SILAHKAN GUNAKAN FASILITAS "SEARCH" pojok kanan atas
untuk mencari judul skripsi yang di inginkan

pemesanan => Hub: 0857-351-08864

Sunday, August 21, 2011

PENDEKATAN DALAM PROSES BELAJAR PERSPEKTIF IMAM AL-GHAZALI


Penulis : -
Kode   : 051
Judul  : PENDEKATAN DALAM PROSES BELAJAR  PERSPEKTIF IMAM AL-GHAZALI Kajian Kitab atiīhAyyuhā al-Walad fī Nas al-Muta‘allimīn wa Maw‘atihimiz ū ‘Ilman Nāfi‘an min GayrihiLiya’lamū wa Yumayyiz
 -------------------------------------------------
 

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada saat sidang penciptaan manusia berlangsung, di benak para makhluk Allah yang memang telah diciptakan lebih awal, semacam iblis dan malaikat tersimpan tanda tanya dan praduga yang besar, mengapa Allah kemudian menciptakan lagi manusia, yang jelas-jelas hanya akan menambah kerusakan dan pertumpahan darah di muka bumi? Apakah kami ini belum cukup? Allahpun kemudian menjawab dengan singkat dan padat: Aku lebih tahu dari kamu!
Setelah itu, Allah kemudian bertitah kepada semua makhluknya tadi untuk bersujud (baca: sebagai penghormatan) kepada mahkluk yang baru saja Allah ciptakan itu, Adam. Dan pada saat itu pula, malaikat mencoba untuk interupsi lagi kepada Allah: Bolehkah saya bertanya satu hal, apa alasan Engkau meninggikan derajat manusia ketimbang kami? Dengan tegas Allah menjawab: Karena mereka (manusia) dibekali dengan ilmu pengetahuan dan akal. Dan dengan pengetahuan dan akal itulah manusia bisa membangun dunianya.
Mendengar itu, semua malaikat langsung bersujud kepada Adam, sementara itu, iblis menolak dengan sebuah argumentasi yang kental dengan rasial: bahwa derajatnya lebih tinggi dari manusia karena dia diciptakan dari api sementara itu, manusia diciptakan dari tanah. Saat itu juga syetan dilaknat sampai hari kiamat dan diusir oleh Allah dari sorga serta dia menyandang predikat sebagai pembangkang atas perintah Allah.
Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa sejak pertama kali Allah menciptakan makhluk yang bernama manusia, Allah kemudian menegaskan akan keutamaan dari ilmu dan orang yang berilmu ketimbang apa dan siapapun, termasuk para malaikat dan iblis. Malaikat yang kesohor dengan makhluk Allah yang sangat taat dalam melaksanakan perintah-perintahNya, dan ia juga tidak pernah maksiat kepadaNya, ternyata harus mengakui dan bersujud terhadap kecanggihan makhluk Allah yang bernama manusia. Manusia diciptakan oleh Allah dengan sebaik-baiknya bentuk[1] (baca: bekal ilmu dan akal) yang kecanggihannya melebihi daripada makhluk-makhluk Allah lainnya.

Jadi, hanya dengan bekal ilmu dan akallah yang membedakan kualitas kemanusiaan, peradaban, masyarakat, dan individu dengan yang lainnya. Dengan ilmu pengetahuan manusia bisa berkarya dan berprestasi serta dengan ilmu pula ibadah seseorang menjadi berarti dan sempurna di sisi Allah. Dan kalau diperhatikan ternyata orang-orang yang menguasai dunia ini adalah terdiri dari golongan orang-orang yang berilmu.
M. Zainuddin mengatakan bahwa,

Ungkapan bahwa ilmu itu laksana cahaya adalah sangat tepat, karena memang ilmu itu memberikan petunjuk atau jalan kepada suatu perbuatan. Tanpa ilmu orang tak akan mampu melaksanakan tugas yang diembannya. Lebih dari itu, salah satu dari yang membedakan manusia dengan binatang adalah dari segi “keilmuannya” ini. Binatang tidak akan memiliki ilmu karena ia hanya memiliki instink. Oleh sebab itu, manusia yang tidak berilmu dan tidak mau mencari ilmu ia tak lebih dari binatang karena kebodohannya. Bahkan instink binatang lebih tajam.[2]


Kecuali itu, ilmu juga merupakan kompas yang dapat dijadikan pedoman bagi manusia dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengelola bumi. Ilmu merupakan petunjuk bagi manusia dalam membangun peradabannya di muka bumi. Sebab, tanpa ilmu, manusia tidak mungkin bisa merealisasikan tugas yang diembannya. Manusia tidak akan bisa mendayagunakan sumber daya alam seperti laut dan darat, tanpa dibekali dengan disiplin ilmu yang mumpuni.
Allah berfirman dalam surat Yunus ayat 5:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالقَمَرَ نُوراً وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُواْ عَدَدَ السِّنِينَ وَالحِسَابَ مَا خَلَقَ اللّهُ ذَلِكَ إِلاَّ بِالحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Artinya:
“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Q.S. Yunus: 5).[3]

