SILAHKAN GUNAKAN FASILITAS "SEARCH" pojok kanan atas
untuk mencari judul skripsi yang di inginkan

pemesanan => Hub: 0857-351-08864

Tuesday, January 10, 2012

hubungan antara kecerdasan spiritual dengan prestasi belajar | Contoh Skripsi


Penulis : -
Kode     : 122
Judul     :  hubungan antara kecerdasan spiritual dengan prestasi belajar  matematika siswa kelas viii madrasah tsanawiyah negeri malang 2
 -------------------------------------------------


BAB I
PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang

Pendidikan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja,           teratur                  dan         berencana              dengan     maksud     mengubah    atau mengembangkan perilaku yang diinginkan. Sekolah sebagai lembaga formal merupakan  sarana  dalam  rangka  pencapaian  tujuan  pendidikan  tersebut. Dalam  pendidikan  formal,  belajar  menunjukkan  adanya  perubahan  yang sifatnya  positif  sehingga  pada  tahap  akhir  akan  diperoleh  keterampilan, kecakapan dan pengetahuan baru. Hasil dari proses belajar tersebut tercermin dalam prestasi belajarnya. Namun dalam upaya meraih prestasi belajar yang memuaskan dibutuhkan proses belajar.Contoh SkripsiContoh Skripsi
Proses belajar yang terjadi pada individu memang merupakan sesuatu yang  penting, karena melalui belajar individu mengenal lingkungannya dan menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekitarnya. Menurut Morgan dalam bukunya Introduction to Psychology dikemukakan bahwa: Belajar adalah setiap  perubahan  yang  relatif  menetap  dalam  tingkah  laku  yang  terjadi sebagai  suatu  hasil  dari  latihan  atau  pengalaman. (Purwanto,  2006:84). Dengan belajar siswa dapat mewujudkan cita-cita yang diharapkan.

Belajar     akan    menghasilkan    perubahan-perubahan   dalam     diri seseorang. Untuk mengetahui sampai seberapa jauh perubahan yang terjadi, perlu adanya penilaian. Begitu juga dengan yang terjadi pada seorang siswa yang   mengikut suatu  pendidikan  selalu  diadakan  penilaian  dari  hasil







belajarnya. Penilaian terhadap hasil belajar seorang siswa untuk mengetahui sejauh  mana  telah  mencapai  sasaran  belajar  inilah  yang  disebut  sebagai prestasi  belajar.  Prestasi  belajar  menurut  Yapsir  Gandhi  Wirawan  dalam Murjono (1996 :178) adalah:
“Hasi yang   dicapa seorang   siswa dala usaha   belajarnya sebagaimana dicantumkan di dalam nilai rapornya. Melalui prestasi belajar  seorang siswa  dapat mengetahui kemajuan-kemajuayang telah dicapainya dalam belajar.

Suatu  hal  yang  wajar,  sekolah  pada  umumnya  selalu  berupaya bagaimana sekolah tersebut memiliki Sumber Daya Manusia yang mampu menampilkan prestasi yang baik. Padahal prestasi seseorang dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain kemampuan kognitif, kemampuan teknis, kecerdasan emosional dan  kecerdasan spiritual. Pernah dikatakan Ali Syariati seorang intelektual muslim,  bahwa manusia adalah makhluk dua dimensional yang membutuhkan penyelarasan  kebutuhan akan kepentingan dunia dan akhirat. Oleh sebab itu manusia harus memiliki konsep duniawi atau kepekaan emosi dan intelegensi yang baik. Penting  pula penguasaan ruhaniah vertikal atau Spiritual Intelligence (Ginanjar: xx). Untuk itu memiliki kemampuan kognitif dan  teknis  saja  tanpa  dibarengi  kecerdasan  emosi  dan  spiritual  belumlah cukup untuk dijadikan ukuran keberhasilan seseorang.
Intelligence  Quotient  (IQ)  oleh  Howard  Gardner,  ahli  psikologi Harvard School of Education Amerika Serikat diakui sebagai standart utama da satu-satunya  alat  untuk   mengukur  kemampuan  berfikir  seseorang. Pemahaman  tentang  kecerdasan  akal  ini  lambat  laun  telah  tumbuh  dan memperkuat persepsi di kalangan masyarakat luas hingga akhir 1990, selainContoh Skripsi

