SILAHKAN GUNAKAN FASILITAS "SEARCH" pojok kanan atas
untuk mencari judul skripsi yang di inginkan

pemesanan => Hub: 0857-351-08864

Thursday, October 27, 2011

Internalisasi Nilai-nilai Agama Islam Dalam Pembinaan Mental Melalui Pembiasaan dan Keteladanan Di Panti Asuhan Hajjah Khodijah Sumberpasir Pakis Malang | Contoh Skripsi


Penulis  : -
Kode    : 087
Judul     : Internalisasi Nilai-nilai Agama Islam Dalam Pembinaan Mental Melalui Pembiasaan dan Keteladanan Di Panti Asuhan Hajjah Khodijah Sumberpasir Pakis Malang
-------------------------------------------------
 
BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Di era globalisasi ini masyarakat Indonesia mengalami perkembangan yang sangat cepat. Era ini memiliki potensi untuk ikut mengubah hampir seluruh sistem kehidupan masyarakat. Tapal batas negara dalam beberapa pengertian telah roboh. Dialog antar budaya progresif timur berlangsung dalam skala besar-besaran tanpa disadari. (Marwah Daud, 1994 : 78)
Azra mengingatkan, bahwa globalisasi yang terjadi pada saat ini adalah bersumber dari barat, dan terus memegang supremasi dan hegemoni dalam berbagai lapangan kehidupan masyarakat dunia umumnya. Globalisasi yang bersumber dari barat ini, tampil dengan watak ekonomi-politik, dan sain-teknologi. Hegemoni dalam bidang-bidang ini bukan hanya menghasilkan globalisasi ekonomi dan sain-teknologi, tetapi juga dalam bidang-bidang lain seperti intelektual, sosial, nilai-nilai, gaya hidup, dan seterusnya. (Azra, 1999: 44)

