SILAHKAN GUNAKAN FASILITAS "SEARCH" pojok kanan atas
untuk mencari judul skripsi yang di inginkan

pemesanan => Hub: 0857-351-08864

Wednesday, October 5, 2011

strategi pengembangan pendidikan agama islam dalam meningkatkan prestasi belajar siswa di sma | Contoh Skripsi


Penulis : -
Kode     : 079
Judul     : strategi pengembangan pendidikan agama islam dalam meningkatkan prestasi belajar siswa di sma pgri lawang
-------------------------------------------------




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan dapat menjadi tolak ukur bagi kemajuan dan kualitas kehidupan suatu bangsa, sehingga dapat dikatakan bahwa kemajuan suatu bangsa atau Negara dapat dicapai dengan salah satunya melalui pembaharuan serta penataan pendidikan yang baik. Jadi, keberadaan pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang cerdas, pandai, berilmu pengetahuan yang luas, berjiwa demokratis serta berakhlaqul karimah. Sedangkan pendidikan sendiri adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengemban potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.[1]
1
 
Upaya dalam peningkatan mutu pendidikan banyak dilakukan, sehingga dalam hal ini langkah awal yang dilakukan pemerintah dalam membenahi keberadaan pendidikan salah satunya adalah dengan pembenahan di bidang proyek penelitian nasional pendidikan, sehingga diharapkan dengan kegiatan ini akan dapat memecahkan masalah pendidikan yang menyangkut masalah peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan, masalah esensial dan efektifitas yang berhubungan dengan proses belajar mengajar. Dengan demikian keberadaan pendidikan bisa beradaptasi selaras dengan perkembangan zaman sehingga dengan ini mampu menaikkan harkat, martabat manusia. Contoh Skripsi
Dari sini pemerintah banyak menyoroti bagaimana keberadaan serta pelaksanaan pendidikan dan terus melakukan pembenahan dan pembaharuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, dimana tujuan tersebut ditindaklanjuti dalam lingkup tujuan-tujuan yang lebih khusus di dalam lembaga pendidikan atau sekolah. Adapun arah dan tujuan dalam program pendidikan ditegaskan dalam UU Sisdiknas 2003. yaitu :Contoh Skripsi
Pendidikan Nasional bertujuan berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[2]
Dalam pelaksanaanya suatu lembaga pendidikan selalu ingin menghasilkan lulusan-lulusan ataupun out put yang baik, berkualitas, memiliki prestasi belajar yang bagus dan bisa diandalkan. Seorang siswa yang berhasil dalam menuntut ilmu tidak cukup dinilai hanya berhasil di bidang  akademisnya saja, menduduki peringkat atas di kelasnya atau prestasi lain di sekolah yang pernah diraihnya, akan tetapi harus dilihat pula dari sisi kualitas kepribadiannya, kedalaman ilmu yang dikuasainya, penghayatan dan pengamalan etos belajar, keluhuran akhlaq dan tingkah laku kesehariannya, apakah sesuai dengan norma dan etika agama atau tidak? Selain itu keberhasilan pendidikan itu dapat kita lihat dari beberapa hal, diantaranya: tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, seperti pada perolehan nilai akhir yang memuaskan. Namun,  yang paling utama adalah  adanya perubahan sikap perilaku yang menonjol pada diri peserta didik dengan adanya perubahan pola pemikiran atas dasar pengetahuan ataupun ilmu yang telah didapat dari guru, dari pengalaman atau lingkungan sekitarnya, sehingga keberadaan pendidikan bagi seorang anak atau siswa sangat berpengaruh bagi perkembangan anak diusia selanjutnya.Contoh Skripsi
Ada beberapa indikator proses belajar mengajar itu dikatakan berhasil, diantaranya adalah, siswa:
1.      Menguasai ilmu pengetahuan dari pelajaran-pelajaran yang ditelah diberikan guru serta memiliki ketrampilan sesuai bakat dan minatnya.
2.      Terbiasa dengan cara berpikir ilmiah (sesuai logika) serta mempunyai ide dan pemikiran atau pendapat yang dapat diterima oleh banyak orang dan bisa dipertanggungjawabkan.
3.      Mempunyai perilaku yang mencerminkan pribadi yang mandiri, sportif serta memiliki pendalaman agama yang cukup kuat.Contoh Skripsi
4.      Mampu menjadi anggota masyarakat yang baik, peduli dengan lingkungan, mempunyai rasa sosial yang tinggi serta peduli terhadap orang lain terutama terhadap orang tua, saudara dan keluarga.
5.      Mampu menunjukkan kecintaannya terhadap ilmu serta menghayati hikmah-hikmahnya.[3]
