SILAHKAN GUNAKAN FASILITAS "SEARCH" pojok kanan atas
untuk mencari judul skripsi yang di inginkan

pemesanan => Hub: 0857-351-08864

Saturday, June 4, 2011

PENDIDIKAN AKHLAK


Kode     : 004
Judul     : PENDIDIKAN AKHLAK DI SEKOLAH UMUM 
=============================================

PENDIDIKAN AKHLAK DI SEKOLAH UMUM
(Kajian Tentang Internalisasi Nilai-nilai Agama dan Gejala Religiusitas Siswa SMKN 2 Malang)


======================================================

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa ini kehidupan manusia di seluruh dunia sedang dilanda keprihatinan yang luarbiasa akibat proses modernisasi yang bersifat mengglobal. Proses modernisasi ini adalah dampak dari kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang akibatnya tidak ada masyarakat yang bisa melepaskan diri dari pengaruh peradaban global, terutama masyarakat pendidikan. Amin Syukur, dalam pengantar buku tasawuf dan krisis, menyebut masa ini sebagai masa pasca-modernisme, yang ditandai dengan krisis yang mendalam pada berbagai aspek kehidupan. Menurutnya, orang-orang, terutama di wilayah urban dan sub urban, merasakan bahwa kehidupan di sekitar mereka semakin keras, sulit dan penuh kriminalitas.[1]

Syukur menilai, semula banyak orang terpukau dengan modernisme, mereka menyangka bahwa dengan modernisme itu serta merta akan membawa kesejahteraan. Mereka lupa di balik modernisasi yang serba gemerlap memukau itu ada gejala yang dinamakan the agony modernization, yaitu azab sengsara karena modernisasi. Gejalanya dapat disaksikan seperti semakin meningkatnya angka-angka kriminalitas yang disertai tindak kekerasan, perkosaan, judi, penyalahgunaan obat terlarang/ narkotika, kenakalan remaja, prostitusi, bunuh diri, dan gangguan jiwa.
Modernisasi yang merupakan buah karya langsung atau tidak langsung dari proses renaisance yang terjadi di Barat lima abad yang lalu, telah mendominasi pandangan masyarakat manusia dewasa ini. Berbagai segi kehidupan, sosial, budaya, politik, ekonomi dan pendidikan tidak bisa lepas dari pengaruh modernisme. Sehingga term modern selalu menjadi simbol atas kata yang menyertainya. Misalnya kata modern pada istilah gaya hidup modern, negara modern, dan lain-lain. Oleh karena itu, nilai-nilai yang dihasilkan atas nama modernisme seolah-olah merupakan suatu keniscayaan yang harus diikuti oleh semua orang.[2]
Merambahnya paham modernisme pada setiap segi kehidupan juga membawa persoalan tersendiri bagi dunia pendidikan. Pengaruh terbesar adalah pada nilai moral atau akhlak. Kemerosotan akhlak yang tergambar dari perilaku keseharian siswa dapat dilihat dari banyaknya pemberitaan di media yang menyebutkan jumlah kenakalan remaja, terutama anak sekolah, semakin meningkat seiring kemajuan teknologi yang tidak terbendung lagi.
Sekolah sebagai benteng untuk membendung arus tersebut harus menghadapi tantangan berat. Parahnya, justru lembaga ini telah berubah menjadi basis kenakalan remaja dengan bersembunyi di balik istilah mode, gaul, gaya atau trend masa kini. Pendidikan akhlak pada akhirnya menjadi hal yang niscaya untuk tetap dibina dan dikembangkan pada setiap sekolah dalam rangka menyelamatkan siswa-siswi dari pengaruh di atas.
Terkait akhlak yang semakin merosot, Said Agil Husin Al-Munawar menyebutkan dalam bukunya, sebagai berikut:
“Memasuki era reformasi di Indonesia, pembinaan akhlak mempunyai nilai yang sangat strategis dalam mewujudkan keberhasilan reformasi. Reformasi yang tidak dilandasi akhlak mulia hanya akan menjadi slogan dan klise semata. Nilai-nilai akhlak mulia sebagaimana diajarkan Islam harus menjadi landasan gerakan reformasi. Akhlak merupakan alat kontrol psikis dan sosial bagi individu dan masyarakat. Tanpa akhlak manusia akan sama dengan kumpulan binatang yang tidak memahami makna penting kehidupan.”[3]

Lebih lanjut, Said Agil mengimbau dibutuhkannya keteladanan akhlak terhadap Rasulullah dan tokoh-tokoh ulama yang baik. Lebih jelasnya seperti dikutib berikut:
“Masyarakat Indonesia dituntut mengokohkan tekad dalam pembinaan akhlak umat. Pembinaan akhlak umat ini dapat dilakukan dengan memberikan pengertian bahwa akhlak itu dapat menjadi pengontrol sekaligus alat penilaian terhadap kesempurnaan keimanan seseorang. Kesempurnaan keimanan dapat dilihat dari perilaku yang ditampilkan dalam pergaulan bermasyarakat, seperti dalam kehidupan bermasyarakat, beragama, berbangsa dan bernegara. Jika hal ini diamalkan setiap komponen bangsa, maka akan terbentuk generasi dan masyarakat yang bermoral dan berakhlak. Ketinggian iman seseorang dapat dilihat dari ketinggian moral dan akhlaknya di tengah-tengah masayarakat.”[4]

