SILAHKAN GUNAKAN FASILITAS "SEARCH" pojok kanan atas
untuk mencari judul skripsi yang di inginkan

pemesanan => Hub: 0857-351-08864

Friday, June 3, 2011

kepemimpinan kepala sekolah

contoh makalah 
kode : 001
judul :  kepemimpinan kepala sekolah
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Masyarakat dan bangsa Indonesia kini sedang memasuki gerbang abad 21, era globalisasi yang penuh tantangan yang meminta manusia Indonesia yang berkualitas tinggi. Sementara itu krisis moneter berkepanjangan yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini lebih mempertegas lagi perlunya pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang tangguh, berwawasan keunggulan dan trampil. Sumber daya manusia berkualitas tersebut, yang diminta dalam era reformasi masyarakat  dan bangsa Indonesia serta masyarakat kompetitif abad 21, merupakan produk dari sistem pembangunan pendidikan nasional yang mantap dan tangguh.
Melalui UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka pendidikan nasional telah mempunyai dasar legalitasnya. Namun demikian pendidikan nasional sebagai suatu sistem bukanlah merupakan suatu hal yang beku. Suatu sistem merupakan suatu proses yang terus menerus mencari dan menyempurnakan bentuknya. Sebagai suatu proses, sistem pendidikan haruslah peka terhadap dinamika kehidupan yang kini menuntut reformasi di berbagai bidang, serta dinamika dari perubahan dunia yang dikenal sebagai gelombang globalisasi.