Terkait dengan hal tersebut, banyak kritik yang mengatakan adanya kelemahan serta kekurangan dalam pelaksanaan serta keberadaan Pendidikan Agama Islam. Menurut Muchtar Buchori[4] kegagalan pendidikan agama Islam disebabkan karena praktik pendidikannya hanya memperhatikan aspek kognitif semata dari pertumbuhan kesadaran nilai-nilai (agama), dan mengabaikan pembinaan aspek afektif dan konatif-volitif, yakni kemauan dan tekad untuk mengamalkan nilai-nilai ajaran agama Islam. Akibatnya, terjadi kesenjangan antara pengetahuan dan pengamalan, antara gnosis dan praxis dalam kehidupan nilai agama. Dalam pendapat yang lain beliau menyatakan, bahwa kegiatan pendidikan yang berlangsung selama ini lebih banyak bersikap mandiri, kurang berinteraksi dengan kegiatan-kegiatan pendidikan lainnya, sehingga kurang efektif untuk penanaman suatu perangkat nilai yang kompleks. Demikian juga dinyatakan oleh Soedjatmoko[5], bahwa  pendidikan agama harus berusaha berinteraksi dan bersinkronisasi dengan pendidikan non-agama. Pendidikan agama tidak boleh dan tidak dapat berjalan sendiri, tetapi harus berjalan bersama dan bekerja sama dengan program-program pendidikan non-agama kalau ingin mempunyai relevansi terhadap perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.
Di lain pihak, Rosdianah[6] mengemukakan beberapa kelemahan pendidikan agama Islam di sekolah, baik dalam pemahaman materi pendidikan agma Islam maupun dalam pelaksanaannya, yaitu (1) dalam bidang teologi, ada kecenderungan mengarah pada paham fatalistik; (2) bidang akhlak berorientasi pada urusan sopan santun dan belum dipahami sebagai keseluruhan pribadi manusia beragama; (3) bidang ibadah diajarkan sebagai kegiatan rutin agama dan kurang ditekankan sebagai proses pembentukan kepribadian; (4) dalam bidang hukum (fiqih) cenderung dipelajari sebagai tata aturan yang tidak akan berubah sepanjang masa, dan kurang memahami dinamika dan jiwa hukum Islam; (5) agama Islam cenderung diajarkan sebagai dogma dan kurang mengembangkan rasionalitas serta kecintaan pada kemajuan ilmu pengetahuan; (6) orientasi mempelajari al-Qur’an masih cenderung pada kemampuan membaca teks, belum mengarah pada pemahaman arti dan penggalian makna. Sedangkan Towaf[7] mengatakan adanya kelemahan-kelemahan pendidikan agama Islam di sekolah, antara lain:
  1. Pendekatan masih cenderung normatif, dalam artian pendidikan agama menyajikan norma-norma yang sering kali tanpa ilustrasi konteks sosial budaya, sehingga peserta didik kurang menghayati nilai-nilai agama sebagai nilai yang hidup dalam keseharian.
  2. Kurikulum pendidikan agama Islam yang dirancang di sekolah sebenarnya lebih menawarkan minimum kompetensi atau minimum informasi, tetapi pihak guru PAI seringkali terpaku padanya, sehingga semangat untuk memperkaya kurikulum dengan pengalaman belajar yang bervariasi kurang tumbuh.
  3. Sebagai dampak yang menyertai situasi tersebut diatas, maka guru PAI kurang berupaya menggali berbagai metode yang mungkin bisa dipakai untuk pendidikan agama, sehingga pelaksanaan pendidikan cenderung monoton.
  4. Keterbatasan sarana dan prasarana, sehingga pengelolaan cenderung seadanya. Pendidikan agama yang diklaim sebagai aspek yang penting seringkali kurang diberi prioritas dalam urusan fasilitas.
Atho' Mudzhar juga mengemukakan bahwa merosotnya moral dan akhlaq peserta didik disebabkan antara lain akibat kurikulum pendidikan agama yang terlampau pada materi, dan materi tersebut lebih mengedepankan aspek pemikiran ketimbang membangun kesadaran keberagaman yang utuh, selain itu metodologi pendidikan agama kurang mendorong penjiwaan terhadap nilai-nilai keagamaan serta terbatasnya bahan-bahan bacaan keagamaan. [8]
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwasannya yang menjadi kelemahan dan menjadi bahan kritik terhadap pelaksanaan pendidikan agama Islam lebih bermuara pada aspek metodologi pembelajaran PAI dan orientasinya yang lebih bersifat normatif, teoritis dan kognitif, termasuk didalamnya juga aspek dari guru yang kurang mampu mengaitkan dan berinteraksi dengan mata pelajaran dan guru non-pendidikan agama, selain itu juga muatan kurikulum atau materi pendidikan agama, sarana dan prasarana termasuk di dalamnya buku-buku pendukung dan bahan-bahan ajar pendidikan agama.[9] Namun dalam hal ini yang lebih disoroti adalah menyangkut kemampuan guru dalam menyampaikan serta dalam mentransfer ilmunya kepada para peserta didik.
