SILAHKAN GUNAKAN FASILITAS "SEARCH" pojok kanan atas
untuk mencari judul skripsi yang di inginkan

pemesanan => Hub: 0857-351-08864

Wednesday, September 14, 2011

pengembangan pembelajaran kitab kuning di pesantren luhur malang, Contoh Skripsi


 
Penulis : -
Kode     : 059
Judul     :  pengembangan pembelajaran kitab kuning di pesantren luhur malang
 -------------------------------------------------

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan adalah pemberi corak hitam putihnya perjalanan hidup seseorang. Oleh karena itu, ajaran Islam menetapkan bahwa pendidikan merupakan salah satu kegiatan yang wajib hukumnya bagi pria dan wanita, dan berlangsung seumur hidup – semenjak dari buaian hingga ajal datang (Al-Hadits) – life long education.[1]
أُطْلُبُ الْعِلْمَ مِنَ المْـَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ (الحديث)
Artinya:
Belajarlah (carilah) ilmu sejak engkau dalam buaian (ayunan) sampai ke liang lahat. (Al-Hadits)
Pentingnya pendidikan untuk membentuk manusia seutuhnya tidak hanya diakui oleh dunia Islam saja, tetapi hal ini juga diakui oleh bangsa Indonesia. Buktinya pasal 31 ayat 1 dan 2 yang berbunyi:
1.      Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran.
2.      Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang.[2]
Secara tidak langsung kedaulatan tersebut menempatkan pendidikan sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan hidup dan kehidupan manusia.[3] Oleh karena itu, pendidikan senantiasa mengandung pemikiran dan kajian, baik secara konseptual maupun operasionalnya, sehingga diperoleh relevansi dan kemampuan menjawab tantangan serta memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh umat manusia.[4]
Pendidikan merupakan kebutuhan bagi umat manusia, untuk membentuk aspek-aspek dalam diri manusia. Adapun aspek tersebut meliputi: aspek keilmuan, aspek keterampilan, aspek kesenian dan aspek keagamaan. Dalam rangka pengembangan aspek itulah maka dibutuhkan lembaga-lembaga yang mampu menyalurkan dan mengarahkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan manusia tersebut.

