembaga pendidikan Al Qur’an (TPA/TPQ), akan tetapi kurangnya peran serta maupun perhatian dari masyarakat. Khususnya dalam hal ini adalah orang tua yang seharusnya bertanggung jawab memberikan pembelajaran Al Qur’an kepada putra-putrinya sejak dini, karena orang tua adalah komponen yang bersinggungan langsung dengan anak. Selain adanya faktor eksternal tersebut, masih ada pula faktor internal yang dapat menghambat atau menjadi masalah dalam usaha untuk menciptakan generasi yang bebas dari buta huruf Al Qur’an. Yaitu tidak adanya tekad, semangat (ghiroh) ataupun keinginan dari dalam diri untuk belajar membaca dan menulis Al Qur’an. Padahal dalam aktifitas kita sehari-hari (ritual keagamaan) tidak lepas dari bacaan-bacaan Al Qur’an, misalnya saja bacaan sholat (surat-surat pendek), dzikir, bacaan-bacaan do’a untuk menghindarkan diri dari segala mara bahaya, serta bacaan tahlil dan yasin. Oleh karena itu hendaknya para orang tua menyisihkan waktunya untuk memantau perkembangan kegamaan anak serta mendidik anak untuk mengenal agama sedini mungkin. 
Sehubungan dengan hal tersebut Muhammad Tholhah Hasan mengutip pernyataan dari Prof. Muhyi Hilal Sarhan, yang menyatakan bahwa:
Agama Islam memberikan perhatian besar terhadap anak-anak pada periode ini (umur 1-5 tahun) mengingat akibatnya yang besar dalam hidup kanak-kanak baik dari segi pendidikan, bimbingan serta perkembangan jasmaniyah maupun infialiyahnya dan pembentukan sikap serta prilaku mereka dimulai pada periode ini dan bahkan pada umur 2 tahun mereka telah meletakkan suatu dasar untuk perkembangan mereka selanjutnya”.[3]


Zakiah Daradjat juga menyatakan bahwa “perkembangan agama pada anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, terutama pada masa pertumbuhan yang pertama (masa anak) umur 0-12 tahun”.[4] Hal tersebut senada dengan sabda Nabi s.a.w.:
اطلب العلم من المهد الى اللحد
Artinya: “Belajarlah (carilah ilmu) sejak engkau dalam buaian (ayunan) sampai ke liang lahat.” [5]
Maksudnya, “semua apa saja yang dipelajari anak di waktu kecil mempunyai kesan/pengaruh yang amat dalam baginya dan sulit untuk dihilangkan, kalaupun ingin dihilangkan harus dengan melalui proses yang lama”.[6]
            Untuk mengantisipasi ataupun meminimalisir buta huruf Al Qur’an, kita sebagai umat Rasulullah s.a.w hendaknya dapat melakukan langkah-langkah positif untuk mengembangkan pembelajaran Al Qur’an. Dan juga untuk membangkitkan semangat (ghiroh) dan tekad saudara kita khususnya kaum muslim yang belum dapat baca tulis Al Qur’an untuk belajar lebih giat lagi dalam memahami serta mentadaburi kandungan-kandungan Al Qur’an baik yang tersurat maupun yang tersirat. Misalnya dengan menggunakan metode serta tehnik belajar baca tulis Al Qur’an yang sesuai, praktis, efektif dan efisien.
            Dan seperti yang telah diketahui bahwasannya di Indonesia banyak terdapat metode-metode yang digunakan dalam rangka pembelajaran Al Qur’an. Misalnya; metode Qa’idah Baghdadiyah, metode Jibril, metode Iqra’, metode Qiro’ati, metode Al Barqy, metode Tilawati, dan masih banyak lagi yang lainnya. Maka tugas seorang pendidik, guru, ustadz/ustdzah-lah untuk menentukan metode yang tepat agar peserta didik dapat lebih mudah untuk belajar baca tulis Al Qur’an.
            Berkenaan dengan penggunaan metode-metode pembelajaran Al Qur’an tersebut, pada awalnya Madrasah Diniyah Al Husna menggunakan metode Iqra’ yang kemudian dipadukan dengan metode yang baru saja disosialisasikan yaitu metode Tilawati. Dimana masing-masing metode tersebut terdiri dari beberapa jilid yang ditambah dengan buku panduan ghorib dan musykilat (bacaan-bacaan yang dianggap sulit). Maka dengan perpaduan dua metode tersebut diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran Al Qur’an, atau bahkan dapat menemukan inovasi (pembaharuan) dengan cara membandingkan kedua metode tersebut.   
            Dengan demikian apabila pembelajaran Al Qur’an dengan menggunakan metode yang sesuai dapat diterapkan secara konsekuen, diharapkan target dalam memberantas buta huruf Al Qur’an dan serta menciptakan generasi Qur’ani dapat terwujud. Maka dari pokok permasalahan yang telah dipaparkan di atas, penulis terdorong untuk mengadakan penelitian mengenai ”Implementasi Metode Kontemporer Dalam Pembelajaran Al Qur’an” (Studi Komparatif Metode Iqra’ dengan Metode Tilawati).

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan di atas, serta agar penelitian dapat mencapai hasil yang diharapkan, maka dapat penulis rumuskan permasalahan pokok sebagai berikut:
1.      Bagaimana implementasi metode Iqra’ dan metode Tilawati dalam pembelajaran Al Qur’an di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang
2.      Apa persamaan serta perbedaan implementasi metode Iqra’ dan metode Tilawati di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang
Apa faktor-faktor yang mendukung serta menghambat implementasi metode Iqra’ dan metode Tilawati di Madrasah Diniyah Al Husna Lawang


[1] Yusuf Qardhawi, Berinteraksi dengan Al Qur’an (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 175
[2] Al Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Yayasan Penyelenggara, Penterjemah/Pentafsir Al Qur’an, 1971) hlm. 425-426
[3] Muhammad Tholhah Hasan, Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia (Jakarta: Lantabora Press, 2004), hlm. 18
[4] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: Bulan bintang, 1993), hlm. 58
[5] Dudung Abd. Rahman, 350 Mutiara Hikmah dan Sya’ir Arab (Bandung: Media Qalbu, 2004), hlm. 14
[6] Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam  (Bandung: C.V. Pustaka Setia, 1997), hlm. 99 



===================================  
Silahkan download, file aslinya setelah menghubungi admin…..
klik disini  Hanya mengganti pengetikan,  50.000,- MURAH Meriah
Anda tidak repot lagi mencari referensi.
Di jamin asli.contohmakalah

No comments:

Post a Comment

Post a Comment

1

2










                 KLIK

translet


Tags

tempat sharing

Blog Archive

Blog Archive