SILAHKAN GUNAKAN FASILITAS "SEARCH" pojok kanan atas
untuk mencari judul skripsi yang di inginkan

pemesanan => Hub: 0857-351-08864

Saturday, October 1, 2011

strategi pembelajaran al-qur’an dalam meningkatkan kualitas bacaan al-qur’an santri di pesantren ilmu al-qur’an | Contoh Skripsi


Penulis : -
Kode     : 076
Judul     : strategi  pembelajaran al-qur’an dalam meningkatkan kualitas bacaan al-qur’an santri di pesantren ilmu al-qur’an (piq) singosari malang
-------------------------------------------------

BAB I
PENDAHULUAN

A      Latar Belakang
Agama Islam yang kita anut dan dianut oleh ratusan juta kaum muslimin di seluruh dunia, merupakan way of life yang menjamin kebahagian hidup pemeluknya di dunia dan di akhirat kelak. Ia (agama Islam) mempunyai satu sendi yang esensial yang berfungsi memberi petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya. Allah berfirman: Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya. (QS. 17: 9)[1]. Dari sini kita ketahui bahwa yang dimaksudkan tersebut adalah kitab suci Al-Qur’an.
Al-Qur’an merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang memiliki kemukjizatan lafal, membacanya bernilai ibadah, diriwayatkan secara mutawatir, yang tertulis secara mushaf, dimulai dengan surat al-Fatihah dan di akhiri dengan surat al-Nas.[2] Sebagai pedoman bagi manusia dalam menata kehidupannya agar memperoleh kebahagian lahir dan bathin, di dunia dan di akhirat kelak. Konsep konsep yang dibawa Al-Qur’an selalu relevan dengan problem yang dihadapi manusia, karena itu ia turun untuk berdialog dengan setiap umat yang ditemuinya, sekaligus menawarkan pemecahan terhadap permasalahan yang dihadapi oleh umat manusia.Contoh Skripsi
Al-Qur’an yang diturunkan dalam kurun waktu 23 tahun, yang dapat dibagi dalam dua periode, yaitu periode makkiyah dan periode madaniyah, sebagai bukti adanya hubungan dialektis dengan ruang dan waktu ketika Al-Qur’an diturunkan. Tegasnya studi tentang Al-Qur’an tidak dapat dipisahkan dari konteks kesejarahannya, yang meliputi nilai-nilai sosial, budaya, politik, ekonomi, dan nilai-nilai relegius yang hidup ketika itu.
Halim (dalam Al-Muanawar) menyebutkan sebagai sumber utama ajaran Islam, Al-Qur’an dalam membicarakan suatu masalah sangat unik, tidak tersusun secara sistematis sebagaimana buku-buku ilmiah yang dikarang oleh manusia. Al-Qur’an jarang sekali membicarakan suatu masalah secara rinci, kecuali menyangkut masalah aqidah, pidana, dan beberapa masalah tentang keluarga. Umumnya, Al-Qur’an lebih banyak mengungkap suatu persoalan  secara global, parsial, dan seringkali menampilkan suatu masalah dalam prinsip-prinsip dasar dan garis besar.[3]Contoh Skripsi
Keadaan demikian, sama sekali tidak berarti mengurangi keistimewaan Al-Qur’an sebagai firman Allah. Bahkan di situlah keunikan dan keistimewaan Al-Qur’an yang membuat beda dengan kitab-kitab lain dan buku-buku ilmiah karangan manusia. Hal ini membuat Al-Qur’an menjadi objek kajian yang selalu menarik perhatian dan tidak pernah kering bagi kalangan akademisi, cendekiawan, baik muslim maupun non muslim untuk mengkajinya, sehingga ia tetap aktual dan fleksibel sejak diturunkan empat belas abad yang silam.
Di samping keterangan yang diberikan oleh Rosulullah SAW, Allah juga memerintahkan kepada umat manusia seluruhnya agar memperhatikan isi Al-Qur’an dan mempelajarinya, karena mempelajari dan memahami isi kandungan dari Al-Qur’an adalah merupakan kewajiban bagi umat Islam. Berikut ini beberapa prinsip dasar untuk memahaminya, khusus dari segi hubungan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan. Atau dengan kata lain, mengenai memahami Al-Qur’an dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan. Persoalan ini sangat penting karena pada dewasa ini, dimana perkembangan ilmu pengetahuan demikian pesat dan meliputi seluruh aspek kehidupan.

