SILAHKAN GUNAKAN FASILITAS "SEARCH" pojok kanan atas
untuk mencari judul skripsi yang di inginkan

pemesanan => Hub: 0857-351-08864

Thursday, November 10, 2011

nilai-nilai ajaran islam dalam paket wayang syadat | Contoh Skripsi


Penulis : -
Kode    : 089
Judul    : nilai-nilai ajaran islam dalam paket wayang syadat” (studi kasus transformasi niali-nilai ajaran islam melalui pertunjukan wayang syadat di dusun gentong-singosari-malang)
-------------------------------------------------

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah


إِنَّ الِّديْنَ عِنْدَ اللهِ اْلإِسْلاَمُ

Artinya : “Sesungguhnya agama (yang diridloi) disisi Allah hanyalah Islam” (Al               Qur’an Surat Al Imran : 19[1])
Pada ayat tersebut ada kata yang berbunyi “Ad-diin” yang artinya adalah agama. Upaya untuk memberikan defenisi tentang agama[2] dapat didekati diantaranya dari segi bahasa dan komponen-komponen yang ada atau harus ada dalam agama. Dari segi bahasa, di samping kata “agama” kita juga mengenal istilah “din” dan “relegi” yang pada umumnya dianggap mempunyai pengertian yang sama.
“Agama” berasal dari bahasa sankrit, yang mempunyai arti tidak pergi, tidak kocar-kacir, tidak rusak, tetap ditempat dan diwarisi turun temurun. Sedangkan “din” dalam bahasa semit berarti undang-undang atau hokum. Dalam bahasa arab kata ini mengandung arti menguasai, menungdukan, patuh, utang, balasan, kebiasaan. Dan kata “Religi” berasal dari bahasa latin, yang mempunyai arti mengumpulkan, membaca dan mengikat.

Jadi dari ketiga artian yang menilik dari sudut bahasa dapat diambil suatu kesimpulan bahwa agama merupakan suatu ajaran yang bersifat tetap dan diwariskan secara turun temurun, mempnyai kitab suci yang berfungsi sebagai tuntunan hidup bagi penganutnya dan didalamnya terdapat peraturan-peraturan hokum yang harus dipatuhi.Contoh Skripsi
Selain itu kata tersebut juga menyebut kata”Al-Islam” yang mana kata tersebut oleh para bahasa Arab dinyatakan berasal dari kata “aslama”, berarti “patuh” dan “menyerahkan diri”. Kata ini berakar dari kata “slim”, berarti “selamat dan sejahtera”, mengandung pengertian”damai”. Berarti orang yang menyatakan dirinya Islam atau berserah diri, tunduk dan patuh kepada kehendak penciptaNya disebut muslim.Contoh Skripsi
Al-Qur’an menggunakan kata Islam diberbagai tempat dengan pengertian yang berbedaa-beda, namun pada prinsipnya  mengarah pada pengertian yang sama[3]. Membahas tentang agama, maka tidak terlepas dari apa yang dinamakan Pendidikan Agama Islam, sebab padda dasarnya Al-Qur’an mengajarkan kepada kita semua tentang kehidupan baik kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat, sehingga pendidikan agama menjadi penting dalam mentransformasikan nilai-nilai ajarab Islam.
Sebenarnya sosialisasi tentang ajaran (pendidikan) Islam sudah diawali oleh Nabi dan Rasull dengan cara berdakwah yang semua itu merupakan tugas pokok para Rasull, dan memang mereka dibangkitkan untuk berdawah. Para Rasull tanpa terkecuali ditugaskan berdakwah kepada kaumnya agar mereka beriman kepada allah SWT dan beribadah kepada-Nya. Didalam Islam juru dakwah yang pertama kalinya adalah Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِداً وَمُبَشِّراً وَنَذِيْراً وَدَاعِياً إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجاً مُّنِِيْرًا (الأحزاب: 45)

Artinya : “Hai Nabi ! aku mengutus engkau sebagai saksi atas ummat dan untuk memberi kabar suka dan kabar takut. Dan untuk menyeru manusia kepada agama Allah dengan izin-Nya serta menjadi pelita yang menerangi”. (S. Al-Ahzab:45[4]) Contoh Skripsi

Kalau diatas disebutkan bahwa dakwah adalah tugas pokok para Rasull maka umat manusia yang berstatus sebagai ulama’ adalah pembantu para Rasull dalam menyampaikan dakwah. Karena itu, kendatipun nampaknya perintah itu ditujukan kepada Rasulullah, namun perintah tersebut mencakup kepada umat seluruhnya. Allah SWT berfirman :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أَخْرَجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ باِلْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ.......
(أل عمران:.11)
Artinya : “Adalah kamu sebaik-baik umat, yang dilahirkan untuk manusia, supaya kamu menyuruh mengerjakan kebaikan dan melarang berbuat kejahatan…”. (S.Ali Imran:110)Contoh Skripsi