Dari sini, maka perlu adanya solusi terhadap keberadaan pendidikan agama Islam yang sedemikian rupa, karena dengan belajar dari pengalaman sebelumnya, maka diharapkan ada suatu pembaharuan baik dari segi isi, cara maupun sarana dan prasarana pendukung untuk mengatasi masalah tersebut, sehingga nantinya pendidikan agama Islam sedikit demi sedikit akan berkembang dan dapat mencapai tujuan pendidikan secara sempurna.
Terkait dengan kemampuan dan potensi guru dalam menyampaikan materi pelajaran, maka tidak menutup kemungkinan guru memiliki trik maupun cara tersendiri dalam menyampaikan isi materi pelajaran. Sehingga dengan cara ini, guru dituntut memiliki segudang cara ataupun strategi aktif yang dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran, karena strategi pembelajaran tersebut menyangkut kegiatan yang ada ataupun saat kegiatan belajar mengajar berlangsung di dalam kelas,  dan kegiatan di luar kelas atau kegiatan belajar mengajar di luar jam pelajaran.
Di dalam prosesnya, keberadaan peserta didik banyak dipengaruhi oleh keberadaan guru. Dimana guru sebagai salah satu sumber ilmu juga dituntut kemampuannya untuk dapat mentrasfer ilmunya kepda para peserta didik dengan menggunakan berbagai ilmu ataupun metode serta alat yang dapat membantu tercapainya suatu kegiatan pembelajaran, yang dalam hal ini salah satunya adalah adanya penggunaan strategi yang beraneka macam, cocok serta tepat untuk diterapkan kepada peserta didik.
Adapun tujuan adanya strategi menurut Drs. H. Abu Ahmadi[10] adalah pertama; agar para pendidik dan calon pendidik mampu melaksanakan dan, serta mengatasi program dan permasalahan pendidikan dan pengajaran, kedua; agar para pendidik dan calon pendidik memiliki wawasan yang utuh, lancar, terarah, sistematis, dan efektif.
Dalam pengelolaan pendidikan tidak akan terlepas dari adanya rencana pengajaran yang termasuk di dalamnya adanya strategi. Terkait dengan strategi ini erat kaitannya dengan materi pelajaran, karena berhasil tidaknya kegiatan pembelajaran pendidikan banyak dipengaruhi oleh bagaimana strategi pengajaran tersebut diterapkan, dimana seorang guru menyampaikan materi pelajaran kepada siswa dan siswa dituntut untuk bisa menerima materi pelajaran dari guru. Dalam hal ini keberadaan guru dituntut untuk bisa memvariasikan strategi dalam mengajar; seperti metode yang dipakai, penggunaan alat peraga serta adanya evaluasi, agar tujuan pendidikan dapat terrealisasikan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Dari sini tampak jelas bahwa strategi pengembangan pendidikan agama Islam merupakan prosedur yang sangat penting untuk tercapai tujuan pendidikan, karena merupakan salah satu unit yang tidak dapat dipisahkan dari unit-unit pendidikan yang lain.
Sesuai dengan pengamatan sepintas peneliti, proses pelaksanaan pendidikan di salah satu lembaga yang ada di Kota Malang ini, sedikit banyak telah menerapkan berbagai metode dan cara yang digunakan untuk mengembangkan pendidikan agama Islam. Sekolah ini dalam mengembangkan pendidikan agama Islam mengaplikasikan berbagai metode dan cara yang cocok serta sesuai dengan materi ajar, disamping adanya pembaharuan kurikulum juga diikuti dengan keaktifan para guru dalam melaksanakan tugasnya dalam mengajar.
Selain itu SMA PGRI Lawang merupaka sekolah Menengah, dimana keberadaannya sangtlah berpengaruh dalam mengembangkan pengetahuan agama dan umum pada tingkat yang lebih tinggi. Dengan adanya deskripsi tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti bagaimna strategi pengembangan pendidikan agama Islam yang diterapkan di SMA PGRI Lawang dalam upayanya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
A.    Rumusan Masalah
Dari fenomena yang ada, maka dalam skripsi ini akan menjelaskan rumusan masalah yang akan dibahas .
  1. Bagaimana Strategi Pengembangan Pendidikan Islam yang diterapkan di SMA PGRI Lawang dalam meningkatkan prestasi belajar siswa?
  2. Faktor apa saja yang dianggap mendukung serta menghambat proses penerapan strategi pengembangan pendidikan Islam dalam meningkatkan prestasi belajar siswa di SMA PGRI Lawang?
  3. Bagaimanakah hasil dari penerapan strategi tersebut terhadap prestasi belajar siswa dalam bidang akademik dan non-akademik? 
 