itu diakui pula bahwa orang yang ber-IQ tinggi akan mempunyai masa depan yang  lebih  cemerlang  dan  menjanjikan  serta  dapat  menjamin  kesuksesan hidup.  Sebaliknya  orang  yang  ber-IQ  sedang-sedang  saja  apalagi  rendah begitu suram masa depan hidupnya. Benarkah demikian? Jawabannya adalahContoh Skripsi
tidak”. Inilah jawaban tegas Daniel Goleman. Setelah dipublikasikannya Emotional Intelligence (EI) tahun 1995 oleh Daniel Goleman dalam buku tersebut   banya dicantumka fakta-fakt bar yang   mampu   menepis pemahaman yang selama ini menjadi citra masyarakat tentang keistimewaan IQ (Sukidi, 2002:37-40).
Menurut  makalah  Cleland  tahun  1973,  Testing  for  Competencebahwa seperangkat kecakapan khusus seperti empati, disiplin diri dan inisiatif akan  menghasilkan  orang-orang  yang  sukses  dan  bintang-bintang  kinerja (Goleman,        1999:19),            yang     pada     kenyataannya             Contoh Skripsi        banyak       orang   yang mempunyai  kecerdasan  biasa-biasa  saja  justru  sukses  menjadi  bintang- bintang   kinerja,   pengusaha-pengusaha   sukses   dan   pemimpin   berbagai kelompok. Seperti disebut Goleman ternyata dibalik semua itu ada faktor lain untuk  menjadi  cerdas.  Goleman  (1999)  menyebut  ”Setinggi-tingginya  IQ hanya  menyumbang  kira-kira  20%  dalam  menentukan  kesuksesan  hidup. Sementara yang 80% diisi oleh faktor kecerdasan lain”. Serasa belum tuntas betul kajian kecerdasan emosional dan  intelektual, kini muncul kecerdasan ketiga   yaitu kecerdasan spiritual yang disebut  oleh Danah Zohar dan Ian Marshall  sebagai  The  Ultimate  Intelligence”.  Kecerdasan  Spiritual  yang berarti kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan
nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jala hidup  seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain (Zohar, 2001:4).Contoh Skripsi
Kecerdasa Spiritua ini   diangga sebaga kecerdasa tertinggi manusia karena mampu mensinergikan (mengintegrasikan) semua kecerdasan manusia baik  IQ,  EI  dan  SI  (Spiritual  Intelligence)  atau  Kecerdasan Spiritual),   dengan  ketig kecerdasan   tersebut  kita   diharapka menjadi prototipe manusia yang benar-benar utuh dan holistik, baik secara intelektual, emosional  dan  sekaligu secara  spiritual.  Kajian  tentang  keutamaan  SI didukung pula oleh ungkapan  Marsha Sinetar sebagai pendidik, penasehat, pengusaha   da penulis   buku-buku   best-seller bahwasany kecerdasan spiritual  mampu  melibatkan  kemampuan  menghidupkan  kebenaran  yang paling dalam yang berarti mampu mewujudkan hal-hal yang terbaik, utuh dan paling manusiawi dalam batin. Dalam diri orang yang cerdas secara spiritual mengalir gagasan, energi, nilai, visi, dorongan dan arah  hidup  yang penuh kesadaran akan cinta (Sinetar, 2001:15).