Untuk dapat mempelajari dan memahami isi atau kandungan Al-Qur’an tidaklah mudah, banyak cara atau metode yang biasa digunakan dalam mempelajari agama Islam, salah satunya adalah bagaimana cara dan strategi yang digunakan oleh oleh seorang guru (ustadz) dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada peserta didik atau santirnya. Metode yang biasa digunakan dalam pembelajaran agama Islam selama ini adalah: metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode pemberian tugas (penugasan), dan lain-lain.[4] Selain motede pembelajaran diatas, dalam hal cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar banyak TPQ atau TPA yang dalam pembelajaranya menggunakan metode Qiro’ati, metode Iqro’ dan metode An-Nahdhiyah.
Diantara pembelajaran Al-Qur’an adalah dengan cara membaca, menerjemahkan dan menafsirkan. Di dalam ayat pertama yang turun, mengandung perintah supaya membaca, yaitu surat al-Alaq ayat 1-5 yang berbunyi sebagai berikut:
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.[5]
Prinsip pembelajaran Al-Qur’an pada dasarnya bisa dilakukan dengan bermacam-macam metode antara lain sebagai berikut: Pertama, guru membaca terlebih dahulu kemudian disusul murid/santri, kedua, murid membaca di depan guru, sedangkan guru menyimaknya, dan ketiga, guru mengulang-mengulang bacaan sedangkan murid menirukannya kata perkata dan kalimat perkalimat secara berulang-ulang hingga terampil dan benar.[6]
Untuk dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar hendaklah membaca Al-Qur’an dengan tartil. Allah SWT. Berfirman:Contoh Skripsi
È@Ïo?uur tb#uäöà)ø9$# ¸xÏ?ös?  
Artinya : “Dan bacalah Al-Qur’an dengan perlahan-lahan”.
Dalam pandangan Abdullah bin Ahmad an-Nasafi “tartil” adalah memperjelas bacaan semua huruf hijaiyah, memelihara tempat-tempat menghentikan bacaan (waqaf), dan memyempurnakan harokat dalam bacaan. Sementara Sayyidina Ali bin Abi Thalib menyamakan “tartil” dengan tajwid, yaitu membaguskan bacaan-bacaan huruf-huruf dan mengenal tempat-tempat berhenti (waqaf). Berbeda dengan Ibnu Katsir yang mengartikan “tartil” sebagai bacaan perlahan-lahan yang dapat membantu menuju tingkat pemahaman dan perenungan Al-Qur’an. Sejalan dengan Ibnu Katsir, Fakhrur Rozy dalam tafsirnya mengatakan “tartil” adalah memperjelas dan menyempurnakan bacaan semua huruf dengan memberikan semua hak-haknya dengan cara tidak tegesa-gesa dalam membaca Al-Qur’an. [7]
Untuk dapat membaca Al-Qur’an dengan tartil dan sesuai kaidah-kaidah yang berlaku diperlukan suatu bidang disiplin ilmu yang lazim disebut ilmu tajwid. Ilmu yang dapat mengantarkan para pembaca Al-Qur’an mampu membaca dengan benar teratur, indah dan fasih sehingga terhindar dari kekeliruan atau kesalahan dalam membacannya
Dari deskripsi diatas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang “Strategi Pembelajaran Al-Qur’an Dalam Meningkatkan Kualitas Bacaan Al-Qur’an Santri Di Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Singosari Malang”
Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Singosari adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang memprioritaskan pembelajaran dalam bidang Al-Qur’an kepada para santrinya. Pembelajaran yang dilakukan di PIQ Singosari Malang tidak hanya berkisar seputar ilmu tajwid atau cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, tetapi lebih dari pada itu, PIQ Singosari Malang juga mengajarkan kepada para santrinya tentang apa yang terkandung dalam Al-Qur’an dan bagaimana memahami kandungannya, atau yang lazim disebut dengan “Ulumul Qur’an”, yaitu ilmu pengetahuan yang secara khusus membahas tentang Al-Qur’an dari berbagai aspeknya.[8] Maka dari itulah peneliti tertarik untuk menjadikan Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Singosari sebagai obyek dalam penelitian,  karena PIQ Singosari Malang sangat representatif dengan judul yang dibahas dalam penelitian ini.Contoh Skripsi

B       Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana strategi pembelajaran Al-Qur’an di Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Singosari Malang?
2.      Bagaimanakah kualitas bacaan Al-Qur’an santri di Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Singosari Malang?
3.      Apa faktor pendukung  dan penghambat dalam pembelajaran Al-Qur’an di Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Singosari Malang?


===================================  
Anda dapat memiliki word/file aslinya
Silahkan download file aslinya setelah menghubungi admin….. klik disini
 Hanya mengganti biaya administrasi pengelolaan webite sebesar,  50.000,- MURAH Meriah
                                                     Anda tidak repot lagi mencari referensi.
                                                     Di jamin asli.contohmakalah

* sekali lagi ditekan kan bahwa file yang ada di web ini adalah milik orang, untuk itu jika anda ingin mengutip atau mengambil beberapa kalimat dalam file tersebut harus sesuai dengan tata cara penulisan yang baku dan di cantumkan nama penulis aslinya kerahasiaan identitas visitor terjamin

 



[1] Quraisy Shihab, Membumikan Al-qur’an. (Bandung : Mizan, 2002), Hal. 33
[2] Said Agil Husain Al Munawar, Al-qur’an; Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki.( Jakarta, Ciputat Press, 2002), Hal. 5
[3] Ibid., hal. XII
[4] Abu Ahmadi, Metode Khusus Pendidikan Agama, (Bandung, Armico, 2002), Hal. 109
[5] DEPAG RI, Al-qur’an dan Terjemahannya,  (Surabaya, Mahkota, 1989), Hal. 1079.
[6] Ahmad Syarifuddin, Mendidik Anak Menulis, Membaca Dan Mencintai Al-qur’an. (Jakarata, Gema Insani, 2004), Hal 81.
[7] Sirojuddin AS. Tuntutan Membaca Al-qur’an Dengan Tarti, .(Bandung, Mizan 2005) Hal. VII-VIII
[8] Said Agil Husain Al Munawar. Al-qur’an; Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, (Jakarta, Ciputat Press, 2002), Hal. 6.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment

1

2










                 KLIK

translet