SILAHKAN GUNAKAN FASILITAS "SEARCH" pojok kanan atas
untuk mencari judul skripsi yang di inginkan

pemesanan => Hub: 0857-351-08864

Thursday, November 10, 2011

aplikasi pendekatan konstruktivistik pada pembelajaran pendidikan agama islam dalam meningkatkan kreativitas belajar siswa | Contoh Skripsi


Penulis : -
Kode    : 091
Judul    : aplikasi pendekatan konstruktivistik pada pembelajaran pendidikan agama islam dalam meningkatkan kreativitas belajar siswa smp negeri i singosari malang


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan mempunyai peranan yang amat menentukan bagi perkembangan dan perwujudan diri individu, terutama bagi pembangunan bangsa dan negara. Kemajuan suatu kebudayaan tergantung pada cara kebudayaan tersebut mengenali, menghargai, dan memanfaatkan sumberdaya manusia dan hal ini berkaitan dengan kualitas pendidikan yang diberikan kepada anggota masyarakatnya, kepada peserta didik (Utami Munandar, 2002: 4).
1
 
Pendidikan bertanggung jawab untuk memandu (yaitu mengidentifikasi dan membina) serta memupuk (yaitu mengembangkan dan meningkatkan) bakat dan kreativitas yang ada pada mereka yang berbakat istimewa atau memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa (gifted and talented). Dulu orang mengartikan "orang berbakat" sebagai orang yang memiliki tingkat kecerdasan (IQ) yang tinggi. Namun sekarang makin disadari bahwa yang menentukan keberbakatan bukan hanya intelegensi (kecerdasan) melainkan juga kreativitas, dan pengikatan diri terhadap tugas (task commitment) atau motivasi untuk berprestasi (Utami Munandar, 2002: 6). Renzulli (1981) dalam Utami Munandar, mengungkapkan bahwa kreativitas atau daya cipta memungkinkan munculnya penemuan-penemuan baru dalam bidang ilmu dan teknologi, serta dalam semua bidang usaha manusia lainnya (1999: 6).
Menurut Rachman (2003) dalam Muhaimin diantara titik lemah pendidikan di Indonesia adalah bahwa keberhasilan pendidikan hanya diukur dari keunggulan ranah kognitif dan nyaris tidak mengukur ranah afektif dan psikomotorik (2003: 70). Dalam konteks pendidikan di sekolah, kelemahan tersebut bukan pada PAI saja akan tetapi juga dialami oleh seluruh mata pelajaran.
Kegagalan Pendidikan Agama Islam tersebut setidak-tidaknya disebabkan karena mengalami kekurangan dalam dua aspek yang mendasar, yaitu:Contoh Skripsi
  1. Pendidikan agama masih berpusat pada hal-hal yang bersifat simbolik, ritualistik, serta bersifat legal formalistik (halal-haram) dan kehilangan ruh moralnya.
  2. Kegiatan Pendidikan Agama Islam cenderung bertumpu pada penggarapan ranah kognitif dan paling banter hingga ranah emosional, (kadang-kadang terbalik, hanya menyentuh ranah emosional tanpa memperhatikan ranah intelektual), tetapi tidak dapat menjadikannya dalam tindakan nyata akibat tak tergarapnya psikomotorik (Muhaimin, 2003: 71).Contoh Skripsi
Sebagaimana diketahui bersama, bahwa porsi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah umum atau madrasah semakin dirampingkan. Untuk sekolah umum sekitar 2-3 jam pelajaran, sedangkan untuk madrasah adalah 5-6 jam pelajaran efektif perminggu. Dengan adaya perampingan tersebut maka guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) diharapakan untuk dapat memanfaatkan waktu seefektif dan seefisien mungkin dalam mengejar kualitas hasil pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi peserta didiknya (Muhaimin, 2003: 73). Contoh Skripsi
1
 
