SILAHKAN GUNAKAN FASILITAS "SEARCH" pojok kanan atas
untuk mencari judul skripsi yang di inginkan

pemesanan => Hub: 0857-351-08864

Tuesday, January 10, 2012

hubungan antara kecerdasan spiritual dengan motivasi berprestasi pada santri | Contoh Skripsi


Penulis : -
Kode     :123
Judul     :  hubungan antara kecerdasan spiritual dengan motivasi berprestasi pada santri pondok pesantren al-asmaul husna nw tanak beak barat lombok tengah
 -------------------------------------------------


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Proses  belajar  merupakan  bagian  dari  pendidikan,  dalam  proses belajar,  peserta didik   dituntut untuk secara aktif mengembangkan potensi dirinya, sehingga bisa tercapai sumber daya manusia yang tinggi agar bisa bermanfaat bagi  bangsa dan negara. Irwanto (2002) belajar adalah proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu terjadi dalam jangka waktu  tertentu  (Irwanto 2002 105).  Dalam  proses  belajar  diperlukan motivasi  berprestasi,  supay tujua dari                                                                  pendidikan  bisa  terlaksana, sehingga peserta didik akan berkompetensi untuk belajar sebaik mungkin, dengan  sungguh-sungguh, di antara faktor untuk membangkitkan motivasi berprestasi adalah faktor dari luar seperti lingkungan dan fasilitas yang ada untuk belajar, dan kedua adalah faktor dari dalam, yaitu motivasi berprestasi yang dipengaruhi oleh  kemauan dari diri sendiri untuk mencapai sesuatu yang terbaik.

Dalam proses belajar para guru dalam membina siswa atau santri, lebih  sering memberikan pelajaran untuk mengasah kecerdasan inteligensi (IQ), seperti pelajaran les tambahan, apalagi menjelang ujian nasional (UN), hampir setiap sore dan malam selalu diisi dengan belajar, sebenarnya selain mengasah  IQ,  ada  juga  yang  lebih  penting  yaitu  bagaimana  mengasah kecerdasan  spiritual (SQ),  karena  dengamengasah  SQ,  seseorang akan
mampu mengoptimalakan kecerdasan yang lain. Zohar, dan Marshall (2002) Kecerdasan spiritual merupakan  penyatu  dari  kecerdasan-kecerdasan  lain seperti  IQ  dan EQ di mana SQ mempunyai frekwensi osilasi 40 Hz di dalam otak,  fungsi dari osilasi ini adalah menggabungkan proses inderawi dan intelektual di  seluruh bagian otak. Dengan kata lain osilasi-osilasi ini menempatkan aktivitas neuron teransang kedalam konteks yang lebih besar dan lebih bermakna, (Zohar & Marshall, 2002, 65)Contoh Skripsi

Dari uraian di atas, diharapkan agar para guru, dalam memberikan pelajaran kepada siswa atau santri, tidak hanya untuk mengasah kecerdasan inteligensi  tapi  diperlukan  juga  untuk  mengasah  kecerdasan  spiritual. Kecerdasan spiritual juga sangat diperlukan, diantaranya untuk membentuk perilaku  siswa, yang berakhlak mulia, seperti yang disebut dalam undang- undang pendidikan nomor 20 tahun 2003, yaitu:Contoh Skripsi

Pendidikan  adalah  usaha  sadar  dan  terencana  untuk  mewujudkan suasana  belajar  dan  proses  pembelajaran  agar  peserta  didik  secara akti mengembangka potens dirinya   untuk   memiliki   kekuatan spiritual    keagamaan,         pengendalian    diri,                 kepribadian,kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. (www.inherent-dikti.net. Diakses  16-02-10)