Ayat di atas erat sekali kaitannya dengan pentingnya belajar dan memiliki ilmu pengetahuan khususnya tentang peredaran matahari, bulan, dan bintang yang merupakan ciptaan Allah, di mana semua ciptaan Allah tersebut sangat berguna bagi hidup dan kehidupan manusia dan makhluk-makhluk Allah yang lainnya.
Allah telah menciptakan matahari bersinar di waktu siang dan rembulan bercahaya di waktu malam serta mengatur kehidupan dengan indah. Matahari mempunyai manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia dan alam sekitarnya seperti tumbuh-tumbuhan, hewan-hewan, dan lain-lain. Adapun bumi berputar mengelilingi matahari kemudian terjadilah pergantian siang dan malam. Kesemuanya itu beredar dalam garis edarnya masing-masing.
Sayyid Quthb mengatakan bahwa dari penciptaan langit dan bumi, matahari bersinar dan bulan bercahaya, muncullah fenomena siang dan malam. Sebuah fenomena yang dapat menimbulkan inspirasi bagi orang-orang yang membuka hatinya (baca: belajar untuk memiliki ilmu pengetahuan) untuk merenungkan pemandangan alam yang menakjubkan ini.[4]
Dengan adanya sifat pada kedua benda angkasa tersebut dimaksudkan supaya manusia dapat mengetahui perhitungan waktu hari dan perhitungan waktu bulan yang sangat berguna bagi manusia dalam beribadah dan bermuamalah.
Kemudian, secara tidak langsung, al-Qur’an juga mengatakan bahwa proses penciptaan tersebut, dan perputaran matahari serta bulan hendaknya jangan dianggap remeh, selanjutnya ayat di atas menyatakan bahwa Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak.[5]
Dan kesemuanya (hikmah ciptaan Allah) itu, Allah terangkan bagi orang-orang yang berilmu, yang dapat memahami keteraturan dan keajaiban-keajaiban ciptaan Allah. Muhammad Quraish Shihab mengatakan bahwa, firman Allah lafad ِلقَوْمٍ يَعْلَمُوْنَ  mempunyai arti bahwa Allah menjanjikan tersingkapnya ayat/ tanda-tanda kebesaranNya bagi orang-orang yang mengetahui (baca: mempunyai bekal ilmu sebagai hasil dari proses belajar).[6]
Imam Ash-Shabuny mengatakan bahwa Allah menjelaskan tanda-tanda kebesarannya melalui ayat-ayat kauniyah itu bagi orang-orang yang mampu memahami akan kekuasaan Allah serta mampu mengambil pelajaran dari hal tersebut.[7] Orang yang mampu memahami kekuasaan Allah dan kemudian memunguti pelajaran dari tanda-tanda kebesaranNya tidak lain adalah orang-rang yang memiliki bekal keilmuan yang mumpuni. Hal ini diperkuat lagi dengan Firman Allah dalam al-Qur’an Surat Ali Imran: 7, yang berbunyi:
هُوَ الَّذِيَ أَنزَلَ عَلَيْكَ الكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء الفِتْنَةِ وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي العِلمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألبَابِ
Artinya:
“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Diantara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi al-Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mu-tasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (Q.S. Ali Imran: 7).[8]

Sedangkan keutamaan orang yang berilmu di sisi Allah, bisa dilihat dalam al-Qur’an  surat al-Mujadilah ayat 11 yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي المَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا العِلمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya:
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. al-Mujadilah: 11).[9]

Al-Qur’an surat al-Mujadilah tadi menerangkan tentang keutamaan majlis ilmu (orang yang melakukan aktifitas belajar), keutamaan orang yang beriman, dan keutamaan orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Sehingga wajar dan tidak berlebihan, dan memang seharusnya sebagai seorang muslim untuk menghormati sebuah majlis yang di dalamnya terdapat orang-orang yang aktif mengkaji ilmu pengetahuan. Sebab majlis ilmu, orang-orang yang beriman, orang-orang yang berilmu memiliki derajat yang khusus di sisi Allah.
Menurut Muhammad Quraish Shihab, dalam surat al-Mujadilah ayat 11 tersebut di atas mengatakan bahwa,
Tidak disebutkan secara langsung dan tegas bahwa Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu. Tetapi menegaskan bahwa mereka memiliki derajat-derajat yang lebih tinggi dari orang yang sekedar beriman. Yang dimaksud الذين أوتوا العلم adalah mereka yang berilmu dan menghiasi diri dengan ilmu pengetahuan. Ini berarti ayat di atas membagi kaum beriman ke dalam dua kelompok besar. Yang pertama, sekedar beriman dan beramal shaleh. Dan yang kedua, beriman dan beramal shaleh serta meiliki ilmu pengetahuan. Derajat yang kedua inilah yang lebih tinggi bukan saja karena ilmu yang disandangnya, tetapi juga amal pengajarannya kepada orang lain. Adapun ilmu yang dimaksud dalam ayat di atas adalah bukan saja ilmu agama, tetapi juga ilmu apa saja yang bermanfaat.[10]