H.A.R. Tilaar (1999:2) dalam hal ini telah memberikan pandangan, bahwa peranan pendidikan di dalam pembangunan nasional abad 21 dengan kondisi masyarakat serba terbuka, akan menimbulkan masalah penting yang ditonjolkan, antara lain:1) pentingnya reformasi pendidikan, 2) pentingnya manajemen pendidikan agar dapat dibangun sistem pendidikan yang kuat dan dinamis menuju kualitas out put yang tinggi mutunya, 3) kemajuan teknologi informasi yang mempengaruhi proses pendidikan di dalam masyarakat ilmu (knowledge society), 4) otonomi daerah yang menuntut penyelenggaraan pendidikan nasional yang memenuhi kebutuhan pembangunan daerah sebagai dasar pembangunan nasional dan regional.
Sebagai suatu sistem yang dinamis, pendidikan terus menerus disoroti oleh masyarakat, pemerintah dan para stake holders disertai dengan munculnya masalah-masalah pendidikan yang semakin kompleks. Silang pendapat mengenai sistem pendidikan merupakan hal yang biasa, oleh  karena proses pendidikan itu sendiri akan terus menerus di tantang oleh perubahan-perubahan yang terjadi di sekitarnya, maupun perubahan-perubahan konsep pendidikan karena peningkatan ilmu pengatahuan dan teknologi.
Melihat besarnya kemungkinan permasalahan akibat perubahan-perubahan besar, rupa-rupanya proses globalisasi tidak dapat diabaikan oleh setiap masyarakat dan bangsa di dunia. Untuk mengantisipasi hal tersebut, misi pendidikan nasional yang akan datang diharapkan terwujudkan sistem dan iklim pendidikan nasional yang demokratis dan bermutu. Hal ini di tujukan agar peserta didik memiliki akhlak mulia, bersikap kreatif dan inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas dan sehat, berdisiplin dan bertanggung jawab, ketrampilan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sejalan dengan pandangan di atas dan merespon perkembangan golabal, Indra Djati Sidi, Ph.D (2001:69) mengemukaan arah kebijaksanaan dapat dirumuskan dengan beberapa langkah. Pertama, mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia. Kedua, meningkatkan kemampuan akademik dan profesional serta jaminan kesejahteraan tenaga kependidikan. Ketiga, melakukan pembaruan dan pemantapan sistem pendidikan. Keempat, memberdayakan lembaga pendidikan dan meningkatkan partisipasi keluarga dan masyarakat. Kelima, meningkatkan kualitas lembaga pendidikan. Dan keenam, mengembangkan kualitas sumber daya manusia secara terarah, terpadu dan menyeluruh.
Walaupun program peningkatan mutu pendidikan selama Pelita secara terus menerus selalu dilaksanakan, namun mutu pendidikan yang dicapai masih belum memuaskan. Hal ini bisa dilihat dari indikator sebagai berikut:
Pertama, yaitu Nilai Ebtanas Murni (NEM) masih jauh dibawah standar yang diinginkan. Sebagai ilustrasi, presentasi klasifikasi mutu SLTP pada tahun 1995/ 1996 menunjukkan angka 9 % masuk kategori sekolah baik dan baik sekali (NEM di atas 6,5); 28,9 % masuk kategori sedang (NEM 5,5-6,5); dan 62,1 % masuk kurang atau kurang sekali (NEM kurang dari 5,5). Hal ini juga terlihat dalam Human Development Index (HDI) yang dipublikasikan oleh UNDP, yang menempatkan bangsa kita berada pada urutan ke-109 dari 173 negara di dunia. Lebih lanjut Syarief (1996); pada jenjang SLTA dimana NEM bidang Fisika dari 2600 sekolah, kategori sangat baik dan baik, sekitar 19%, kategori sedang 33,6 % dan sisanya kategori kurang dan sangat kurang (47,4%). Untuk bidang sosial, 4,7 % kategori sangat baik dan baik, 20,2% kategori sedang dan 75% kategori kurang dan sangat kurang.
Kedua, dilihat dari aspek non-akademik, banyak kritik terhadap masalah kedisiplinan, moral dan etika, kreativitas, kemandirian, dan sikap demokratis yang tidak mencerminkan tingkat kualitas yang diharapkan oleh masyarakat
Ketiga, kemampuan guru sangat bervariasi. Hal ini bisa dilihat pada hasil tes guru-guru SLTP dan SMU diwilayah DKI Jakarta. Soal yang diberikan setara dengan Ebatanas. Hasilnya rata-rata guru MIPA memperoleh angka 6, 5, dengan tingkat distribusi sebagaian besar memperoleh nilai dibawah rata-rata.
Keempat, kondisi lingkungan sekolah untuk menerapkan pendidikan yang bersifat non-akademik (kreativitas, kemandirian, demokrasi) juga relatif rendah. Hal ini kurang dapat menterjemahkan kosep-konsep metodologis pada level sekolah, walaupun telah diadakan pre-service dan inservice training yang cukup intensif. (Sidi;2001:71).
Selama ini secara nasional dapat dikatakan belum memberikan hasil yang efektif. Kesimpulan ini hanya didasarkan dari gambaran performansi guru dan kualitas pembelajaran maupun rendahnya rata-rata prestasi belajar siswa secara nasional.