Dari  redaksi  undang-undang  tentang  pendidikan  nomor  20  tahun

2003   di   ata menunjukkan,                    bahw tujua dar pendidika adalah membentuk                     manuasia    yang    memiliki    kekuatan    spiritual,    memiliki pengendalian diri, cerdas, serta berakhlak mulia, kecerdasan spiritual sangat diperlukan untuk menunjang kesuksesan seseorang, keberhasilan seseorang ditentukan oleh beberapa faktor, IQ hanya menyumbang sekitar 20 persen,Contoh Skripsi
selebihnya yaitu 80 persen ditentukan oleh faktor lain, seperti kecerdasan spiritual,  kecerdasan  emosi,  faktor  lingkungan,  budaya,  dan  sebagainya. seperti yang dikatakan Goleman (2004) IQ menyumbang kira-kira 20 persen bagi faktor-faktor  yang  menentukan  sukses dalam  hidup,  maka  yang 80 persen diisi oleh faktor-faktor lain. Seperti dalam penelitian yang dilakukan di Amerika, yaitu pada 95 mahasiswa Harvard dari angkatan tahun 1940-an, dilacak sampai mereka berusia setengah baya, maka mereka yang perolehan tesnya  paling  tinggi  di  pergurua tinggi  tidaklah  terlampau  sukses  di bandingkan rekan-rekannya yang IQ nya  lebih rendah bila diukur menurut gaji, produktivitas, atau status dibidang pekerjaan mereka. (Goleman, 2004,
44, 46)

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Pranata dan Kesuma (2006), tentang  The Effect of Intelligent Quotient, Emotional Quotient and Spiritual Quotient to  Achievement Motivation In The Office of Custom and Excise Services  Special  Type-A  Tanjung  Perak  Surabaya.  Bahwa  faktor-faktor penentu motivasi  berprestasi yang berdampak pada prestasi kerja individu dalam  organisasi  adala faktor  individu  dan  faktor  lingkungan  kerja organisasi, sedangkan bagian dari faktor individu adalah faktor kecerdasan. Faktor kecerdasan inteligensi merupakan  tingkat kemampuan pengalaman seseorang untuk menyelesaikan masalah-masalah  yang langsung dihadapi dan untuk mengantisipasi masalah-masalah.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 158 responden, secara umum memiliki  kecerdasan inteligensi, kecerdasan emosional dan kecerdasan spritual yang relatif  baik. Demikian
juga      dengan     motivasi     berprestasi     pegawai     yang     menunjukkan kecenderungan  yang  relatif  baik,  meskipun  masih  banyak  yang  harus dibenahi  berkaitadengapelanggaran  kedisiplinan datanggung jawab pegawai  yang   dilakukan  oleh  oknum  pegawai  yang  berdampak  pada pencemaran nama baik  institusiHasil analisis data membuktikan bahwa kecerdasan  inteligensi  tidak  berpengaruh  terhadap  motivasi  berprestasi, kecerdasan emosional berpengaruh  dominan terhadap motivasi berprestasi dan kecerdasan spiritual berpengaruh terhadap motivasi berprestasi pegawai Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Khusus Tanjung Perak Surabaya (Pranata dan Kesuma 2006).Contoh Skripsi
Selain itu, spiritualitas juga dipandang sangat penting tidak hanya dala membantu   karyawa d perusahaan tapi   penting   jug dalam membantu siswa dalam proses belajar, beberapa tahun terakhir ini ada salah satu   instans yang   menyelenggaraka pelatiha mengena kecerdasan spiritualitas          kecerdasan    emosi,      yang           dikaitkan          dengan                   achievement motivation, yang lebih  dikenal dengan Training Emosioanal, Spiritual and Achievement  Motivation  (ESAM  Training).  Pelatihan  ini  banyak  sekali diminati oleh beberapa sekolah di Indonesia, ada sekitar 35 instansi sekolah yang            tersebar             di                   seluruh                        Indonesia,              (Anonim, http://www.esamtraining.blogspot.com  diakses 12-11-09). Ini membuktikan betapa pentingnya kecerdasan spiritualitas dalam kehidupan manusia secara umum,   da khususny bag sisw dala melejitka potens untuk Dalam penelitian yang dilakukan oleh Hidayatul Chasanah (2008) tentang Studi Analisis Peranan Kecerdasan Emosional Dan Spiritual Dalam Meningkatkan  Motivasi  Belajar  Santri  Pondok  Pesantren  Ibnul  Qoyyim Yogyakarta penelitia tersebut   bertujua untuk   mengungkapka ada tidaknya  hubungan  antar kecerdasan  emosional  dan  spiritual  terhadap motivasi belajar santri Pondok  Pesantren Ibnul Qoyyim Yogyakarta serta peranan kecerdasan emosional dan  spiritual dalam meningkatkan motivasi belajar santri Pondok Pesantren Ibnul  Qoyyim Yogyakarta. Penelitian ini melibatkan  222  santri.  Hasil  penelitian  menunjukkan:  1)  Ada  hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual secara bersama-sama dengan motivasi belajar  santri. Kecerdasan spiritual mereka berada pada kategori cukup pula. Motivasi  belajar mereka berada pada kategori cukup baik. 2) Ada hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan  emosional  dengan  motivasi  belajar  santri  Pondok  Pesantren Ibnul Qoyyim. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat kecerdasan emosional santri Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim akan semakin tinggi pula  motivasi belajar mereka. 3) Ada hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan spiritual dengan motivasi  belajar santri.  Mungkin  semakin tinggi  tingkat kecerdasan spiritual santri Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim akan semakin tinggi pula motivasi belajar mereka. 4) Tingkat kecerdasan emosional santri Pondok  Pesantren  Ibnul  Qoyyim  berada  pada  kategori  cukup.  Mungkin semakin  tingg tingkat  kecerdasan   emosional  dan   tingkat  kecerdasanContoh Skripsi