Lembaga-lembaga pendidikan yang ada saat ini banyak, baik itu yang berada dijalur pendidikan formal, nonformal dan informal. Adapun yang dimaksud dengan jalur pendidikan formal, nonformal dan informal adalah sebagai berikut: Pertama, Pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Kedua, Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Ketiga, Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.
Namun, adanya pembagian lembaga-lembaga pendidikan ke dalam jalur pendidikan di atas bukan berarti permasalahan mengenai penyaluran pendidikan telah selesai, sebab lembaga-lembaga yang berada dalam jalur pendidikan masih memiliki masalah-masalah lain, misalnya: Pertama, Mahalnya biaya yang ditetapkan oleh suatu lembaga pendidikan sehingga tidak bisa dijangkau oleh semua kalangan terutama kalangan menengah ke bawah. Depdiknas tahun 2000 tentang sejumlah orang yang tak bisa sekolah. Begini datanya: sedikitnya 7,2 juta anak di Indonesia tidak mampu merasakan bangku sekolah, terdiri dari 4,3 juta siswa SLTP dan 2,9 juta SD dan SLTA. Mengapa mereka tidak bisa sekolah? Jawabannya sangat jelas, tidak punya uang! Siapa yang tak punya uang? Ya kita semua yang memang harus hidup miskin. Kemiskinan apapun sebabnya, membuat akses pada sekolah jadi kian sempit.[5] Kedua, Lokasi lembaga pendidikan yang banyak berada di pusat kota, sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat, umumnya masyarakat pelosok desa. Ketiga, Kurang fokusnya lembaga pendidikan dalam pembentukan moral yang merupakan inti dari pembentukan manusia seutuhnya.
Untuk itulah dibutuhkan lembaga yang setidaknya tidak memiliki ke tiga masalah di atas. Pada umumnya diantara lembaga-lembaga pendidikan, pesantren lebih tepat dijadikan tolak ukur bagi lembaga-lembaga lainnya, sebab: Pertama, Pesantren tidak terlalu membebankan masalah biaya kepada para peserta didiknya, meskipun ada sebagian pesantren yang mematok biaya namun tidaklah terlalu besar. Kedua, Pesantren, diniyah dan madrasah tersebut lebih banyak berkembang di kawasan pedesaan dibanding yang tumbuh di perkotaan.[6] Ketiga, Hal itu sesuai dengan tujuan utama pesantren sewaktu didirikan pada awal pertumbuhannya, yaitu: (a) Menyiapkan santri dalam mendalami dan menguasai ilmu agama Islam atau lebih dikenal dengan tafaqquh fid-din, yang diharapkan dapat mencetak kader-kader ulama dan turut mencerdaskan bangsa Indonesia, kemudian diikuti dengan tugas. (b) Dakwah menyebarkan agama Islam. (c) Benteng pertahanan umat dalam bidang akhlak. Sejalan dengan hal inilah, materi yang diajarkan di pondok pesantren semuanya terdiri dari materi agama yang langsung digali dari kitab-kitab klasik yang berbahasa Arab. Akibat perkembangan zaman dan tuntutannya, tujuan pondok pesantren pun bertambah dikarenakan peranannya yang signifikan, tujuan itu adalah. (d) Berupaya meningkatkan pengembangan masyarakat diberbagai sektor kehidupan. Namun sesungguhnya, tiga tujuan terakhir adalah manifestasi dari hasil yang dicapai pada tujuan pertama, tafaqquh fid-din.[7]
Selain sebagai lembaga yang membentuk moral, pesantren juga sebagai salah satu lembaga pendidikan yang memberikan solusi bagi para peserta didik dan orang tua dalam hal memberikan pendidikan yang murah tetapi tetap memiliki kualitas yang tak kalah dengan lembaga-lembaga lain.
Pembentukan moral di pesantren tidak bisa dilepaskan dari sumber materi dan model pembelajaran yang diterapkan dalam proses pembelajaran di pesantren. Sumber materi yang ada dipesantren adalah al-qur’an, hadits dan kitab-kitab kuning yang merupakan karya para ulama’ terdahulu.
Kitab kuning merupakan sumber ilmu pengetahuan yang berharga bagi umat manusia, karena banyak tokoh muslim yang menulis karya-karyanya kedalam bentuk kitab kuning, misalnya: Ibnu Al-Haitham, Al-Mawardi, Ibnu Sina, Al-Ghazali
Ibnu Al-Haitham merupakan seorang fisikawan terkemuka dan sangat berjasa dibidang optik. Karyanya menunjukkan kemajuan yang pesat dalam penggunaan metode eksperimental. Karya utamanya, Kitab Al-Manazir (optik) merupakan deskripsi ilmiah tentang mata.[8]
Al-Mawardi merupakan seorang yang banyak bergelut dengan dunia politik. Karya utamanya adalah Kitab Al-Ahkam Al-Sulthaniyah (Kitab tentang Prinsip-Prinsip Pemerintahan), sebuah karya tentang etika dan Kitab Adab al-Dunya wa al-Din.[9]
Ibnu Sina paling dikagumi karena karyanya Kitab al-Sifa (kitab tentang penyembuhan) yang didalamnya ia membagi pengetahuan praktis kedalam etika, ekonomi dan politik serta pengetahuan teoritis kedalam fisika, matematika dan metafisika.[10]
Al-Ghazali, karya-karya utama Al-Ghazali yang lain adalah Kitab Tahafut al-Falasifah (Kerusakan atau kesia-siaan atau inkoherensi para filosuf).[11]
Pembelajaran kitab kuning sebagai wahana untuk menyalurkan dan mengkaji karya para ulama’ dan cendikia muslim yang dilakukan oleh pesantren-pesantren amatlah baik bagi perkembangan pemikiran dan moral para penerus islam dikemudian hari, misalnya: mengenai masalah kedokteran, para penerus islam dapat mempelajari kitab karya dari Ibnu Sina, mengenai masalah akhlak, para penerus islam dapat mempelajari kitab karya imam Al-Ghazali dan mengenai masalah fiqih, para penerus islam dapat mempelajari kitab karya imam Syafi’i.
Namun, pembelajaran kitab kuning tersebut akan menjadi kurang terarah dan tepat sasaran, jika model pembelajaran yang diterapkan dalam proses pembelajaran tersebut tidaklah tepat, misalnya: dalam penggunaan metode pembelajaran yang kurang sesuai, penyusunan materi yang kurang sistematis dan minimnya alokasi waktu.
Kekurang terarahan dan kekurang tepatan proses pembelajaran kitab kuning ini bisa diatasi dengan cara para pendidik, baik itu: kyai, ustadz serta pihak-pihak yang terkait dengan proses pembelajaran terlebih dahulu membuat perencanaan yang terkait dengan materi yang akan diajarkan kepada para peserta didik.
Untuk itulah, maka penelitian dengan judul  Pengembangan Pembelajaran Kitab Kuning dengan mengambil lokasi penelitian di Pesantren Luhur Malang perlu dilakukan. Sebab pesantren tersebut memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh pesantren-pesantren lainnya. Pertama, syarat bagi peserta didik yang ingin menetap di pesantren Luhur Malang haruslah seorang mahasiswa, minimal lulusan Aliyah, SMA atau yang sederajat. Kedua, latar belakang yang dimiliki oleh para santri yang berbeda-beda. Ketiga, keterbatasan lokasi yang tersedia di Pesantren Luhur Malang. Keempat, kurang terstrukturnya sistem pendidikan yang diterapkan di Pesantren Luhur Malang.
Disamping itu, peneliti juga ingin melanjutkan  penelitian-penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh beberapa penulis lainnya, yaitu: (1) Ria Risnawati melakukan penelitian mengenai Pembaharuan Sistem Pendidikan Pondok Pesantren (Upaya Pondok Pesantren dalam Menghadapi Era Globalisasi) yang diantara hasilnya menyatakan bahwa: dalam era globalisasi ini pondok pesantren yang telah melakukan pembaharuan dalam sistem pendidikannya, diantaranya adalah dengan mengadakan pembaharuan dalam tujuan, kurikulum, metode, manajemen, sarana prasarana dan tenaga pendidikan.[12] (2) Aslanik yang melakukan penelitian tentang Reformasi Sistem Pengajaran di Pondok Pesantren (Studi Kasus Di Pondok Pesantren Bustanul Makmur Genteng Banyuwangi) yang menyatakan bahwa: Proses reformasi sistem pengajaran di Ponpes BUMA diadakan dengan bertahap Pertama, pengasuh mensosialisasikan kepada seluruh komponen pesantren. Kedua, melakukan perbaikan terhadap sumber daya manusia dengan mengadakan penataran tentang garis-garis pembaharuan. Ketiga, menyusun metode dan kurikulum baru, kemudian menyusun job diskripsi pelaksanaannya.[13] (3) Kurniatul Fauziah yang meneliti tentang Aplikasi Psikologi dalam Pengembangan Sistem Pendidikan dan Pengajaran di Pondok Pesantren Putri Al-Mubarok Merjosari Malang (Telaah Psikologi Pendidikan Tentang Metode Belajar Santri dalam Sistem Pendidikan dan Pengajaran) yang diantara hasilnya menyatakan bahwa: pengembangan sistem pendidikan dan pengajaran yang penerapannya pada pengembangan metode belajar santri di pondok pesantren putri Al-Mubarok telah diketahui dengan adanya aplikasi psikologi pendidikan dalam bentuk kolaborasi metode belajar santri dalam kategori sistem klasikal dan sistem non klasikal. Kedua kategori tersebut digabungkan sehingga menghasilkan corak metoda belajar yang spesifik.[14]
Berangkat dari penelitian-penelitian diatas, peneliti tertarik untuk meneliti perkembangan pembelajaran yang terjadi di pesantren, khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran kitab kuning yang merupakan salah satu ciri khas dari pesantren.