Lebih jauh Umaedi (2002) menyatakan salah satu indikator kekurang berhasilan ini ditunjukkan antara lain dengan NEM siswa untuk berbagai bidang studi pada jenjang SLTP dan SLTA yang tidak memperlihatkan kenaikan yang berarti bahkan boleh dikatakan konstan dari tahun ke tahun, kecuali pada beberapa sekolah dengan jumlah yang relatif sangat kecil.
Ada dua faktor yang dapat menjelaskan mengapa upaya perbaikan mutu pendidikan selama ini kurang atau tidak berhasil. Pertama strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input out put oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi ajar) dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan (sekolah) akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagai mana yang diharapkan. Ternyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function (Hanushek, 1979,1981) tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan (sekolah), melainkan hanya terjadi dalam institusi ekonomi dan industri. (dalam Umaedi; 1999)
Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro-oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya, banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro (pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah). Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa kompleksitasnya cakupan permasalahan pendidikan, seringkali tidak dapat terpikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi pusat.
Paparan tersebut memberikan pemahaman bahwa pembangunan pendidikan bukan hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan tetapi juga harus lebih memperhatikan faktor proses pendidikan. Input pendidikan merupakan hal yang mutlak harus ada dalam batas-batas tertentu tetapi tidak menjadi jaminan dapat secara otomatis meningkatkan mutu pendidikan (school resources are necessary but not sufficient condition to improve student achievement). Disamping itu mengingat sekolah sebagai unit pelaksana pendidikan formal terdepan dengan berbagai keragaman potensi anak didik yang memerlukan layanan pendidikan yang beragam, kondisi lingkungan yang berbeda satu dengan lainnya, maka sekolah harus dinamis dan kreatif dalam melaksanakan perannya untuk mengupayakan peningkatan kualitas/mutu pendidikan.
Arifin (1999:4) secara utuh melihat kualitas pendidikan dari ketiga aspek tersebut, yaitu: (1) prestasi akademik dan non akademik tinggi sebagai kriteria kualitas keluaran (out put); (2) sistem menejemen dan kepemimpinan yang efektif sebagai kriteria sistem atau proses; dan (3) pengakuan dan dukungan positif masyarakat. Apabila ketiga aspek ini dipenuhi maka pendidikan dapat diakatakan berkualitas tinggi (bermutu) dengan ditandai terjadinya perbaikan proses belajar mengajar bagi guru dan murid, diiringi dukungan positif dari komunitas eksternal terhadap lembaga pendidikan tersebut.
Output dikatakan bermutu atau berkualitas tinggi, jika prestasi siswa menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam: (1) prestasi akademik, berupa nilai ulangan umum, EBTA, EBTANAS, karya ilmiah, lomba-lomba akademik; dan (2) prestasi non-akademik seperti misalnya IMTAQ, kejujuran, kesopanan, olahraga, kesenian, ketrampilan kejuruan, dan kegiatan ekstra kurikuler lainnya. (Diknas; 2001:26)
Bertolak dari uraian di atas, memperlihatkan bahwa sangat diharapkan adanya peningkatan mutu bagi lembaga pendidikan (madrasah). Havelock (1973) menyatakan bahwa peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan melalui inovasi dan perubahan (dalam Arifin; 1999:4). Perubahan-perubahan yang terjadi dalam pengelolaan lembaga pendidikan merupakan suatu basis aktivitas dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan.
Sidi (2001:45) mempertegas terhadap peningkatan mutu pendidikan perlu adanya strategi yang dikembangkan dalam manajemen. Manajemen yang diharapkan tentu menuntut adanya perubahan paradigma, orientasi, pendekatan cara berfikir, serta sikap kreatif dan tidak fragmentaris dan tambal sulam. Tetapi harus bersifat sistemik, menyeluruh, dan mendasar. Dalam mewujudkan hal ini; pertama, melaksanakan inovasi manajemen kelembagaan pendidikan secara sistemik, total, dan mendasar, dengan sasaran utamanya adalah perubahan orientasi, pandangan (visi), cara berfikir, dan pola prilaku nyata atau action sebagai manifestasi adanya perubahan orientasi dan pandangan serta cara berfikir tersebut.
