SILAHKAN GUNAKAN FASILITAS "SEARCH" pojok kanan atas
untuk mencari judul skripsi yang di inginkan

pemesanan => Hub: 0857-351-08864

Saturday, December 24, 2011

peran tokoh masyarakat terhadap pengendalian pelacuran di desa penundan | Contoh Skripsi Psikologi

Penulis : -
Kode    : 114
Judul    : peran tokoh masyarakat terhadap pengendalian pelacuran di desa penundan
==============================================

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Semakin majunya jaman yang disebut sebagai hasil dari pembangunan
telah menyisakan berbagai perubahan gaya hidup dan memunculkan banyak
masalah sosial dalam masyarakat. Kartono (2001:206) menyampaikan,
berlangsungnya perubahanperubahan
yang serba cepat dan perkembanganContoh Skripsi Psikologi
yang tidak sama dalam kebudayaan menyebabkan adaptasi atau penyesuaian
diri menjadi hal yang tidak mudah, sehingga berakibat pada ketidakmampuan
banyak individu untuk menyesuaikan diri.
Kesulitan melakukan penyesuaian diri menyebabkan kebingungan,
kecemasan, dan konflikkonflik,
baik yang terbuka dan eksternal sifatnya,
maupun yang tersembunyi dan internal dalam batin sendiri; sehingga banyak
orang mengembangkan pola tingkah laku menyimpang dari normanorma
umum, atau berbuat semau sendiri, demi kepentingan sendiri, mengganggu
dan merugikan orang lain.
Ketidakmampuan banyak individu untuk menyesuaikan diri
mengakibatkan timbulnya disharmoni dalam masyarakat dan dalam diri
pribadi. Peristiwaperistiwa
tersebut diatas memudahkan individu menggunakan
polapola
responsi/reaksi yang inkonvensional dan menyimpang dari polapola
umum yang berlaku. Salah satunya adalah pola pelacuran, untuk
mempertahankan hidup ditengah hiruk pikuk alam pembangunan di Indonesia
(Kartono, 2001:206207).
2
Pelacuran merupakan bagian dari kegiatan seks diluar nikah yang
ditandai oleh kepuasaan seks dari bermacammacam
orang yang melibatkanContoh Skripsi Psikologi
beberapa pria, dilakukan demi uang dan dijadikan sebagai sumber pendapatan
(Koentjoro, 2004:36). Timbulnya masalah pelacuran sebagai gejala patologis
ialah: sejak adanya panataan relasi seks, dan diberlakukannya normanorma
perkawinan (Kartono, 2001:178).
Pelacuran di Indonesia telah terjadi sejak zaman kerajaan Majapahit.
Salah satu yang menunjukkan hal ini adalah kisahkisah
perselingkuhan dalam
kitabkitab
Mahabarata. Pada zaman kerajaan Mataram pelacuran malah
semakin meningkat. Label daerah “plesiran” yang disandangkan pada
Wonogiri dan Wonosari dapat dijadikan sebagai bukti. Pelacuran di Indonesia
semakin berkembang pada masa kolonial (Koentjoro, 2003:6162).
Pelacuran atau prostitusi muncul dan ada di tengahtengah