spiritual  santri  Pondok   Pesantren  Ibnul  Qoyyim  semakin  tinggi  pula motivasi belajar mereka, (Chasanah, 2008).
Dari hasil penelitian di atas, peneliti ingin meneliti lebih jauh lagi menelit tentang   perana spiritualitas dala menumbuhka motivasi berprestasi pada siswa, melihat hasil penelitian yang dilakukan Chasanah (2008)  tentang  adanya  pengaruh  kecerdasan  spiritualitas  santri  terhadap motivasi belajar mereka, yang dilakukan di podok pesantren Ibnul Qoyyim, di sana pengaruh antara  SQ dan Motivasi positif, dikarenakan ada faktor pendukung,  seperti  pondok   pesantren  yang  berada  di  kota  besar,  dan mempunyai fasilitas yang lengkap, sehingga santri yang belajar di sana akan lebih termotivasi untuk belajar.
Di sisi lain tidak semua masyarakat Indonesia berada di kota besar, untuk itu peneliti mencoba untuk melakukan studi dengan penelitian ulang di daerah terpencil, penelitian kali ini akan dilakukan di pondok pesantren Al-Asmaul Husna NW Tanak Beak Barat Lombok Tengah, berbeda dengan di pondok pesntren Ibnul Qoyyim Yogyakarta, karena lokasi penelitian yang terletak di pedesaan, kemudian fasilitas masih belum lengkap.
Dari segi budaya, antara daerah Yogyakarta dengan daerah Lombok berbeda, dengan kondisi yang berbeda ini, memunculkan pertanyaan apakah masih   ada   hubunga kecerdasa spiritua terhada tingkat   motivasi berprestasi santri ?
Pesantren sebagai wadah untuk menempa kepribadian santri menjadi lebih baik, sehingga terbentuk kualitas spiritual yang tinggi dan mempunyai perilaku yang baik, sebagiamana yang dikatakan Mahpur (2008) Pesantren sebagai subkultur  memiliki  identitas yang menggambarkan  suatu  realitas kehidupan dan berbagai  miniatur makna psikologis yang unik.  Pesantren merupakan ajang pertapaan zuhud sekaligus medium penempa kemandirian dan kesalehan hidup bagi penghuni  (santri)  yang memiliki makna holistik membimbing kematangan      kepribadian,            memberikan     kesempatan muhasabah dalam waktu yang cukup lama  yang dipraktikkan melalui cara hidup  keseharian,  hubungan  keilmuan  yang  didasari  oleh  tawadhu’  dan punya  keragaman  pembelajaran,  pembiasan  menuju  kematangan  melalui cara hidup sederhana, melalui ritus-ritus yang direplikasi secara emosional, psikologis  dan  spiritual  sehingga  kebiasaan  itu  memberiakan  kontribusi kekayaan psikologis kaum santri untuk siap menjadi pribadi yang matang, (Mahpur, 2008, vii).
Di sisi lain dalam kehidupan pesantren juga, tidak selalu berjalan dengan  baik,  sesuai  harapan,  yakni  membentuk  santri  yang  mempunyai akhlak  mulia,  spiritualitas  yang  bagus,  serta  intelektualitas  yang  tinggi, seperti yang  diungkapkan oleh Yahya (dalam Solichatun, Nuqul, Mahpur,
2007),  ada  beberapa  faktor  yang  bisa  menyebabkan  kemerosotan  atau kemunduran dalam pesanteren yaitu:

Faktor External, antara lain:

1) Berubahnya orientasi nilai-nilai kemasyarakatan menuju materialisme pragmatis merubah orientasi idealisme kelembagaan pesantren; misalnya dari pusat pengkaderan ulama menuju pengkaderan tenaga siap kerja.
2)  Intervensi  kebijakan  Pemerintah  berupa  formalisasi  pendidikan  dan kewajiban menerapkan sistem & kurikulum pembelajaran secara nasional
Faktor Internal, antara lain:

1) Peningkatan jumlah santri di luar kapasitas kemampuan pengelolaan yang dimiliki oleh kiai (pengasuh)
2)  Beban    tugas     pesantren    yang    semakin    tinggi     baik    dari    segi kualitas/kuantitas
3) Perubahan ketahanan ekonomi pesantren dari mandiri secara mutlak menuju pada ketergantungan ekonomi pada pihak lain
4) Persiapan  sistem  pengkaderan  regenerasi  pengasuh  pesantren  yang kurang cermat
5) Konflik internal, (Sholichatun, Nuqul, Mahpur, 2007).

Selain  faktor  di  atas,  ada  juga  beberapa  masalah,  dan  ini  bisa menjadi salah satu pendukung dari degradasi yang terjadi di pesantren, yaitu masalah motivasi berprestasi santri, seperti penelitian sebelumnya motivasi berprestasi sering dikaitkan dengan kulitas spiritualitas seseorang. Ciri-ciri orang           yang          cerdas   secara                 spirituaZohar    &             Marshaall          (2007) mengindikasikan  tanda   dar SQ  yang  telah  berkembang  dengan  baik mencangkup hal berikut:



1. Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif).

2. Tingkat kesadaran yang tinggi.

3. Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan.

4. Kemanpuan untuk menghadapi dan melampui rasa sakit.

5. Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai.

6. Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu.

7. Kecenderungan untuk melihat ketertarikan antara berbagai hal (holistik view).
8. Kecenderungan untuk bertanya untuk mencari jawaban yang mendasar.

9. Bertanggung jawab untuk membawakan visi dan dan nilai yang lebih tinggi pada orang lain
Seorang yang tinggi SQ-nya cenderung menjadi seorang pemimpin yang  penuh  pengabdian  -  yaitu  seorang  yang  bertanggung  jawab  untuk membawakan visi dan nilai yang lebih tinggi terhadap orang lain, ia dapat memberikan inspirasi terhadap orang lain (Zohar&Marshall, 2007, 14).
Pondok pesantren menjadi tempat yang sangat mendukung, untuk mengembangkan kulitas spiritual, ini dikarenakan kegiatan-kegiatan rutin yang dilakukan setiap hari, seperti di pondok pesantren Tebuireng Jombang, dalam  observasi  dan  wawancara  yang  dilakukan  pada  tanggal  21-11-09, kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para santri adalah, melakukan shalat berjamaah, kemudian selesai shalat ada ritual wiridan yang dilakukan oleh santri, dan selain itu ada juga kegiatan halaqoh atau mengaji kitab kuning di aula secara berjamaah.