Berkaitan dengan permasalahan tersebut, maka perlu adanya penelitian untuk memahami mengenai sumber dari perubahan-perubahan yang dilakukan oleh kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola lembaga pendidikan. Dalam hal ini kepala sekolah sebagai pemimpin merupakan key position atau aktor terjadinya perubahan-perubahan tersebut. Mengungkap rahasia kebaikan sekolah dengan melihat bagaimana sekolah mengadakan perubahan-perubahan sangat beralasan dan dianjurkan oleh Hall dan Hord (1987) sebagaimana dikutip oleh Bafadhal (1995:10).  De Roche (1985) dalam kaitan ini mengadakan survey terhadap 2000 orang kepala sekolah. Sebagai sampel, tiap kepala sekolah itu diminta mengindetifikasi masalah-masalah pengelolaan yang dihadapi di sekolahnya. Berdasarkan jawaban-jawaban yang masuk diiventerisasi kurang lebih 2000 masalah pengelolaan sekolah, yang selanjutnya dikelompokkan menjadi: (1) masalah pengelolaan keuangan; (2) masalah pengelolaan waktu; (3) masalah prilaku disiplin murid; (4) masalah orang tua murid; (5) masalah hubungan sekolah  dengan masyarakat; (6) masalah guru dan pengajaran; (7) masalah hubungan, komunikasi, dan iklim sekolah; dan (8) masalah-masalah lain. Oleh karena itu diperlukan perubahan.
Hal ini terkait dengan fungsi sekolah sebagai institusi sosial terbuka dengan perubahan-perubahan yang dilakukan untuk memenuhi harapan dan tuntutan masyarakat yang selalau berubah. Sehingga sekolah akan dapat hidup dalam waktu yang relatif lama. Karena itu tidak berlebihan kiranya apabila Goodlad (1975), Henderson dan Perry (1987), dan McKibbin (1983) Brookover dan Lezotte (1979), dan Frymier dkk (1984),  merekomendasikan bahwa sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu mengadakan perubahan-perubahan.
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat disimpulkan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi di lembaga pendidikan dalam upaya peningkatan kualitas, faktor kepemimpinan merupakan faktor yang sangat penting menentukan keberhasilan. Berkenaan dengan hal tersebut, MAN 3 Malang dalam kurun waktu +2 tahun telah mengalami perubahan-perubahan yang signifikan baik di bidang , fisik, akademik maupun non-akademik. Perubahan-perubahan ini terkait dengan masa peralihan kepemimpinan kepala sekolah Bpk. Drs. H. Abdul Djalil, M.Ag sejak 20 September 2000. Meskipun Pak Djalil (panggilan akrabnya) dapat dikatakan berhasil membawa kemajuan bagi MIN 1 Malang dan MTsN 1 Malang sebagai kepala sekolah, akan tetapi hal ini tidak dapat dijadikan satu-satunya faktor bagi perspektif yang melatari penelitian ini. Posisi ini diambil berdasarkan keyakinan bahwa apa pun yang terpola bagi seorang kepala sekolah sebagai pemimpin dengan setting latar dan organisasi dalam karakter dan prilaku orang-orang yang berbeda maka akan mempengaruhi pola dan prilaku kepemimpinan yang berbeda pula. Dari pemahaman ini-lah yang menjadikan penelitian untuk memahami kepala sekolah sebagai aktor perubahan.
Sehubungan dengan pernyataan pokok tersebut, maka kajian dalam penelitian ini, difokuskan pada perubahan-perubahan yang paling mencolok dalam kepemimpinan kepala sekolah di MAN 3 Malang. Dimana fokus penelitian ini penulis rumuskan melalui masalah-masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran perubahan-perubahan yang terjadi di MAN 3 Malang dalam kepemimpinan kepala sekolah ?
2. Bagaimana proses perubahan di MAN 3 Malang selama kepemimpinan kepala sekolah?
3. Dimana letak atau sumber perubahan yang dilakukan oleh kepemimpinan kepala sekolan  sebagai aktor perubahan?
C. Ruang Lingkup Penelitian
Agar penelitian ini tidak terseret “ombak” ke lautan persoalan atau bidang-bidang telaah yang lebih luas, maka perlu ditentukan ruang lingkup penelitian yang hendak dilakukan.  Adapun penelitian ini hanya terfokus pada kepemimpinan kepala sekolah sebagai aktor perubahan yang telah dilakukan baik dibidang fisik, akademik, non-akademik. Karena itu peneliti tidak akan memaparkan dan mendiskripsikan  secara rinci mengenai sesuatu diluar perubaha-perubahan dalam kepemimpinan kepala sekolah di MAN 3 Malang.
Penelitian ini mengambil situs dan setting pada sekolah madrasah tingkat menengah di kota Madya Malang; yaitu Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Malang dengan kepemimpinan kepala sekolah adalah Drs. H. Abdul Djalil, M.Ag.
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini pada dasarnya bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana sesungguhnya kepemimpinan kepala sekolah sebagai aktor perubahan. Dari eksplorasi tersebut diharapkan diperoleh suatu gambaran umum (untuk tujuan deskripsi) tentang (1) gambaran perubahan-perubahan yang terjadi di MAN 3 Malang dalam kepemimpinan kepala sekolah, (2) proses perubahan selama kepemimpinan kepala sekolah, (3) letak atau sumber perubahan yang dilakukan oleh kepemimpinan kepala sekolan  sebagai aktor perubahan.
Selain itu, penelitiaan ini juga bertujuan untuk mengembangkan bangunan teori (theory building) berdasarkan data lapangan, setidaknya bertingkat teori substantif, yang diharapkan bisa “menjelaskan” sumber perubahan sebagaimana yang berlangsung dalam kepemimpinan kepala sekolah sebagai aktor perubahan.
E. Manfaat Penelitian