kehidupan
umat manusia dalam berbagai bentuk dan problematikanya sendirisendiri,
sesuai dengan tingkat perkembangan budaya atau adab manusia. Meskipun
pelacuran adalah masalah klasik, ternyata penanggulangannya sering
menemukan berbagai hambatan, sehingga dari hari ke hari tingkat
pertumbuhannya bukan menunjukkan penurunan tetapi sebaliknya
menunjukkan kenaikan yang cukup memprihatinkan. (Yahman, 1999:50).
Akhirakhir
ini, maraknya tempattempat
pelacuran yang merebak di
desadesa
dan tempattempat
sepanjang jalan besar yang dilalui oleh truk dan
kendaraan umum menarik untuk dikaji lebih jauh.Contoh Skripsi Psikologi
3
Kartono (2001:203) menyampaikan, di desa perbatasan yang dekat
dengan kotakota
dan tempattempat
sepanjang jalan besar yang dilalui truktruk
dan kendaraan umum sering dijadikan lokasi oleh wanitawanita
tuna
susila.
Praktek pelacuran yang dilakukan oleh para pelacur yang mengambil
daerah operasi di tempattempat
sepanjang jalan besar banyak dijumpai di
daerah sepanjang jalur pantura Kabupaten Batang seperti Desa Surodadi, Desa
Banyuputih, dan Desa Penundan. Banyaknya kendaraan yang parkir disinyalir
mempunyai hubungan yang positif dengan peningkatan kebutuhan seks di
daerah tersebut.
Keberadaan jalur pantura dengan arus transportasi dan mobilitas yang
tinggi di Kabupaten Batang memberikan kemungkinan yang cukup prospektif
di sector jasa tansit dan transportasi. Dengan kondisi tersebut Kabupaten
Batang mempunyai potensi yang tinggi untuk dijadikan sebagai tempat transit
terutama oleh berbagai kendaraan khususnya truk yang melintas dengan tujuan
yang relatif jauh (http://www.batangkab.go.id, diakses 07 Juni 2007).
Desa Surodadi, Desa Banyuputih, dan Desa Penundan merupakan lokasi
yang digunakan sebagai tempat untuk memarkir kendaraan khususnya truk. Di
Desa Banyuputih dan Desa Penundan terdapat pangkalan truk yang dikelola
oleh Dipenda setempat.
Mendengar nama Penundan, bagi masyarakat setempat atau masyarakat
dari daerah Weleri yang terbayang adalah tempat untuk mencari wanita
penghibur. Memang desa yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Gringsing
4
yang terletak di jalur pantura itu kini ditempati 250an
wanita yang berprofesi
sebagai PSK (pelacur). Hal ini tidak dapat dipisahkan karena Penundan yang
pada awalnya sebagai Pangkalan Truk itu kini lebih popular sebagai tempat
para lelaki hidung belang mencari kenikmatan (http://www.suaramerdeka.com
, diakses 20 November 2007).Contoh Skripsi Psikologi
Komplek pelacuran di Desa Penundan berada di sebelah utara
Pangkalan Truk Desa Penundan yang berada di jalur pantura Kecamatan
Gringsing. Komplek ini merupakan wilayah dari RT.01/RW.01 Desa
Penundan, terbagi dalam empat blok, dengan jumlah rumah sebanyak 126
rumah. Rumahrumah
yang ada disini umumnya adalah rumah milik warga
yang ditempati oleh para pemilik rumah atau rumah yang disewakan oleh
pemilik rumah. Hampir semua rumah yang ada disini digunakan sebagai
tempat praktek pelacuran. Para pelacur tinggal dan melakukan praktek
pelacuran dirumah yang sama. Beberapa rumah selain digunakan sebagai
tempat tinggal oleh penunggu atau pemilik rumah dan para pelacur, juga
digunakan sebagai tempat tinggal oleh keluarga dari penunggu atau pemilik
rumah. Rumahrumah
disini dilengkapi dengan perlengkapan untuk
berkaraoke, pada beberapa rumah memakai lampu sorot berbagai warna.
Mulai pukul 19.30 suara musik dengan berbagai lagu sudah mulai terdengar
dari tiaptiap
rumah; dan pada malam hari di tempat ini dapat ditemukan para
pria yang sedang mabuk karena pengaruh minuman keras.
Berdasarkan keterangan seorang supir truk dari daerah setempat,
diperoleh informasi para pelanggan dari komplek pelacuran di Desa Penundan
5
adalah supir dan kondektur truk, petani tembakau, pelaku tindak kriminal,
suamisuami
yang istrinya bekerja menjadi TKW di luar negeri, orangorang
dengan berbagai latar belakang lain.
Berdasarkan informasi dari ketua paguyuban di Desa Penundan
diketahui; para pelacur yang berdomisili di Desa Penundan merupakan warga
dari berbagai tempat, seperti Pati, Demak, Jepara, Kecamatan Bandar daerah
setempat, dan dari berbagai daerah lain.
Berdasarkan informasi dari Kepala Desa Penundan dapat diketahui
bahwa para germo/mucikari sebagian besar merupakan warga pendatang yang
berasal dari Kecamatan Bandar daerah setempat dan dari daerah Pati Jawa
Tengah.Contoh Skripsi Psikologi
Berdasarkan keterangan dari Ketua BPD Desa Penundan, diperoleh
informasi dengan keberadaan pelacuran di Desa Penundan, tidak ada warga
Desa Penundan yang terjerumus dalam pelacuran tersebut.