Didalam ayat tersebut setidaknya memberikan dua pengertian : (1) Menerangkan tentang kebaikan umat, dan (2) Kebaikan umat itu karena tugasnya menyuruh dan mengajak berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari berbuat mungkar.
Dari situ jelaslah bahwa tugas dakwah dalam menyampaikan ajaran agama nerupakan tugas kita semua sebagai umat Islam. Didalam hal kita mnyampaikan dakwah diperlukan suatu metode yang tepat dengan tujuan agar segala materi atau pun hal-hal yang ingin kita sampaikan bias diterima dan difahami oleh masyarakat sebagai obyek dari dakwah.Contoh Skripsi
Didalam Al-Qur’an Allah telah mengajarkan metode dakwah yangcukup efektif. Hal tersebut tercantum dalm surat An-Nahl ayat 125 yang berbunyi :
ُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكِ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِى هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ.

Artinya : “serulah (manusia) kepada jalan tuhanmu dengan hikmahdan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka engan cara yang baik, sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang tekah mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (S.An Nahl:125)
Didalam ayat tersebut tercantum kata “Hikmah” yang oleh Abdullah Syihata diterjemahkan bahwa: Contoh Skripsi
“Hikmah adalah memperhatikan situasi dan kondisi sasaran dakwah, materi yang dijelaskan pada setiap kali dakwah tidak meberatkan yang dituju, janganlah dibebani dengan sesuatu yang memberatkan sebelum jiwa menerimanya, banyak cara yang ditempuh untuk mengajak mereka sesuai menurut keadaanya, tidak perlu menggebu-gebu dan bernafsu sekali, karena semua itu melampaui batas hikmah”.[5]

Sedangkan kata Mauidhah Hasanah Ia menjelaskan bahwa :
“Pelajaran yang baik akan dapat masuk dengan lembut kedalam hati, dan mendalami perasaan dengan halus tanpa kekerasan dan kemarahan pada yang tidak perlu. Janganlah mengungkit kesalahan yang telah mereka lakukan tanpa disadari atau tidak disengaja, dengan peringatan yang lembut kebnagyakannya dapat memberi petubjuk bagi hati yang ingkar keras dan menantang”[6].

Di dalam hal tersebut banyak sekali metode yang banyak digunakan dalam penyampaianya, bisa dengan ceramah, berdiskusi, ataupun dengan yang lain, bahkan dengan huburan pun metode tersebut dapat dilakukan misalnya dalam pertunjukkan wayang. Di dalam perwayangan selain nilai estetika disitu juga terkandung nilai etika, dengan kata lain perwayangan adalah sebagai tontonan sekaligus dijadikan tuntunan.
            Sebagaimana suatu kebudayaan yang di dalamnya selalu mengandung ajaran-ajaran bagaimana hidup itu harus dijalani, dalam wayang pun terkandung. Ajaran-ajaran Jawa yang mengharpkan bagaimana hidup itu harus dijalani. Sebagian besar isinya adalah gambaran mengenai konflik antara pembela kebenaran dengan pengacau tatanan kehidupan, selain itu juga di sampaikan ajaran-ajaran yang menuntun manusia kepada kehidupan yang sesuai dengan kehendak Tuhan sebagai pemilik dan penguasa alam. Mengenai hal tersebut sesuai dengan pendapat Kanti Walujo yang mengatakan bahwa :
“Wayang adalah refleksi dari budaya Jawa, dalam arti pencerminan dari kenyataan kehidupan, moralitas, harapan, dan cita-cita kehidupan orang Jawa. Melalui cerita wayang masyarakat Jawa memberi gambaran kehidupan mengenai bagaimana hidup sesungguhnya dan bagaimana hidup itu seharusnya. Sebab dalam wayang ada tokoh-tokoh yang emosional, egoistic, agresif permisif, keras kepala, selalu ingin berkuasa, yang bijak, baik hati,selalu menolong, selalu bertenggang rasa, yang selalu menghindari konflik, sabar humoris dan sebagainya”[7]

Namun di era modern sekarang ini pertunjukan wayang kuranglah digemari oleh masyarakat, hal tersebut disebabkan oleh terdesaknya budaya popular dari luar yang terus mekar dengan segala nilai yang kebarat-baratan. Namun apabila kita jeli terhadap seluk beluk dalam suatu pagelaran wayang, lebih-lebih dalang sebagai sutradara dalam pertunjukan tersebut bisa mengkolaburasikan nilai-nilai budaya mereka (budaya Barat) dengan budaya Jawa yang tentunya tidak terlepas dari norma dan nilai-nilai agama, budaya mana yang dianggap baik yang bisa kita contoh dan mana yang kita anggap buruk yang tidak perlu kita contoh, maka pertunjukan wayang diharapkan akan mempunyainilai lebih dari apa yang mereka sajikan, sebab pagelaran wayang merupakan pertunjukan yang komprehensif. Dalam kaitan ini Kanti Walujo  dalam bukunya mengatakan:
“Kita harus menilai wayang suatu karya seni, tetapi harus ditempatkan dalam kerangka kesenian yang memiliki karakteristik yang komplit bila dibandungkan dengan karya-karya seni yang lainya. Wayang adalah karya seni komprehensif yang melibatkan karya-karya seni lainnya seperti vokal, seni musik, seni tari, dan lukis”.[8]

