SILAHKAN GUNAKAN FASILITAS "SEARCH" pojok kanan atas
untuk mencari judul skripsi yang di inginkan

pemesanan => Hub: 0857-351-08864

Thursday, March 1, 2012

analisis respon konsumen terhadap keputusan pembelian | Contoh Skripsi


Penulis : -
Kode     :156
Judul     :  analisis respon konsumen terhadap keputusan pembelian (study kasus pada produk mie indomie pasca isu bahan pengawet nipagin di kelurahan ketawanggede malang)
 -------------------------------------------------
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Respon konsumen merupakan keadaan yang mudah terpengaruh untuk
memberikan suatu tanggapan terhadap rangsangan dari lingkungan yang dapat
membimbing tingkah laku seseorang untuk mengambil sebuah keputusan. Respon
biasanya memainkan peranan utama dalam membentuk perilaku. Dalam banyak
hal respon terhadap merek tertentu sering mempengaruhi konsumen untuk
melakukan pembelian atau tidak. menurut Engel, Blackwell dan Minniard
(1994:336) menyatakan bahwa “Respon adalah sebagai suatu evaluasi
menyeluruh yang memungkinkan orang-orang bertindak dengan cara
menguntungkan atau tidak menguntungkan secara konsisten berkenaan dengan
obyek atau alternative yang diberikan”. Konsumen merupakan komponen
lingkungan yang mampu mempengaruhi pencapaian tujuan pemasaran. Prinsip
pemasaran mengatakan bahwa pencapaian tujuan organisasi tergantung pada
seberapa mampu organisasi tersebut memahami kebutuhan dan keinginan
pelanggan dan memenuhinya secara lebih efisien dan efektif. Intinya, apabila
ingin memberikan nilai yang terbaik bagi para konsumen, sebuah perusahaan
harus memilki informasi mengenai siapa konsumennya dan bagaimana
karakteristik dan perilaku mereka.Contoh Skripsi
1