Kegiatan-kegiatan tersebut di atas, akan membentuk perilaku santri yang  berahklaq  mulia,  memiliki  motivasi  yang  tinggi,  serta                             akan  bisa membentuk kualitas spiritual yang tinggi pada para santri yang tinggal di pondok pesantren Tebuireng, tidak semua santri dalam melakukan kegiatan rutin   di   pondok   pesantren mempunya motivas yang   tingg untuk melaksanakannya,  ada yang malas-malasan,  sebagaimana yang dikatakan Lukman Hakim, kepala  pondok pesantren Tebuireng, pada tanggal 21-11-
2009 Bahwa:

ada beberapa santri yang malas, menjadikan lemari sebagai sekat- sekat  di  dalam  kamarnya,  kemudian  tidur  di  sana,  dan  tujuannya supaya  mereka  tidak  dibangunkan  pengasuh,  waktu  shalat  subuh. (Wawancar denga Lukma Haki kepala   pondok   pesantren Tebuireng, 21-11-2009)



Selain  itu  para  santri  yang  cendrung  bermalas-malasan  dalam melakuka kegiata ruti di   pondok seperti   shala berjamaa dan sebagainya,  mempunyai dampaterhadap prestasi  belajarnya  di  sekolah, seperti  yang dikatakan oleh kepala pondok pesantren Tebuireng, Lukman Hakim
“santri yang mempunyai permasalahan di pondok seperti malas untuk dibangunkan  pengasuh  ketika  mau  sahalat  subuh  berjamaah,  ini mempunyai   hubunga denga prestas santri  tersebut   waktu   di sekolah (Wawancar denga Lukma Hakim,   kepal pondok pesantren Tebuireng, 21-11-2009)



Selain  itu,  wawancara  juga  dilakukan  pada  pada  05-01-2010,  di pondok pesantren Al-Asmaul Husna, wawancara dilakukan pada salah satu pengajar di  pondok pesantren Al-Asmaul Husna NW Tanak Beak Barat,
kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para santri adalah, melakukan shalat duha   setiap  pagi  secara  rutin,  kemudian  mengaji  tadarusan,  pengajian nasihat kisah tauladan sahabat nabi, pengajian kitab hadits.
Kegiatan-kegiatan tersebut di atas, akan membentuk perilaku santri yang  berakhlak  mulia,  seperti  menghormati  guru,  sopan-santun  terhadap orang yang  lebih tua, dan penyayang terhadap yang lebih kecil, kemudian hal inilah yang akan bisa membentuk kualitas spiritual yang tinggi pada para santri yang tinggal di  pondok pesantren Al-Asmaul Husna, seperti yang dikatakan  Mahpur  (2008)  Pesantren  merupakan  ajang  pertapaan  zuhud sekaligus   medium   penempa   kemandiria da kesaleha hidup   bagi penghuni (santri) yang memiliki makna  holistik membimbing kematangan kepribadian, memberikan kesempatan muhasabah dalam waktu yang cukup lama  yang dipraktikkan melalui cara hidup keseharian, hubungan keilmuan yang   didasar ole tawadhu’   da punya           keragaman    pembelajaran, pembiasan menuju kematangan melalui cara hidup sederhana, melalui ritus- ritus yang direplikasi secara emosional, psikologis dan spiritual sehingga kebiasaan  itu  memberiakan  kontribusi  kekayaan  psikologis  kaum  santri untuk siap menjadi pribadi yang matang (Mahpur, 2008, vii).
Walaupun kegiatan-kegiatan yang ada di pondok pesantren di atas sudah  terlaksana  dengan  baik,  ada  beberapa  permasalahan  yang  muncul pada  para  siswa,  seperti  yang  dikatakan  salah  satu  pengajar  di  pondok pesantren Al-Asmaul Husna NW Tanak Beak Barat, Syukriadi
Tingkat  motivasi  mereka  rendah  dalam  proses  belajar,  ini  dapat dilihat  dari  kurangnya  prestasi  yang  diraih  oleh  siswa,  kemudian


rendahnya minat belajar ketika tidak ada guru” (Wawancara dengan Syukriadi, guru di pondok pesantren Al-Asmaul Husna NW Tanak Beak Barat, (05-01-2010).