Ali al-Shabuny mengatakan bahwa Allah akan mengangkat derajatnya orang-orang yang beriman yang mengerjakan segala bentuk perintah yang datang dari Allah dan Rasulnya. Khusus bagi orang-orang yang berilmu Allah akan memberi dan menempatkannya pada tingkat dan derajat yang lebih tinggi.[11]
Adapun keistimewaan yang lain dari orang yang berilmu adalah bahwa dia menyandang predikat sebagai pewaris para nabi. Dan sebagaimana telah maklum bersama, bahwa warisan nabi bukan berupa harta yang melimpah atau bahkan pangkat dan kedudukan melainkan berupa ilmu dan agama (baca: al-Qur’an dan Hadits). Dan sudah dimaklumi, bahwa tak ada pangkat di atas pangkat kenabian dan tidak ada kemuliaan di atas kemuliaan yang mewarisi pangkat tersebut.[12]
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Tirmidzi, Rasul bersabda:
عن أبى الدرداء قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: فضل العالم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب. وإن العلماء ورثة الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهاما إنما ورثوا العلم فمن أخذه أخذ بحظ وافر. (رواه ابو داود والترمذي)
Artinya:
“Dari Abu Darda’: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Kelebihan seorang alim dari seorang abid (orang yang suka beribadah) seperti kelebihan bulan pada bintang-bintang, dan sesungguhnya para ulama itu pewaris nabi-nabi, mereka (para nabi) tidak mewariskan dinar, tetapi mewarisi ilmu, siapa yang mengambilnya, maka ambillah dengan bagian yang cukup.” (H.R Abu Daud dan Turrmudzi).[13]