2
Respon konsumen sangat berhubungan dengan keputusan pembelian.
Karena keputusan pembelian merupakan sebuah tindakan dari perilaku konsumen
yang akan menimbulkan suatu respon yang positif ataupun negative terhadap
produk tersebut. Menurut David Aaker (1985 :255) teori respon kognitis (berpikir)
memiliki asumsi dasar bahwa khalayak secara aktif terlibat dalam proses
penerimaan informasi dengan cara mengevaluasi informasi yang diterima
berdasarkan pengetahuan dan sikap yang dimiliki sebelumnya, yang akhirnya
mengarah pada perubahan sikap.
Menurut Loudon dan Bitta (2003:45) respon terbentuk dari tiga komponen
yakni kognitif, afektif dan konatif. Komponen kognitif menggambarkan tentang
persepsi konsumen, pendapat konsumen, perbandingan konsumen terhadap suatu
obyek serta tentang ciri merek itu sendiri. Komponen afektif menggambarkan
tentang perasaan konsumen, emosi konsumen, evaluasi konsumen serta tingkat
merek itu sendiri. Sedangkan komponen konatif menjelaskan tentang
kecenderungan konsumen, tujuan konsumen, prefernsi konsumen terhadap suatu
obyek serta kesetiann konsumen terhadap merek tertentu. Inilah yang menentukan
bagaiman suatu respon konsumen bisa memberikan keputusan dalam pembelian
terhadap suatu produk. Setiap individu adalah konsumen karena mereka
melakukan kegiatan konsumsi baik pangan, non pangan maupun jasa. Konsumen
yang beragam memiliki kebebasan untuk memilih berbagai produk yang akan
dibelinya. Maka jelaslah bahwa sebuah keputusan pembelian ada dalam diri
konsumen. Konsumen akan membeli produk yang sesuai dengan kebutuhannya,
seleranya, dan daya belinya (Sumarwan, 2002; 24).
3Contoh Skripsi
Pada bulan Oktober 2010 berbagai media menyampaikan berita tentang
penarikan produk mie Indomie di pasaran Taiwan dang Hongkong karena
dianggap tidak aman dikonsumsi. Kasus Indomie di Taiwan bermula dengan
datangnya surat dari Food and Drugs Administration ( F DA) Taiwan pada
tanggal 9 Juni 2010, kepada Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taiwan.
Dimana surat tersebut berisikan pemberitahuan bahwa produk mie instan dari
Indofood tidak sesuai dengan persyaratan dari FDA. Dikatakan bahwa
berdasarkan pada pemeriksaan terhadap produk Indomie ditemukan bahan
pengawet yang tidak diizinkan oleh FDA, jenis pengawet tersebut methyl phydroxybenzoate
atau lebih dikenal dengan nama nipagin. Pada pertengahan Juni
2010, pihak Indofood telah merespon surat dari FDA tersebut dengan menyatakan
bahwa produk yang dikeluarkan oleh perusahaannya selalu menyesuaikan
persyaratan dan peraturan yang berlaku di Taiwan. Indofood memberikan respon
seperti itu karena Indofood mengekspor mie instan sesuai kesepakatan standar
negara yang dituju. Kemudian pada 2 Juli 2010, untuk menindaklanjuti
permasalahan mengenai kasus Indomie tersebut maka diadakan pertemuan antara
Dirjen Perdagangan Luar Negeri dan Importir tunggal Indomie di Taiwan.
Dimana didalam pertemuan tersebut dibahas mengenai perencanaan nota
kesepahaman antara kedua belah pihak. Semenjak pertemuan tersebut hingga awal
Oktober 2010, pihak Indofood tidak mendengar lagi mengenai kasus permasalahan yang
mengenai Indomie. Kemudian pada 8 Oktober 2010, diumumkan melalui media
Taiwan dan Hongkong mengenai pemberitahuan bahwa didalam kecap Indomie
terdapat bahan pengawet yang tidak sesuai atau dilarang oleh Negara tersebut. Dari
4Contoh Skripsi
pemberitaan-pemberitaan tersebut menimbulkan kecemasan konsumen di Taiwan
serta negara lainnya. Selain itu terjadi penarikan Indomie di pasaran Taiwan
dengan alasan Indomie menggunakan bahan pengawet yang diasumsi dapat menganggu
kesehatan manusia.
Bambang Mulyatno selaku Bidang Perdagangan Kantor Dagang dan Ekonomi
Taiwan menuturkan bahwa produk indoomie yang ditemukan departemen
kesehatan Taiwan adalah mie indoomie yang seharusnya beredar di Indonesia.
Kustantinah selaku Kepala BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan)
menjelaskan bahwa mie indomie aman dikonsumsi. Beliau juga menjelaskan
bahwa BPOM mempunyai aturan bahan tambahan makanan yang diperbolehkan
ada di dalam pangan dengan batas maksimum penggunaannya. BPOM juga telah
melakukan pengawasan dan pengujian terhadap bahan pengawet nipagin yang ada
dalam Indoomie. Yang digunakan sebagai pengawet ada dalam kecap 250 mg per
kg produk. Sedangkan pengujian dan pengawasan yang telah dilakukan tidak
melebih kadar tersebut, jadi tidak apa-apa dan aman dikonsumsi. Direktur PT.
Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) Fransiscus Welirang juga mengatakan,
Taiwan memiliki criteria khusus atas produk makanan minuman yang masuk ke
negaranya, berbeda dengan standarisasi internasional yang ditetapkan Codex
Alimentarius Commision (CAC). CAC merupakan organisasi perumus standart
internasional untuk pangan. Taiwan memang memiliki ketentuan dan spesifikasi
berbeda karena bukan anggota dari CAC. Media-media di Taiwan mengabarkan
penarikan indoomie dari sejumlah supermarket karena mengandung E218 atau
Methyl P-Hydroxybenzoat yang merupakan salah satu bahan pakaian. Dalam
5Contoh Skripsi
keterangan BPOM dijelaskan bahwa nipagin diperkenankan digunakan dengan
batas 250 mg per kg untuk Indonesia, untuk Hongkong 550 mg per kg, sedangkan
untuk Taiwan memang tidak boleh sama sekali. Jadi antara Taiwan dan Indonesia
memilki standar yang berbeda terhadap penggunaan bahan pengawet tersebut.
Kadar bahan pengawet yang dipakai di Indonesia lebih tinggi dengan alasan
tingkat kelembaban Indonesia yang berada di daerah tropis lebih tinggi Karena
pertumbuhan mikroorganisme di Iindonesia lebih cepat, sehingga diperlukan
kadar pengawet yang lebih tinggi untuk menghambatnya, namun masih dibawah
ambang batas yang diijinkan standar internasional.
Dalam melakukan pembelian sebuah produk, konsumen dihadapkan
berbagai masalah. Banyak sekali pertimbangan yang mereka lakukan karena
adanya pengaruh-pengaruh baik dari dalam diri sendiri ataupun dari lingkungan
sekitar ataupun karena situasi dan kondisi pada saat itu. Pengaruh situasi dan
kondisi merek atau pengaruh kepercayaan merek juga mempengaruhi konsumen
dalam pembelian produk. Sangat penting bagi produsen membangun dan memiliki
citra merek yang positif, sebab semakin positif perilaku konsumen terhadap toko
atau merek, maka akan semakin tinggi pula intensi membeli konsumen terjadi
(Seock, 2003). Sebaliknya bila citra suatu perusahaan atau merek negatif maka
intensi pembelian konsumen akan rendah. Melihat kasus produk mie Indomie
yang ditarik di Taiwan karena adanya isu bahan pengawet nipagin tersebut
membuat peneliti tertarik untuk meneliti kasus ini. Dalam hal ini peneliti ingin
meneliti respon masyarakat yang bertempat tinggal di Kelurahan Ketawanggede
Malang. Peneliti memilih lokasi ini karena memang lokasi ini merupakan salah
6Contoh Skripsi
satu daerah sekitar kampus yang padat penduduk dan masyarakatnya terdiri dari
bermacam-macam profesi, sehingga dapat mewakili respon konsumen atas
penelitian ini. Atas dasar itulah peneliti tertarik untuk meneliti keterkaitan
fenomena di atas dengan keputusan pembelian masyarakat di kelurahan
Ketawanggede Malang, yakni dengan judul:
ANALISIS RESPON KONSUMEN TERHADAP KEPUTUSAN
PEMBELIAN (Study Kasus pada Produk Mie Indomie Pasca Isu Bahan
Pengawet Nipagin di Kelurahan Ketawanggede Malang)