Saat ini tidak sedikit siswa yang kurang bersemangat untuk belajar Matematika. Hal  itu  disebabkan Matematika  sering kali  dianggap sebagai momok, ilmu yang kering, abstrak, teoritis, penuh dengan lambang-lambang, rumus-rumus yang sulit dan sangat membingungkan. Akibatnya Matematika tidak  lagi  menjadi   disiplin  ilmu  yang  objektif-sistematis,  malah  justru menjadi  bagian   yang   sanga subjekti dan   kehilangan  sifat  netralnya.Contoh Skripsi
Mirisnya  lagi,  kondisi  tersebut  sering  kali  diperparah  oleh  sikap  guru pengajar  Matematika yang sering berperilaku killer,  galak, mudah marah, suka mencela, monoton dan terlalu cepat dalam mengajar.  Pranoto salah satu pemerhati pendidikan  Matematika dan dosen pada Departemen Matematika ITB, menyebutkan selain  kurang bervariasinya pada pengajaran yang ada, ketakutan anak didik pada Matematika juga disebabkan oleh pola pengajaran guru  yang  otoriter,  menganggap  siswa  banyak  bertanya  sebagai  hal  yang kurang ajar dan tidak patuh pada pola pengajaran guru (Wirasto, 1987).
Secara  umum,  tujuan  diberikannya  Matematika  di  sekolah  adalah untuk  mempersiapkan  peserta  didik  agar  sanggup  menghadapi  perubahan kehidupan dan  dunia yang selalu berkembang dan sarat perubahan, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran logis, rasional dan kritis. Begitu juga untuk  mempersiapkan  siswa  agar  dapat  bermatematika  dalam  kehidupan sehari-hari,  mempelajari  ilmu  pengetahuan, teknologi  dan  seni  (IPTEKS). Sedangkan,  pada  penekanan  tujua umum  pembelajaran  Matematika  di sekolah  adalah  nalar,  pembentukan  sikap  siswa  serta  keterampilan  dalam penerapan ilmu Matematika (Depdikbud, 1995).
Akan tetapi sejauh mana tujuan pendidikan Matematika di sekolah sudah dapat direalisasikan? Inilah kiranya yang masih menjadi keprihatinan kita bersama. Sungguh banyak kesulitan yang ada dan merambah hampir ke seluruh komponen pembelajaran Matematika, mulai dari faktor intern (siswa, guru, kurikulum dan  sarana  prasarana yang belum memadai), sampai pada faktor ekstern (seperti pentingnya peran orang tua dan lingkungan).Contoh Skripsi