Berbicara masalah lemahnya pendidikan agama kita saat ini adalah sangat penting, kita selalu mencari dan ingin menemukan konsep bagaimana untuk mengembangkan pengetahuan, kemandirian, keberanian, kecerdasan serta kreativitas peserta didik dengan proses pembelajaran yang menyenangkan. Karena itu pendekatan pembelajaran adalah hal yang paling pokok guna menemukan sebuah solusi untuk menggali potensi yang ada pada peserta didik.
Proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh dua pihak yang keduanya berperan sebagai subyek, yakni siswa berperan sebagai pembelajar dan guru yang berperan sebagai pengajar. Pembelajar melakukan kegiatan belajar sedangkan pengajar melakukan kegiatan mengajar. Kita belajar dan mengajar  bermakna aktif, artinya subyek yang melekat pada kedua kata tesebut sama-sama melakukan aktivitas, yang berupa aktivitas fisik maupun mental. Dengan demikian proses pembelajaran akan berjalan secara dua arah, tidak satu arah (A. Saepul Hamdani, 2003: 1).Contoh Skripsi
Kenyataan membuktikan bahwa siswa lebih berperan sebagai obyek, dan guru lebih berperan sebagai subyek. Bahkan sering terjadi, siswa lebih dikatakan sebagi kutub yang dikuasai, sedangkan guru pada posisi yang menguasai. Pusat belajar berada pada guru, sedangkan siswa berada pada posisi sebagai obyek yang diajar. Sistem dan suasana pembelajaran lebih diciptakan oleh guru sebagai "penguasa". Kegiatan pembelajaran diatas kurang bisa membangun peserta didik, terutama pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Karena peserta didik hanya diarahkan oleh guru, sehingga kreativitas yang dimiliki oleh setiap siswa (peserta didik) tidak dapat berkembang karena dihalang-halangi oleh guru sebagai "penguasa" di dalam proses pembelajaran.Contoh Skripsi
Apabila hal ini terjadi terus menerus dan tidak terjadi perubahan maka hasil dari pendidikan tidak bisa diharapkan sesuai dengan tujuan dari pendidikan nasional yang tercantum pada Undang-Undang no. 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional, yaitu:
Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis.