Imam menjelaskan jika memasuki Desa Penundan jangan heran jika
kehidupan religius di desa itu sangat kental. Sungguh menarik jika dicermati,
kehidupan yang bertolak belakang dapat hidup berdampingan. Satu sisi tempat
komunitas mangkal wanita penghibur, ternyata juga ada aktifitas rutin
kehidupan religius. Itu semua dapat kita lihat dari keberadaan masjid dan
mushola yang cukup megah dan terawat. Tidak hanya itu tetapi ditunjang
dengan kegiatankegiatan
seperti pengajian dan jamaah yasinan serta tahlil
yang rutin diadakan di RTRT
baik bapakbapak
maupun ibuibu.
Demikian
6
juga tingkat anak sampai dengan remaja tidak mau ketinggalan (
http://www.suaramerdeka.com, diakses 20 November 2007).
Berdasarkan keterangan dari tokoh agama Desa Penundan, diperoleh
informasi sebenarnya para tokoh agama merasa keberatan dengan keberadaan
pelacuran tersebut karena pelacuran merupakan kemungkaran. Namun ada hal
yang dirasa merepotkan, seperti orangorang
yang berjualan di tempat
tersebut. Hal itu memberi kesan seakanakan
warga semakin berbaur, akhirnya
ada kesan orangorang
di Desa Penundan kerepotan kalau tidak ada pelacuran.
Berdasarkan keterangan dari tokoh masyarakat Desa Penundan,
diperoleh informasi bahwa tingkat ekonomi dari sebagian besar warga Desa
Penundan adalah menengah kebawah. Kehidupan seharihari
masyarakatnyaContoh Skripsi Psikologi
adalah buruh tani yang tidak punya garapan tetap. Keberadaan pelacuran dapat
menambah inkam perekonomian baik untuk individu, kelompok, maupun
pemerintah. Yang jelas roda pemerintahan semakin lancar, kedepan untuk
kelompok juga ada manfaatnya, untuk individual bagi masyarakat juga
menopang dan menambah penghasilan.
Dalam Suara Merdeka 02 Desember 2006, tertulis dari data yang ada
diketahui Kabupaten Batang yang terkenal dengan wilayah alas roban
merupakan salah satu daerah dari 10 kabupaten/kota di Propinsi Jawa Tengah
yang menjadi prioritas penanganan HIV/AIDS, karena kuantitas temuan
penyakit tersebut. Data dari Komisi Penanggulangan AIDS telah ditemukan
33 orang terkena HIV dan satu korban dinyatakan meninggal dunia (
http://www.batangkab.go.id, diakses 17 Agustus 2007).
7
Berdasarkan sumber dari Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial
setempat dapat diketahui bahwa hasil sero survey (pemeriksaan darah) dari
tahun 20002006
ditemukan 33 wanita penjaja seks (pelacur) terkena HIV,
dengan perincian 6 pelacur berdomisili di Desa Banyuputih dan 27 pelacur
berdomosili di Desa Penundan (http://www.batangkab.go.id, diakses 17
Agustus 2007).
Bahaya tertular HIV/AIDS merupakan salah satu bahaya dari adanya
pelacuran. Bahaya pelacuran yang lain adalah penularan penyakit menular
seksual dan penyakit kulit, juga dampak negatif dari pelacuran terhadap
masyarakat. Pelacuran juga merupakan kemaksiatan; dalam banyak kasus
pelacuran disertai dengan miras, narkoba dan perjudian. Halhal
tersebut
diatas dapat memicu penolakan dari masyarakat terhadap keberadaan
pelacuran.
Hull, Sulistyaningsih, & Jones (dalam Hubarat, 2004:71) menyatakan,
pada masyarakat yang masih memegang adat ketimuran, pekerjaan sebagai
pekerja seks (pelacur) dipandang sebagai sesuatu yang tidak bermoral.
Akibatnya masyarakat terutama dari kalangan agama menolak dan mengecam
kegiatan pelacuran tersebut. Hudiono (dalam Hubarat, 2004:72) menyatakan,
Ironisnya dibalik penolakan masyarakat terhadap pelacuran, sebagian anggota
masyarakat yang lain juga menghendaki keberadaan pelacuran itu sendiri.
Berdasarkan kondisi yang telah disebutkan maka Peneliti berniat
melakukan penelitian lebih lanjut. Melalui penelitian ini Peneliti berharap
mendapatkan gambaran secara lebih luas mengenai penyebab keberadaan
8
pelacuran di Desa Penundan. Juga untuk mengetahui bagaimana peran tokoh
masyarakat terhadap pengendalian pelacuran di Desa Penundan. Maka topik
yang diangkat dalam penelitian ini adalah “peran tokoh masyarakat terhadap
pengendalian pelacuran di Desa Penundan”.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Mengapa terdapat pelacuran di Desa Penundan?
2. Bagaimana peran tokoh masyarakat terhadap pengendalian pelacuran di
Desa Penundan?


===================================    
Anda dapat memiliki word/file aslinya
Silahkan download file aslinya setelah menghubungi admin….. klik disini
 Hanya mengganti biaya administrasi pengelolaan webite sebesar,  50.000,- MURAH Meriah
                                                     Anda tidak repot lagi mencari referensi.
                                                     Di jamin asli.contohmakalah

No comments:

Post a Comment

Post a Comment

1

2










                 KLIK

translet