Dar beberapa   permasalahan   di   atas seharusnya   par santri mempunyai  motivasi  yang  tinggi,  kenapa  hal  tersebut  bisa  terjadi  ? seharusnya, siswa yang tinggal di pondok pesantren memiliki semangat atau girah   untuk  berlomba-lomba  dalam  melaksanakan  kebaikan  fastabiqul khairat. Kenapa motivasi mereka rendah?Contoh Skripsi
Di sisi lain, tidak semua santri yang tinggal di pondok  pesantren memiliki motivasi berprestasi yang rendah, tetapi ada juga para alumni dari pondok  pesantren yang memiliki motivasi  untuk  berprestasi yang tinggi, sehingga  mereka  berhasil,  seperti  KH.  Abdurrahman  Wahid  (Gus  Dur), beliau  merupakan  alumni  dari  pesantreyang  berhasil  dengan  segudang prestasi baik di Indonesia maupun  di luar negeri dengan kecerdasan dan keluasan ilmu yang dimilikinya, dan beliau juga bisa menjadi Presiden RI yang ke 4. Kemudian ada juga Nur Cholis Madjid, beliau merupakan alumni pondok   pesantre yan berhasil   menjad cendikiawa muslim   yang berpengaruh  di  Indonesia,  denga pemikiran-pemikiranya  telah  banyak memberikan  sumbangan  khazanah  keilmuan  bagi  kemajuan  pendidikan, selain itu beliau juga sebagai tokoh nasional.Contoh Skripsi
Selain tokoh di atas, masih banyak alumni pondok pesantren yang telah  berhasil  dalam  bidang  yang  lain,  salah  satu  contohnya  di  pondok pesantren Al-Asamaul Husna NW Tanak Beak Barat Lombok Tengah, ada beberapa alumni yang telah menjadi guru, pegewai pemerintah, bahkan ada
yang sedang menempuh pendidikan S2 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)  Bandung, suatu pondok pesantren yang tinggal di pedesaan, hal ini merupakan  kebanggan dan keberhasilan yang luar biasa, karena sebagian masyarakat  di  des Tanak  Beak  Barat  tingkat  pendidikannya  rata-rata sampai sekolah dasar (SD).Contoh Skripsi
Dari contoh di atas, dapat dilihat bahwa tingkat motivasi berprestasi para alumni dari pondok pesantren tidak selamanya rendah, ada juga yang tinggi,  melihat  berbagai  fenomana  di  atas,  apakah  ada  hubungan  antara tingkat kecerdasan spiritual dengan motivasi berprestasi pada santri pondok pesantren Al-Asmaul Husna NW Tanak Beak Barat.
B. RUMUSAN MASALAH

Berangkat  dari  latar  belakang  di  atas,  yang  menjadi  rumusan masalah dari penelitian ini adalah :
1.  Bagaimana tingkat  kecerdasan spiritual pada santri pondok  pesantren

Al-Asmaul Husna NW Tanak Beak Barat Lombok Tengah ?

2.    Bagaimana tingkat motivasi berprestasi pada santri pondok pesantren
Al-Asmaul Husna NW Tanak Beak Barat Lombok Tengah?

3.    Apakah  ada  hubungan  anatara  kecerdasan  spiritual  dengan  motivasi berprestasi  pada  santri  pondok  pesantren  Al-Asamaul  Husna  NW Tanak Beak Barat Lombok Tengah ?

=================================== 
Anda dapat memiliki word/file aslinya
Silahkan download file aslinya setelah menghubungi admin….. klik disini
 Hanya mengganti biaya administrasi pengelolaan webite sebesar,  50.000,- MURAH Meriah
                                                     Anda tidak repot lagi mencari referensi.
                                                     Di jamin asli.contohmakalah

No comments:

Post a Comment

1

2










                 KLIK

translet


Tags

tempat sharing

Blog Archive

Blog Archive