Saat ini proses pendidikan kurang memperhatikan dan melibatkan potensi yang ada pada diri peserta didik termasuk didalamnya tidak menggali kreativitas yang ada dalam diri peserta didik itu sendiri. Pendidikan Agama Islam, saat ini juga mengalami hal yang sama, disamping kurangnya jam pelajaran juga kurang efektifnya metode maupun pendekatan yang digunakan. Contoh Skripsi
Pendidikan Agama Islam menggunakan pendekatan yang cenderung normatif, dalam arti pendidikan agama menyajikan norma-norma yang seringkali tanpa ilustrasi konteks sosial budaya sehingga peserta didik kurang mengahayati nilai-nilai agama yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Kurikulum Pendidikan Agama yang dirancang di sekolahpun sebenarnya lebih menawarkan minimum kompetensi ataupun informasi, tetapi pihak guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) sering kali terpaku pada kurikulum tersebut (Muhaimin, 2002:89).
Untuk meningkatkan kreativitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam maka perlu dirancang suatu pendekatan dan metode yang tepat agar pendidikan Agama Islam dapat berhasil dengan baik. Dalam hal ini suatu pendekatan yang tepat adalah dengan menggunakan pendekatan konstruktivistik, karena konstruktivisme berpandangan bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang nyata, dan pengetahuan itu merupakan kegiatan aktif pelajar yang meneliti lingkungannya (Paul Suparno, 2001: 62). Dengan demikian, belajar dimaknai sebagai proses membangun gagasan baru secara terus menerus atau memodifikasi gagasan lama dalam struktur kognitif yang senantiasa disempurnakan.Contoh Skripsi
Jika dikaitkan dengan proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di tingkat sekolah (SMP, SMA), bahwa pada saat ini Pendidikan Agama Islam masih mengarah pada "pengetahuan tentang Agama Islam". Proses internalisasi dan aplikasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari siswa justru kurang mendapat perhatian. Internalisasi nilai-nilai Islam pada siswa bukanlah hal yang sederhana, sebab pada kenyatannya ketika nilai-nilai itu sudah dipahami oleh siswa tidak secara otomatis muncul pada perilaku. Mungkin saatnya dikaji ulang pendekatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam ditingkat sekolah umum.
Pendekatan pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai alternatif untuk proses internalisasi Islam adalah pembelajaran yang di dalamnya mengakomodasikan keterlibatan siswa secara fisik maupun mental. Pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan konstruktivistik. Karena dalam pendekatan ini siswa diberi kesempatan untuk membangun gagasan-gagasan baru dan memperbaharui gagasan-gagasan lama yang sudah ada struktur kognitifnya.
Konstruktivistik merupakan landasan berpikir (filosofi), yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) (Nurhadi, 2004: 32). Prinsip-prinsip konstruktivisme telah bayak digunakan dalam pendidikan. Prinsip-prinsip itu berperan sebagai referensi dan refleksi kritis terhadap praktek, pembaharuan, dan perencanaan pendidikan. Adapun prinsip-prinsip yang sering diambil dari konstruktivisme adalah : (1) pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif; (2) tekanan dalam proses belajar terletak pada siswa; (3) mengajar adalah membantu siswa belajar; (4) tekanan dalam proses belajar lebih pada proses bukan pada hasil akhir; (5) kurikulum menekankan partisipasi siswa; (6) guru adalah fasilitator (Paul suparno, 2001: 73).Contoh Skripsi
Menurut Leo Sutanto dalam Sumartana, dalam pendekatan konstruktivistik, kelas dipandang sebagai suatu kelompok anggota masyarakat ilmiah yang mencari kebenaran melalui pertanyaan, perbincangan dan bahkan negosiasi antar peserta didik, dan bukan lagi pengajar memindahkan pengetahuan, tetapi peserta didik yang mencari pengetahuan (2001: 214).
Pengetahuan bukan sesuatu yang dapat dialihkan begitu saja. Pengetahuan merupakan hasil konstruksi seseorang yang belajar yang bersifat sangat individual. Komunikasi di kelas bukan hanya sebagai suatu pemberitahuan, tetapi merupakan suatu hasil negosiasi antar sesama teman dan pengajar (Leo Sutanto dalam Sumartana, 2001: 214).
Dalam pendekatan konstruktivistik, evaluasi juga tidak lagi dipandang sebagai proses reproduksi pengetahuan untuk menunjukkan bahwa peserta didik telah diberi pelajaran. Yan de Lange (1987), mencirikan evaluasi dalam tradisi pendekatan konstruktivistik harus dapat meningkatkan belajar (Leo Sutanto dalam Sumartana, 2001: 215), dalam hal ini adalah kreativitas belajar siswa pada pembelajaran PAI.