Fenomena yang terjadi di Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang 2 adalah  rendahnya  nilai  prestasi  siswa  pada  pelajaran  Matematika,  hal  itu ditunjukkan dengan rendahnya hasil nilai UAS, UN dan nilai ujian pemetaan kelas. Berikut adalah nilai hasil ujian UAS sebagian siswa kelas VIII MTsN Malang 2.
Tabel 1
Nilai UAS  Matematika kelas VIII

No
Nama
Kelas
Nilai Matematika
1
Nukman Nufail Abdillah
8A
4,46
2
Evita Sari
8A
5,91
3
Andriati
8B
4,97
4
Ari Putri Darmayanti
8B
5,74
5
Fitria Noor Parlina
8C
6,85
6
Ning Sulfah
8C
3,28
7
M. Rofiq Sadullah
8D
4,46
8
M. Syafiq
8D
4,24
9
Dwi Randa Firullyda Syah
8E
5,29
10
Zulham Efendi
8E
4,50


Dari data di atas membuktikan bahwa prestasi Matematika di MTsN Malang 2 perlu diberi perhatian khusus supaya dapat menjadi pelajaran yang disukai siswa serta mampu menghasilkan prestasi yang baik. Perlu diketahui bahwa Matematika adalah salah satu mata pelajaran ujian nasional, sehingga prestasi yang baik sangat  dibutuhkan siswa untuk bisa lulus ujian nasional. Dari  informasi  beberapa  siswa  yang  kami  wawancarai,  penurunan  nilai tersebut  disebabkan  karena  mater yang   disampaikan  guru  tidak  dapaditerima   dengan   jelas   oleh   siswa,   sehingga   materi   terasa   sulit   dan membutuhkan kesabaran serta ketekunan untuk memahami teori dan praktik mengerjakan  soal  secara  maksimal.  Di  samping  itu  guru  yang  kurang kompeten dalam  menyampaikan  materi Matematika  membuat  siswa  turun motivasi   belajarnya.  Guru  yang  ekstrim  (killer)  dalam  mengajar  tidak membuat siswa menjadi semangat dalam belajar, akan tetapi malah membuat siswa ketakutan dan  tidak nyaman saat belajar. Salah satu bukti rendahnya prestasi Matematika siswa adalah kurangnya nilai prestasi pada saat UAS dan UAN, sehingga 38 dari 110   siswa   mengalami kegagalan dan tidak lulus ujian nasional pada mata pelajaran Matematika.Contoh Skripsi
Dala belajar   tida hany mengedepankan   IQ   saja menurut pandangan kontemporer kesuksesan hidup seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual saja, melainkan juga oleh kecerdasan-kecerdasan lain  seperti   kecerdasan  emosi  dan  spiritual.  Begitu  juga  dalam  belajar Matematika siswa tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan IQ saja, tapi juga membutuhkan usaha, doa dan ketekunan dalam mengerjakan soal. Siswa yang  memiliki  pemahaman  materi  dengan  baik  tidak  akan  mahir  dalam Matematika jika  tidak  sering  berlatih  mengerjakan  soal,  sebaliknya  siswa yang memiliki IQ atau pemahaman yang pas-pasan akan menjadi mahir jika sering latihan menyelesaikan masalah Matematika dan selalu berpikir positif bisa.  Jadi  dalam  belajar  tidak  hanya  membutuhkan  kemampuan  IQ  yang tinggi  saja  melainkan  juga  membutuhka motivasi,  pikiran  positif  dan
pengelolaan  emosi  diri  yang  baik,  sehingga  belajar  akan  terasa  nyaman dilakukan dan membuahkan hasil yang maksimal.
Untuk  mencapai  keberhasilan  dan  prestasi  belajar  dalam  bidang Matematika, ada kalanya siswa mengalami banyak hambatan dan kesulitan. Kesulitan dan hambatan yang dialami siswa bukan hanya sebatas kemalasan tetapi  juga hubungan sosial dan motivasi belajar, dimana hal tersebut tidak dapa diandalkan  dari  IQ-nya  saja  tetapi  juga  dari  kemampuan  untuk mengendalikan diri dan mengelola emosi, sehingga dibutuhkan motivasi yang kuat dari dalam diri  siswa untuk mempelajari Matematika. Motivasi dalam dir aka bertaha lama    da selalu   terinternalisasi,   sedangka bila motivasinya dari luar, misal dari guru  atau orang tua, jika pada suatu saat mereka  tidak  memberikan  motivasi  lagi,  maka  siswa  akan  enggan  untuk berprestasi  lagi.  Hal  lain  adalah  karena  Matematika  merupakan  pelajaran ilmu pasti yang membutuhkan penalaran dan ketelatenan untuk mengerjakan
soal-soalnya Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Az-Zumar ayat 53:


53.   Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap dir mereka  sendiri,  janganlah  kamu  berputus  asa  dari  rahmat  Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa  semuanya. Sesungguhnya Dia- lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat tersebut menyiratkan bahwa manusia tidak boleh berputus asa, sehingga untuk mencapai sesuatu atau prestasi yang baik siswa membutuhkan
motivasi dalam diri atau motivasi internal yang bersumber dari diri sendiri. Adanya motivasi diri, siswa akan selalu berusaha untuk mencapai apa yang diinginkan dalam mempelajari Matematika dan dia akan memperoleh prestasi yang   diinginkan.   Motivas tersebu tida dapa diperole sisw dari kecerdasan  intelektualnya  saja  tetapi  diperoleh  dari  kecerdasaemosional dan spiritualnya juga.
D MTs Malang    penulis   menemuka adany suatu   upaya peningkatan spiritualitas pada siswa siswi berupa pengadaan sholat dhuha berjamaah dan membaca Al-Qur’an sebelum pelajaran pertama dimulai. Hal tersebut  digunakan  sebagai  upaya  peningkatan  ibadah  khususnya  agama Islam. Kegiatan shalat dhuha diadakan setiap hari setelah jam pelajaran ke-2 usai. Adapun sifat keikutsertaannya wajib bagi siswa yang tidak berhalangan. Berdasarkan   hasil                       pengamatan                penulis     dilengkapi     dengan    laporan pengamatan dari salah satu siswa (pengurus OSIS), ada beberapa siswa yang pada pelaksanaan shalat dhuha  selalu aktif dan khusyu’ mengikuti kegiatan hingga selesai dan ada juga beberapa  yang tidak aktif. Terdapat perbedaan dari  masing-masing  siswa  yang  telah  disebutkan.  Ada  perbedaan  dalam kualitas belajar antara siswa yang aktif mengikuti kegiatan shalat dhuha dan ada yang tidak aktif. Dari sini jelas terdapat perbedaan yang signifikan dalam berprestasi antara siswa yang berusaha mengembangkan kualitas spiritualnya dibanding dengan prestasi siswa yang kurang perhatian terhadap spiritualitas.
Pentingnya pengembangan kecerdasan spiritual siswa di sekolah  pada dasarnya untuk membekali siswa dengan kapasitas diri yang lebih baik dengan

pondasi keagamaan yang matang dan selalu berserah diri kepada Allah setelah berusaha menyelesaikan masalah. Di samping itu juga untuk membekali siswa supaysenantiasa         tegar                dalam           menghadapi       kebosanan,      kesedihan, kekecewaan,  ketakutan,  frustrasi,  depresi  dan  kesedihan  di  dalam      hidup, sehingga  siswa  dapat  belajar  dengan  maksimal  dan  menghasilkan  prestasi belajar yang baik.
Berangkat  dari  uraian  yang  telah  penulis  sebutkan  di  atas,  penulis bermaksud untuk mengukur sejauh mana tingkat kecerdasan spiritual siswa MTs Malang  2  khususnya  kelas  VIII,  sejauh  mana  kualitas  prestasi Matematika  siswa?  Dan apakah ada  hubungan  antara  kecerdasan spiritual dengan prestasi Matematika siswa? Dengan pertanyaan dasar apakah seorang siswa  yang  mempunya kecerdasan  spiritual  tinggi  selalu  menampilkan prestasi yang tinggi dan  memuaskan?  Dan sebaliknya apakah siswa yang kecerdasan spiritualnya rendah akan menampilkan prestasi rendah?.
Dalam kaitan pentingnya kecerdasan spiritual pada diri siswa sebagai salah  satu  faktor  penting  untuk  meraih  prestasi  akademik,  maka  penulis tertarik untuk meneliti: Hubungan Antara Kecerdasan Spiritual dengan Prestasi Belajar  Matematika Siswa Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang 2.




B.  Rumusan MasalahContoh Skripsi


Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.  Bagaimana tingkat prestasi belajar Matematika siswa kelas VIII MTsN Malang 2?
2.  Bagaimana tingkat kecerdasan spiritual siswa kelas VIII MTsN Malang 2?

3.  Apakah ada hubungan antara kecerdasan spiritual dengan prestasi belajar

Matematika siswa kelas VIII MTsN Malang 2?

=================================== 
Anda dapat memiliki word/file aslinya
Silahkan download file aslinya setelah menghubungi admin….. klik disini
 Hanya mengganti biaya administrasi pengelolaan webite sebesar,  50.000,- MURAH Meriah
                                                     Anda tidak repot lagi mencari referensi.
                                                     Di jamin asli.contohmakalah




No comments:

Post a Comment

1

2










                 KLIK

translet


Tags

tempat sharing

Blog Archive

Blog Archive