B.     Rumusan Masalah
Berlandaskan latar belakang yang telah diulas tersebut, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana bentuk pengembangan pembelajaran kitab kuning di Pesantren Luhur Malang.
2.      Kendala apakah yang dihadapi oleh Pesantren Luhur Malang dalam pengembangan pembelajaran kitab kuning.
3.      Upaya apakah yang dilakukan oleh Pesantren Luhur Malang untuk menghadapi kendala dalam pengembangan pembelajaran kitab kuning.

===================================  
Anda dapat memiliki word/file aslinya
Silahkan download file aslinya setelah menghubungi admin….. klik disini
 Hanya mengganti biaya administrasi pengelolaan webite sebesar,  50.000,- MURAH Meriah
                                                     Anda tidak repot lagi mencari referensi.
                                                     Di jamin asli.contohmakalah








[1]               Zuhairini, dkk. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 1
[2]               Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IV/MPR/1999 Tentang: GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara) Tahun 1999-2004 Beserta Perubahan Pertama Undang-Undang Daasar negara Republik Indonesia Tahun 1945 Beserta Susunan Kabinet Persatuan nasional Masa Bakti 1999-2004 (Surabaya: Arkola), hlm. 40
[3]               Zuhairini, dkk, loc. cit.
[4]               Zuhairini, dkk, op. cit., hlm. 2
[5]               Eko Prasetyo, Orang Miskin Dilarang Sekolah (Yogyakarta: Resist Book, 2004),  hlm. 39
[6]               Abdul Munir Mulkan, Nalar Spiritual Pendidikan, Solusi Problem Filosofi Pendidikan Islam (Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 2002), hlm. 186
[7]               Departemen Agama RI, Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Pertumbuhan dan Perkembangannya (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2003), hlm. 9
[8]               Bugene A. Myers, Zaman Keemasan Islam, Para Ilmuwan Muslim dan Pengaruhnya Terhadap Dunia Barat (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2003), hlm. 35
[9]               Ibid, hlm. 36
[10]             Ibid, hlm. 37
[11]             Ibid, hlm. 51
[12]             Ria Risnawati, “Pembaharuan Sistem Pondok Pesantren (Upaya Pondok Pesantren dalam Menghadapi Era Globalisasi)”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah UIN Malang, hlm. 99
[13]             Aslanik, “Reformasi Sistem Pengajaran di Pondok Pesantren (Studi Kasus Bustanul Makmur Genteng Banyuwangi)”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah UIN Malang 2002, hlm. 98
[14]             Kurniatul Fauziyah, “Aplikasi Psikologi dalam Pengembangan Sistem Pendidikan dan Pengajaran di Pondok Pesantren Putri Al-Mubarok Merjosari Malang (Telaah Psikologi Pendidikan Tentang Metode Belajar Santri dalam Sistem Pendidikan dan Pengajaran), Skripsi, Fakultas Tarbiyah UIN Malang, hlm. 96

No comments:

Post a Comment

Post a Comment

1

2










                 KLIK

translet


Tags

tempat sharing

Blog Archive

Blog Archive