Kegiatan pembelajaran PAI dengan pendekatan konstruktivistik membiasakan peserta didik menghargai konsepsi atau pandangan orang lain. mereka dilatih untuk menilai konsepsi orang lain. mereka dibiasakan menerima konsepsi orang lain apabila memang lebih "baik" daripadanya. Mereka akan berlatih saling beragumentasi untuk memilih konsepsi yang terbaik diantara konsepsi mereka masing-masing (Leo Sutanto dalam Sumartana, 2001: 216).
Apabila peserta didik dibudidayakan dalam kerangka berpikir semacam ini sejak hari pertama menginjakkan kaki di sekolah niscaya mereka akan mampu mengembangkan berpikir yang mandiri. Mereka akan berpikir argumentatif untuk memilih yang terbaik (yang paling jelas, paling masuk akal, paling banyak manfaatnya). Mereka tidak lagi mencari yang benar atau berpura-pura benar agar tidak berada dalam posisi terancam (Leo Sutanto dalam Sumartana, 2001: 218).
Apabila kita melihat proses pendidikan saat ini sangat jauh dengan prinsip-prinsip yang ditawarkan oleh konstruktivistik. Dari pengalaman belajar cukup jelas bahwa ada beberapa guru yang menjadi diktator, dengan mengklaim bahwa jalan yang ia berikan adalah satu-satunya yang benar. akibatnya mereka menganggap salah semua pemikiran dan jalan yang digunakan murid bila tidak cocok dengan pemecahan guru. Cara tersebut itu akan mematikan kreativitas dan pemikiran murid dan hal inilah yang berlawanan dengan prinsip konstruktivisme (Paul Suparno, 2001: 69). Karena menurut kaum konstruktivis mengajar bukanlah memindahkan pengetahuan dari guru ke murid, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti berpartisipasi dengan pelajar dalam membentuk pengetahuan membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis dan mengadakan justifikasi. Jadi belajar adalah suatu bentuk belajar sendiri (Paul Suparno, 2001: 65).
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam sangat mungkin diajarkan dengan prinsip-prinsip konstruktivisme, karena ketika siswa memahami konsep-konsep tentang agama dapat dimulai dari fenomena-fenomena yang muncul disekitar lingkungan siswa. Dari fenomena yang muncul di lingkungan tersebut siswa akan mencoba mengkonstruksikan melalui pengalaman-pengalaman yang pernah dialami. Guru hanya sekedar memandu dan mengarahkan apa yang dirancang oleh siswa. Sehingga dengan demikian kreativitas berpikir murid akan terbentuk melalui pemikiran-pemikiran yang telah dirancang sendiri oleh siswa tersebut, karena menurut aliran konstruktivis, pengajar atau guru berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar murid berjalan dengan baik (Paul Suparno, 2001: 65). Kegiatan ditekankan pada siswa yang belajar dan bukan pada disiplin ilmu ataupun guru yang mengajar, jadi dengan sendirinya kreativitas siswa melalui pendekatan ini akan terbentuk dan berkembang.
Dalam penelitian ini peneliti mengambil obyek penelitian di SMP Negeri I Singosari Malang pada kelas VIII H, berdasarkan observasi awal yang dilaksanakan oleh peneliti, karena pembelajaran Pendidikan Agama Islam di lembaga ini masih menggunakan pendekatan tradisional. Dengan menggunakan pendekatan tersebut kreativitas siswa akan mati, karena siswa hanya berperan sebagai pendengar, pencatat dan merekam apa yang telah disampaikan oleh guru. Kreativitas siswa harus dibangun melalui suatu pendekatan yang cocok, yang dapat membantu siswa dalam mengembangkan kreativitas untuk dapat lebih maju. Dengan menggunakan pendekatan konstruktivistik inilah peneliti mencoba membangun kreativitas belajar siswa agar lebih maju dan kreatif khususnya pada Pendidikan Agama Islam.
Berangkat dari permasalahan diatas peneliti ingin mengetahui apakah aplikasi pendekatan konstruktivistik pada pembelajaran PAI dapat meningkatkan kreativitas belajar siswa Negeri I Singosari Malang.


B. Rumusan Masalah
Sebagaimana latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penulis memandang adanya permasalahan yang layak untuk diadakan penelitian lebih lanjut. Adapun rumusan masalah yang dimaksud adalah:
1.      Apakah aplikasi pendekatan konstruktivistik pada pembelajaran PAI dapat meningkatkan kreativitas belajar siswa kelas VIII H SMP Negeri I Singosari Malang?
2.      Bagaimana pola aplikasi pendekatan konstruktivistik pada pembelajaran PAI dalam meningkatkan kreativitas belajar siswa kelas VIII H SMP Negeri I Singosari Malang?

 
===================================    
Anda dapat memiliki word/file aslinya
Silahkan download file aslinya setelah menghubungi admin….. klik disini
 Hanya mengganti biaya administrasi pengelolaan webite sebesar,  50.000,- MURAH Meriah
                                                     Anda tidak repot lagi mencari referensi.
                                                     Di jamin asli.contohmakalah


No comments:

Post a Comment

Post a Comment

1

2










                 KLIK

translet


Tags

tempat sharing

Blog Archive

Blog Archive