Pada dasarnya penelitian bukanlah untuk tujuan deskriptif semata, melainkan seperti yang terdapat dalam rumusan masalah dan tujuan penelitian yakni juga untuk tujuan eksplanation . Tujuan eksplanasi tersebut untuk mengembangkan teori (theory building), khususnya tentang sumber kepemimpinan kepala sekolah sebagai aktor perubahan. Temuan dari penelitian setidaknya dapat memberikan kontribusi guna memperkaya khasanah teoritik tentang kepemimpinan bagi para kepala sekolah.
Selain darpida itu, temuan penelitian dapat ikut menguatkan posisi pandangan teori Kaizen yang menempatkan peran kepemimpinan dalam proses perubahan. Bersamaan dengan itu, dapat mengkokohkan sejumlah pandangan teoritis dengan pendekatan “Moral Leadhership” yang menunjukkan letak atau sumber kepemimpinan sebagai aktor perubahan.
Konsep kepemimpinan yang bersandar pada peran kepala sekolah, secara khusus dapat menyumbangkan hasil galian kepada kepala sekolah MAN 3 Malang tentang bagaima kepemimpinan kepala sekolah sebagai aktor perubahan berdasarkan realitas dengan konsep teori yang ada. Mereka para kepala-kepala sekolah sebagai pemimpin lembaga pendidikan (khususnya Madrasah), hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai perbandingan dan masukan untuk memperkaya wawasan tentang pandangan kepemimpinan kepala sekolah sebagai aktor perubahan pada seluruh lembaga pendidikan. Gambaran dan proses perubahan berdasarkan konsep beserta kategori sumber kepemimpinan kepala sekolah sebagai aktor perubahan dalam penelitian ini, dapat menjadi tawaran alternatif kepada dunia akademik.
F. Definisi Operasional
Untuk memahami system-sistem yang digunakan dalam penelitian, maka berikut disajikan definisi-definisi operasional sebagai berikut:
1. Kepemimpinan Kepala Sekolah: dalam penelitian ini adalah segala bentuk tindakan kepala sekolah dalam proses perubahan untuk tercapaianya tujuan pendidikan.
2. Aktor Perubahan: dalam hal ini sebagai pelaku atau orang yang berperan dalam suatu kejadian penting pada perubahan.
3. Perubahan: dalam penelitian ini merupakan sebuah ide, usaha atau kegiatan (obyek) yang berbeda dengan sesuatu yang lain baik dalam hal bentuk, kualitas, maupun keadaannya untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan.
G. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan diperlukan untuk mempermudah peneliti dalam menggali data dan dapat menysunnya secara sistematis sesuai dengan alur peneltian. Adapun sistematika pada penelitan ini adalah:
Bab I : Pendahuluan. Pada bab ini akan diuraikan beberapa sub bab tentang latar belakang masalah dengan penjelasan mengenai problematika yang akan diteliti, fokus penelitian dengan fokus persoalan yang lebih rinci pada rumusan masalah, ruang lingkup penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi oprasional dan sistematika pembahasan sebagai sub bab terakhir dari bab I.
Pada Bab II Tinjaun Pustaka. Bab II berisikan saduran dari sumber-sumber buku-buku teks yang ditulis oleh para ahli untuk membantu memecahkan  masalah dan sejumlah teori sabagi kerangka pemikiran penelitian ini. Beberapa sub bab dari bab II meliputi; kepemimpinan kepala sekolah, kepemimpinan menurut perspektif Islam, kepala sekolah dan perubahan sebagai sub bab berikutnya, kemudian sub bab peran kepemimpinan kepala sekolah sebagai aktor perubahan, dilanjutkan kepemimpinan menurut perspektif Islam. TinjauanTeori dan Hasil-hasil penelitian terdahulu disajikan pada akhir dari bab ini.
Bab III: Metode Penelitian. Bab ini akan menguraikan metodologi penelitian terdiri dari beberapa sub-bab, yaitu; pendekatan penelitian, rancangan penelitian, kehadiran penelitan, instrumen penelitian, sumber data, jenis data, teknik pengumpulan data, analisa data, dan keabsahan data.
Bab IV :  Paparan Data dan Temuan Penelitian. Pada bab ini akan membahas paparan data penelitian baik dari data observasi, dokumentasi dan wawancara. Adapun pembahasan bab tersebut meliputi, karakteristik latar penelitian, gambaran perubahan-perubahan selama kepemimpinan kepala sekolah, proses perubahan dalam kepemimpinan kepala sekolah, dan letak atau sumber kepemimpinan kepala sekolah sebagai aktor perubahan.
Bab V :  Pembahasan Temuan Penelitian. Bab ini sebagai kelanjutan dari dari bab sebelumnya yang berisi penjelasan-penjelasan teoritik dan pembahasan untuk membuktikan kebenaran temuan dengan bangunan teori sebagai kerangka pemikiran. Sebagai akhir dari penyususunan penelitian ini disajikan pada bab VI :  penutup, yang terdiri dari  kesimpulan secara abstrak dan sub bab implikasi hasil penelitian. 

(file lengkap hubungi kami) klik

No comments:

Post a Comment

1

2










                 KLIK

translet


Tags

tempat sharing

Blog Archive

Blog Archive