Hegemoni Barat dalam bidang sain-teknologi dengan kemajuan telekomunikasi misalnya, telah memunculkan globalisasi pertelevisian. Muatan yang dibawanya, tidak diragukan lagi sarat dengan nilai-nilai tertentu. Melalui inilah terjadi ekspansi dan penetrasi nilai-nilai seperti kehidupan yang serba materialistik dan hedonistik, keserba longgaran hubungan antara laki-laki dan perempuan, kekerasan dan nilai-nilai lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama Islam.Contoh Skripsi
Ekspansi dan penetrasi nilai-nilai Barat-Modern melalui globalisasi pertelevisian serta media-media elektronik lainnya semisal telekomunikasi dan internet nyatanya tidak mudah disadari oleh siapapun. Bahkan tidak mudah untuk mengevaluasi dan menyeleksi nilai-nilai modern yang ditawarkan oleh pihak-pihak dan bangsa-bangsa tertentu yang berkepentingan. Sehingga melalui media-media itu bangsa Indonesia dengan mudah mengakses berbagai bentuk jenis budaya yang berkembang di negara-negara maju yang pada gilirannya cukup memberikan pengaruh yang tidak kecil terhadap prilaku keseharian mereka, baik pengaruh positif maupun negatif.Contoh Skripsi
Adapun dampak negatif globalisasi terhadap kehidupan bangsa Indonesia dari waktu ke waktu nampak semakin jelas. Gaya hidup modern ala barat yang ditawarkan oleh negara-negara maju melalui berbagai sarana modern dengan cepat diterima oleh masyarakat Indonesia tanpa filter yang baik. Dengan demikian nilai-nilai modern Barat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam sedikit demi sedikit merasuk ke dalam diri para generasi Muslim dan menggeser nilai-nilai Islam yang selama ini telah tertanam kedalam diri mereka. Maraknya penyimpangan yang dilakukan oleh masyarakat, baik yang berbentuk tindak kekerasan, pergaulan bebas antar muda-mudi, penyalahgunaan obat-obat terlarang, dan yang semisalnya, disinyalir oleh banyak kalangan sebagai akibat dari derasnya arus globalisasi yang tidak seimbang dari dunia Barat dan Islam.Contoh Skripsi
Paparan di atas adalah sebagian dari bentuk-bentuk penyimpangan yang dilakukan oleh masyarakat tidak terkecuali para remaja dan pelajar Muslim. Banyak sekali aspek yang menyebabkan mereka melakukan perilaku yang menyimpang. Salah satunya adalah kurangnya pendidikan yang mereka peroleh yang dapat menuntun mereka ke jalan yang lebih benar. Padahal dengan pendidikan, diharapkan mereka dapat menfilter peradaban dan budaya yang masuk ke negara Indonesia. Contoh Skripsi
Namun pada kenyataannnya masih banyak warga negara Indonesia yang tidak medapatkan pendidikan yang layak terutama para generasi muda. Hal ini disebabkan karena warga Indonesia banyak yang tidak mampu membiayai anak-anak mereka untuk bersekolah. Pendidikan masih dirasakan sebagai hal yang mewah karena bagi sebagian besar kalangan, pendidikan masih menyita biaya yang luar biasa besarnya hingga sulit dipenuhi, terutama oleh kalangan menengah kebawah dengan keuangan terbatas. Hal ini dirasakan sangat 'menyik-sa' para orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin. Padahal, menggapai cita-cita setinggi "langit" menjadi keinginan semua orang, tak terkecuali keluarga kurang mampu. Karenanya, kehadiran sebuah bantuan baik itu berupa beasiswa maupun bantuan materi lainnya bisa menjadi obat penawar bagi para orang tua kurang mampu, untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Mike Rini, 2004). Padahal mereka mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan seperti yang dinyatakan dalam UUSPN dan UUD 1945. Di dalam UUSPN No. 2 tahun 1989 Bab II berisi tentang hak warga negara untuk memperoleh pendidikan, Pasal 7 yang berbunyi :
"Penerimaan seseorang sebagai peserta didik dalam kesatuan pendidikan diselenggarakan dengan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial dan tingkat kemampuan ekonomi dan dengan tidak mengindahkan kekhususan kesatuan pendidikan yang bersangkutan." (Undang-Undang RI No.2 Tahun 1989 : 53)
Sedangkan dalam UUD 1945 Bab XIV tentang kesejahteraan sosial pasal 34 yang berbunyi "fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara". (UUD 1945, 2002 : 60)
Dalam hal ini, anak-anak yatim dan terlantar dihadapkan pada masalah pendidikan yang sangat rendah. Mereka membutuhkan pendidikan dalam proses menuju kedewasaannya. Karena pada masa ini adalah masa berkembangnya potensi-potensi yang dimilikinya dan itu semua ditentukan oleh pendidikan yang diperolehnya. Dengan pendidikan mereka diharapkan mampu mempersiapkan diri untuk bisa mandiri, memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri dan tanggung jawab terhadap bangsa dan agama, serta mampu menjadi muslim yang baik. Untuk itu mereka juga perlu dibekali pendidikan agama, karena pendidikan agama mengajarkan dan membina manusia agar berbudi pekerti yang luhur seperti kebenaran, keikhlasan, kejujuran, keadilan, kasih sayang supaya terjalin hubungan yang baik dengan sesama manusia atau masyarakat, dan dapat menuntun mereka menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. (Hasan Langgulung, 1980 : 178). Contoh Skripsi
Islam sendiri pun juga ikut memperhatikan terhadap kondisi umatnya yang lemah sehingga ia menganjurkan terhadap umatnya yang lebih mampu untuk selalu berbuat baik dan menjamin terhadap kehidupan kaum lemah seperti anak-anak yatim, anak-anak terlantar dan fakir miskin.                  