Tetapi kita juga tidak boleh melihat dengan sebelah mata, walaupun kenyataan seperti yang telah tergambar di atas, namun pada daerah-daerah tertentu (di daerah pedesaan misalnya) disana pagelaran wayang masih sangat di gemari oleh masyarakat, bahkan disaat mereka mengadakan  suatu kegiatan, maka kegiatan tersebut dapat dikatakan belum lengkap tanpa adanya suara-suara gamelan. Justru mereka menganggap gamelan-gamelan tersebut merupakan suatu panggilan bagi mereka ketika adanya suatu kegiatan.
Maka pada penulisan skripsi ini kami ingin mendiskripsikan tentan nilai-nilai yang terkandung dalam pagelaran ayang yang mana hal tersebut digunakan sebagai pendekatan secara kiltural dalm penyampaian ajaran-ajaran Islam terhadap masyarakat dalam kaitanya dengan cakupan wayang dalam nilai estetika dan etika (sebagai tontonan dan tuntunan)
Deskripsi tersebut akan dipaparkan dalam sebuah judul “Nilai-nilai Ajaran Islam Dalam Paket Wayang Syadat” (Studi Kasus Transformasi Niali-nilai Ajaran Islam Melalui Pertunjukan Wayang Syadat di Dusun Gentong-Singosari-Malang).

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas, maka masalah pokok yang akan diteliti dan dibahas dalam penulisan skripsi ini adalah bagaimana sesungguhnya kesuksesan Wayang Syadat yang dinilai efektif dalam menyampaikan pendidikan atau ajaran Islam kepada masyarakat (dalam hal ini adalah masyarakat dusun Gentong) yang dinilai masih tradisional.
       Selanjutnya masalah ini diperinci menjadi sub-sub masalah sebagai berikut:
1.         Apakah tujuan pembentukan Wayang Syadat.Contoh Skripsi
2.        Bagaimana efektifitas Wayang Syadat dalam mentransformasikan nilai-nilai ajaran Islam pada masyarakat dusun Gentong.Contoh Skripsi
Dari jawaban pertanyaan diatas maka akan dapat diketahui bagaimana sesungguhnya seni Wayang Syadat dapat menjadi media pendidikan, khususnya dalam pendidikan (ajaran) Islam pada masyarakat dusun Gentong.
  
===================================    
Anda dapat memiliki word/file aslinya
Silahkan download file aslinya setelah menghubungi admin….. klik disini
 Hanya mengganti biaya administrasi pengelolaan webite sebesar,  50.000,- MURAH Meriah
                                                     Anda tidak repot lagi mencari referensi.
                                                     Di jamin asli.contohmakalah




[1] Al-Qur’an dan Terjemah, Departemen Agama RI, Juli 1989, hal. 78
[2] Defenisi tentang agama ini banyak diambil dari Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Universitas Indonesia (UI) Press Jakarta 1997, hal. 9
[3] Misalnya pada QS. 3:80 (mengartikan Islam kebalikan dari kafir), QS. 6:14 (mengartikan Islam kebalikan dari syirik), QS. 39:54 (mengartikan Islam berserah diri kepada Allah), Qs. 4:125 (mengartikan Islam dengan tunduk dan Iklas kepada Allah)
[4] Al-Qur’an dan Terjemah, Departemen Agama RI, Juli 1989, hal. 675
[5] Abdul Karim Zaidan, Dasar- Dasar (2) Ilmu Dakwah . Jakarta. 1980
[6] Abdullah Syihata, Dakwah Islamiyah, Proyek pembinaan Prasarana Dan Sarana Perguruan tinggi Agama /IAIN Di Jakarta  Direktorat  Jendral  Pembinaan  Kelembagaan  Agama  Islam,  1986,  hal. 06    
[7] Kanti Walujo, Dunia Wayang , Nilai Estetis, Sakralitas Dan Ajaran Hidup, Pustaka Pelajar (Anggota IKAPI ) Yogyakarta,2000, cet I, hal. 6-7
[8] I b i d, hal. 5

No comments:

Post a Comment

Post a Comment

1

2










                 KLIK

translet


Tags

tempat sharing

Blog Archive

Blog Archive