Pendidikan akhlak dalam lembaga pendidikan berciri khas agama maupun umum, di Indonesia, bersumber dari mata pelajaran agama[5] dan pendidikan kewarganegaraan (PKn).[6] Penerapannya pada setiap sekolah berbeda tergantung kebijakan masing-masing sekolah. Karena perbedaan penerapan, sehingga gejala religiusitas dan internalisasi nilai-nilai agama yang terjadi juga berbeda.
Di SMKN 2 Malang yang terletak di Jl Veteran no 17 ini, bentuk-bentuk gejala religiusitas (akhlak yang baik) siswa berdasar pengamatan awal peneliti di lapangan dapat dikelompokkan menjadi dua kategori. Pertama, kategori dasar; yaitu hal-hal baik yang sederhana yang lazim dilakukan tapi memiliki nilai religius. Misalnya, kebiasaan mengucapkan salam pada setiap bertemu dan berpisah, baik saat interaksi langsung maupun dalam telpon, bersalaman antar siswa dan guru saat bertemu dan pulang bareng.
Kedua, adalah kategori advance; yaitu hal-hal baik yang memiliki tingkat religius lebih tinggi dari pada tingkat dasar. Yang berhubungan dengan Tuhan, misalnya rutin shalat, puasa sunnah, kebiasaan mengucapkan kalimat thoyyibah (baik) saat terjadi sesuatu pada dirinya, dan berjilbab (busana sopan). Yang berhubungan dengan guru, misalnya penghargaan dan penghormatan kepada guru yang diwujudkan kepatuhan atas perintahnya. Dan yang terakhir adalah berhubungan dengan sesama siswa, misalnya saling tolong menolong dalam hal positif, seperti belajar bersama, mentraktir makan, dan shalat secara berjama’ah.
Keterpaduan antara teori dan praktek pendidikan saling mempengaruhi dalam proses terjadinya gejala religiusitas (akhlak yang baik) serta internalisasi nilai-nilai agama, tergantung bagaimana faktor-faktor pendidikan lain menstimulus. Pendidikan akhlak di sekolah SMKN 2 Malang ini bersumber dari materi agama dan PKn. Memaknai gejala religiusitas dan mengkaji terjadinya internalisasi nilai-nilai agama di SMKN 2 Malang akan menjadi kajian dalam penelitian ini.

B. Rumusan Masalah
            Berangkat dari latar belakang di atas, maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.   Bagaimana internalisasi nilai-nilai agama siswa SMKN 2 Malang berlangsung?
2.   Mengapa gejala religiusitas siswa SMKN 2 Malang semakin tumbuh dan berkembang secara intens?


[1] Amin Syukur, Tasawuf dan Krisis” (Yogyakarta: 2001), hal. v
[2] Simuh, Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa (Yogyakarta: 1999), hal. 1-2
[3] Said Agil, Aktualisasi nilai-nilai Qurani: dalam Sistem Pendidikan Islam (Jakarta: 2005) hal. 26
[4] Ibid., hal. 27
[5] Pendidikan Agama yang mengajarkan tentang akhlak, pada kelas X sebagaimana disebutkan dalam Lembar Kerja Siswa (LKS) Pendidikan Agama Islam semester 1 dan 2, terdapat dalam bab III dengan tema besar Akhlak. Dalam bab ini, pada semester 1 diajarkan sub bab pengertian husnudzan, bentuk-bentuk husnudzan dan keutamaan husnudzan. Pada semester 2, sub bab adab berpakaian dan berhias, adab dalam perjalanan, adab bertamu dan menerima tamu, hasad, riya’, aniaya/dzalim dan diskriminasi. Selain akhlak, dalam bab 2 semester 1 diajarkan materi aqidah, lebih spesifik sub bab iman kepada Allah, yang mana penulis mengasumsikan materi aqidah tersebut sebagai materi akhlak terhadap Allah Swt., yang nantinya menjadi sumber ketaatan spiritual siswa dalam kehidupan sehari-hari, seperti rajin shalat, puasa sunnah.
[6] Materi akhlak dalam pelajaran PKN, seperti yang terdapat dalam LKS kelas X semester genap, dalam bab V tentang kedudukan warga negara, yang dalam bab ini dibahas sub bab mendeskripsikan kedudukan warga negara dan pewarganegaraan di Indonesia, menganalisis persamaan kedudukan warga negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dan menghargai persamaan kedudukan warga negara tanpa membedakan ras, agama, gender, golongan, budaya dan suku.

 

No comments:

Post a Comment

Post a Comment

1

2










                 KLIK

translet


Tags

tempat sharing

Blog Archive

Blog Archive