Kepedulian terhadap mereka ditegaskan dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 220 yaitu:
... وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ الْيَتَامَى قُلْ إِصْلاَحٌ لَهُمْ خَيْرٌ وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنْ الْمُصْلِحِ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لاَعْنَتَكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ )البقرة : 220)
      Artinya : " …Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah : mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu dan Allah mengetahui siapa yang membuat rusak dan yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al-Baqarah : 220)

Berdasarkan hal tersebut, maka panti asuhan yang merupakan lembaga penampungan anak yatim –dengan berbagai macam sebab- adalah hal yang sangat penting dan bermanfaat bagi proses pertumbuhan dan perkembangan mereka untuk menjadi manusia dewasa yang sempurna.
Dalam Undang-undang Perlindungan Anak, "Anak terlantar yang dapat menjadi anak asuh adalah anak yang tidak memiliki orang tua sama sekali (yatim piatu), anak yang memiliki orang tua tidak lengkap (yatim/piatu), anak yang memiliki orang tua lengkap tetapi oleh karena berbagai sebab mengalami keterlantaran, anak yang hidup di dalam lingkungan keluarga yang mengalami perpecahan atau anak-anak yang mengalami ketegangan di dalam rumah tangga, sehingga tidak ada suasana yang akrab serta tidak ada kasih sayang/perhatian dari orang tua." (UU RI No. 23 Th. 2002, 2003 : 98)
Tujuan didirikannya panti asuhan adalah untuk mendidik anak yatim piatu dan terlantar agar mereka dapat berkembang dengan baik dan membina mereka agar mereka mempunyai pegangan hidup, ketrampilan dan mampu menjadi manusia yang mandiri tidak selalu bergantung pada belas kasihan orang lain dan mencetak mereka menjadi manusia yang selalu beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, serta menjadi anak yang sholeh dan sholikhah.                     
Selain itu panti asuhan juga berfungsi sebagai wadah keluarga bagi anak-anak asuh, yang mempunyai kewajiban untuk dapat membentuk kepribadian muslim anak  yatim piatu tersebut melalui nilai-nilai dan norma-norma agama, susila yang baik, pendidikan akhlaq, kebiasaan dan keterampilan yang nantinya bisa dijadikan bekal bagi kehidupan di masyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa panti asuhan selain bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan anak yang bersifat material juga yang lebih penting lagi adalah memenuhi kebutuhan perkembangan kepribadiannya.
Demi masa depan anak yatim dan terlantar, maka diperlukan pembinaan secara utuh, baik pembinaan secara jasmani maupun rohani, dan panti asuhan adalah tempat yang paling tepat bagi perkembangan potensi anak yatim dan terlantar tersebut. Karena pada dasarnya kepribadian anak bukan terjadi secara sertamerta akan tetapi melalui proses kehidupan yang panjang. Oleh karena itu banyak faktor yang ikut ambil bagian dalam pembentukan kepribadian anak tersebut. Dengan demikian apakah kepribadian seseorang itu baik atau buruk, kuat atau lemah, beradab atau biadab sepenuhnya ditentukan oleh faktor yang mempengaruhi dalam perjalanan hidup anak tersebut.
Dalam hal ini, maka perlu ditanamkan sebuah nilai-nilai agama khususnya agama Islam agar anak yang ada di panti asuhan dapat memiliki jiwa yang kuat serta dapat menjalankan apa yang telah disyari’atkan oleh agama. Mereka dapat menghayati, menguasai secara mendalam tentang nilai-nilai agama Islam baik melalui pembinaan, bimbingan dan sebagainya (yang identik dengan internalisasi) agar  nilai-nilai agama tersebut tidak hanya menjadi wacana semata namun akan dapat merasuk ke dalam jiwa mereka sehingga menjadi sebuah kepribadian yang Islami.
Para orang tua khususnya orang tua asuh dapat memakai beberapa cara/metode dalam penginternalisasian nilai-nilai agama Islam dalam pembinaan mental diantaranya adalah: (a) pembiasaan hal ini bertujuan untuk membiasakan anak pada kebiasaan-kebiasaan baik agar nantinya kebiasaan itu melekat pada dirinya yang menjadi sebuah karakter pribadi anak. (b) keteladanan hal ini bertujuan untuk memberikan sebuah figur pada seorang anak karena anak-anak adalah makluk yang paling senang meniru, sehingga tanpa adanya figur yang baik seorang anak akan merasa sulit untuk melakukan apa yang telah diperolehnya dari sebuah materi pelajaran. (c) nasehat hal ini bertujuan untuk mengingatkan anak terhadap pengawasan Allah di mana pun mereka berada, sehingga mereka tidak melanggar apa yang telah disyari’atkan oleh agama Islam. (d) kontrol atau pengawasan, dalam hal ini anak yang dibimbing juga perlu mendapatkan pengendalian agar apa yang telah diajarkan bisa terlaksana dengan baik dan membentuk akhlakul karimah (akhlaq yang baik). (e) sangsi. Agar internalisasi ini efektif, harus ada hukuman sebagai sangsi pelanggaran.  (Susi Noviza, 2004)
Di antara ke-5 metode di atas, menurut para ahli pendidikan pembiasaan dan keteladanan merupakan metode yang paling efektif dalam penginternalisasian nilai-nilai agama Islam. Karena kedua metode tersebut secara psikologis sangat dibutuhkan seorang anak di masa perkembangannya. Di tinjau dari segi perkembangan anak, pembentukan tingkah laku melalui pembiasaan akan membantu anak bertumbuh dan berkembang secara seimbang. Sedangkan metode keteladanan dipakai karena secara psikologis, anak senang meniru, tidak saja yang baik yang jelekpun ditirunya, dan secara psikologis pula manusia membutuhkan tokoh teladan dalam hidupnya (Ismail SM, 2001:226). Di sinilah letak relevansi dan keterkaitan antara pembiasaan dan keteladanan, misalnya guru tidak saja hanya mengatakan kerjakan ini dan jangan kerjakan itu, tetapi juga harus mampu menjadi teladan yang baik bagi anak. Karenanya ke dua metode ini (pembiasaan dan keteladanan) akan sangat membantu upaya dan tujuan panti asuhan dalam mencetak anak yatim dan terlantar menjadi anak yang sholeh dan sholekhah.
Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana penginternalisasian nilai-nilai agama Islam dalam pembinaan mental melalui pembiasaan dan keteladanan bagi anak-anak yatim dan terlantar, baik pelaksanaannya maupun faktor yang mendukung dan menghambat serta bagaimana upaya yang dilakukan oleh panti asuhan dalam mengatasi kendala pelaksanaan internalisasi nilai-nilai agama Islam, maka peneliti ingin mengkaji dan mengadakan penelitian tentang "Internalisasi Nilai-nilai Agama Islam Dalam Pembinaan Mental Melalui Pembiasaan dan Keteladanan Di Panti Asuhan Hajjah Khodijah Sumberpasir Pakis Malang".

B. Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang diatas, maka penulis dapat memaparkan rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana pelaksanaan internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam pembinaan mental melalui pembiasaan dan keteladanan di Panti Asuhan Hajjah Khodijah Sumberpasir Pakis Malang ?
2.      Faktor-faktor apa yang menghambat dan mendukung pelaksanaan  internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam pembinaan mental melalui pembiasaan dan keteladanan di Panti Asuhan Hajjah Khodijah Sumberpasir Pakis Malang ?
3.      Bagaimana upaya yang dilakukan oleh para pengasuh panti asuhan Hajjah Khodijah Sumberpasir Pakis Malang dalam mengatasi kendala pelaksanaan internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam pembinaan mental melalui pembiasaan dan keteladanan ?
===================================    
Anda dapat memiliki word/file aslinya
Silahkan download file aslinya setelah menghubungi admin….. klik disini
 Hanya mengganti biaya administrasi pengelolaan webite sebesar,  50.000,- MURAH Meriah
                                                     Anda tidak repot lagi mencari referensi.
                                                     Di jamin asli.contohmakalah


===================================    
Anda dapat memiliki word/file aslinya
Silahkan download file aslinya setelah menghubungi admin….. klik disini
 Hanya mengganti biaya administrasi pengelolaan webite sebesar,  50.000,- MURAH Meriah
                                                     Anda tidak repot lagi mencari referensi.
                                                     Di jamin asli.contohmakalah




No comments:

Post a Comment

Post a Comment

1

2










                 KLIK

translet