 
===================================  
Anda dapat memiliki word/file aslinya
Silahkan download file aslinya setelah menghubungi admin….. klik disini
 Hanya mengganti biaya administrasi pengelolaan webite sebesar,  50.000,- MURAH Meriah
                                                     Anda tidak repot lagi mencari referensi.
                                                     Di jamin asli.contohmakalah

* sekali lagi ditekan kan bahwa file yang ada di web ini adalah milik orang, untuk itu jika anda ingin mengutip atau mengambil beberapa kalimat dalam file tersebut harus sesuai dengan tata cara penulisan yang baku dan di cantumkan nama penulis aslinya kerahasiaan identitas visitor terjamin






[1] UURI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas (Bandung: Citra Umbara, 2006), hlm. 72
[2] Ibid, hlm. 76
[3] Sofchah Sulistyowati, BA, Cara Belajar Yang Efektif dan Efisien, (Pekalongan: Cinta Ilmu 2001), hlm. 91
[4]  Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah Madrasah dan Perguruan Tinggi (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hlm 23
[5]  Ibid, hlm 24
[6] Ibid,.
[7]  Ibid, hlm 25
[8]  Ibid, hlm. 26
[9] Ibid, hlm 26
[10]  Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Mengajar (Bandung: Pustaka Setia, 1997), hlm. 5

No comments:

Post a Comment

Post a Comment

1

2










                 KLIK

translet