1.2. Rumusan Masalah
1. Apakah faktor kognitif, afektif dan konatif berpengaruh secara simultan
terhadap konsumen dalam membeli mie Indomie pasca isu bahan
pengawet nipagin di Kelurahan Ketawanggede Malang?
2. Apakah faktor kognitif, afektif dan konatif berpengaruh secara parsial
terhadap konsumen dalam membeli mie Indomie pasca isu bahan
pengawet nipagin di Kelurahan Ketawanggede Malang?
3. Manakah diantara faktor-faktor tersebut (kognitif, afektif dan konatif)
yang paling dominan terhadap konsumen dalam membeli mie Indomie
pasca isu bahan pengawet nipagin di Kelurahan Ketawanggede Malang?


=================================== 
DAPATKAN FILE nya Dengan menghubungi admin
Anda dapat memiliki word/file aslinya
Silahkan download file aslinya setelah menghubungi admin….. klik disini
 Hanya mengganti biaya administrasi pengelolaan webite sebesar,  50.000,- MURAH Meriah
                                                     Anda tidak repot lagi mencari referensi.
                                                     Di jamin asli.contohmakalah
winrar sortware: 
http://www.ziddu.com/download/17271885/wrar390.exe.html

No comments:

Post a Comment

Post a Comment

1

2










                 KLIK

translet