Dijelaskan oleh Nabi bahwa seorang alim (baca: orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya) lebih utama dari pada seorang yang gemar beribadah. Dan Rasul juga menjelaskan bahwa orang yang berilmu (ulama) adalah pewaris para nabi.
Paling tidak, ada dua hal yang terkandung dalam hadits di atas; Pertama, bahwa orang yang alim lebih utama dari seorang yang gemar beribadah. Ini artinya bahwa orang yang berilmu mempunyai kedudukan yang sangat tinggi bahkan melebihi seorang hamba yang gemar beribadah namun tidak didasari dengan ilmu yang memadai. Yaitu hanya sekedar mengandalkan ritual ibadah belaka dengan ukuran seberapa tebal berkas hitam di dahi kita, seberapa besar jilbab yang kita kenakan.[14]
Yang dimaksud orang yang berilmu di sini adalah orang yang mempunyai ilmu dan mengamalkan terhadap ilmunya. Ilmu yang dimilikinya bagaikan cahaya yang dapat menerangi kegelapan. Sebagai orang yang berilmu ia mengerti bahwa ilmunya harus dimanfaatkan. Dengan ilmunya ia bisa membedakan antara yang hak dan yang bathil, antara yang halal dan yang haram. Dengan ilmunya ia bisa beribadah dengan baik, apa yang dikerjakannya mempunyai dasar dan penuh dengan kehati-hatian. Dengan ilmunya pula ia dapat merubah keadaan dan cepat menyesuaikan kadan itu dengan cepat.
Kedua, para ulama adalah pewaris para nabi. Dalam hal ini ulama (orang yang berilmu) bertugas sebagai pembawa amanat para nabi yang harus disampaikan kepada umat manusia. Secara berkesinambungan dakwah atau ajaran yang pernah disampaikan oleh para nabi, setelah beliau wafat, dilanjutkan oleh para ulama. Seorang ulama tidak hanya memikirkan dirinya sendiri tetapi dengan ilmunya yang ia miliki ia berkewajiban mengamalkamnnya dan mengajarkannya kepada orang lain.
Dengan demikian eksistensi agama akan terus terpelihara dengan baik. Walaupun kita tidak pernah berjumpa dengan nabi, tidak pernah mendengar secara langsung ajaran-ajarannya, namun berkat kegigihan para ulama Islam, kita dapat mengenyam nikmat ajaran-ajaran Islam. Karena ulama adalah pewaris para nabi dan pemegang amanah Allah.
Bertolak dari uraian di atas, sangat jelas sekali menggambarkan bahwa kedudukan ilmu dalam Islam adalah sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Islam itu sendiri yang mengandung petunjuk pada jalan yang lurus yang selaras dengan maksud dan tujuan ajaran Islam itu sendiri.
Begitu hebatnya fungsi dan peran ilmu pengetahuan bagi hidup dan kehidupan manusia di dunia dan bahkan kelak di akhirat, sehingga dengan sendirinya ilmu merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia. Maka tidak heran manakala wahyu yang pertama kali turun adalah berkenaan dengan perintah untuk membaca (iqra’). Iqra’ di sini mempunyai makna yang sangat luas, antara lain: berupa perintah untuk membaca, memikirkan, mengkaji, menghayati, mamahami, meneliti, dan seterusnya. Serupa proses kreatifitas dengan aktualisasi potensi fakir untuk menemukan kebenaran. Atau yang lebih dikenal dalam dunia pendidikan dengan sebutan belajar.
Belajar dalam hal ini memiliki makna yang sangat luas. Belajar tidak hanya sekedar mengumpulkan dan menghafal kata-kata yang terdapat dalam materi pelajaran secara formal baik di sekolah atau di lembaga pendidikan lainnya.
Secara umum, belajar dapat dimaknai dengan tahapan perubahan tingkah laku seseorang (domain kognitif, affektif, dan domain psikomotorik) yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Yang dimaksud dengan pengalaman adalah segala kejadian (peristiwa) yang secara sengaja dialami oleh setiap orang.[15] Jadi, proses belajar bisa berlangsung kapan dan di mana saja.
Mengutip Hintzman, Muhibbin Syah berpendapat bahwa, belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam organisme (manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut. Sedangkan menurut Chaplin, belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman.[16]
Slameto juga memberikan pengertian mengenai belajar yaitu, suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.[17]
Senada dengan di atas, Nana Sudjana mengatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan yang relatif permanen dalam suatu kecenderungan tingkah laku sebagai hasil dari praktek dan latihan.[18] Pada hakekatnya, belajar adalah suatu proses yang dapat dilakukan oleh jenis-jenis makhluk hidup tertentu seperti manusia. Dan belajar merupakan proses yang memungkinkan makhluk-makhluk itu merubah perilakunya dan perilaku itu cukup langgeng.[19]
Definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam belajar terdapat tingkah laku yang mengalami perubahan; perubahan itu terjadi karena adanya pengalaman dan latihan, dan karenanya, perubahan yang disebabkan bukan oleh pengalaman dan latihan, seperti gila, tidak dinamakan belajar; belajar erat kaitannya dengan perubahan dalam sebuah organisme sebagai hasil dari pengalaman.
Belajar adalah hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan, sehingga bisa dikatakan bahwa belajar adalah pendidikan dan pendidikan adalah belajar. Belajar, sebagai sebuah proses, hampir selalu mendapatkan tempat yang luas dalam setiap disiplin ilmu.
Dalam perspektif Islam pun, belajar merupakan kewajiban bagi setiap Muslim dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan. Tentang kewajiban ini, al-Qur’an telah menyebutnya berulang-ulang. Diantaranya adalah dalam surat at-Taubah ayat 122 yaitu:
وَمَا كَانَ المُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Artinya:
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (Q.S. at-Taubah: 122).[20]

Ayat di atas jelas sekali menunjukkan kepada kita akan kewajiban belajar -dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan bagi orang Islam dan kemudian mengajarkannya kepada manusia yang lain dengan baik. Orang Islam tidak boleh semuanya ikut berjihad ke dalam medan perang. Bahwa belajar lebih utama dari berjihad dan berperang di jalan Allah.
Menurut M. Quraish Shihab, kata ليتفقهوا   dengan tambahan huruf ت pada kata tersebut mengandung arti kesungguhan upaya, yang dengan keberhasilan upaya tersebut para pelaku menjadi pakar-pakar dalam bidangnya. Demikian kata tersebut mengundang kaum muslimin untuk menjadi pakar-pakar pengetahuan.[21]
Jadi, Islam telah memberikan benteng kepada pemeluknya untuk menjadi ahli ilmu. Umat Islam wajib belajar dan menuntut ilmu yang banyak diperlukan dalam setiap ruang dan waktu. Sehingga ia mampu membedakan yang manakah perkara-perkara yang harus dilakukan dan di mana pula perkara-perkara yang tidak boleh dikerjakan.
Kewajiban belajar dan menuntut ilmu bagi orang Islam tersebut tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Orang Islam boleh belajar dan menuntut ilmu ke mana saja tempat-tempat yang di dalamnya terdapat ilmu pengetahuan. Dan juga menuntut ilmu tidak pula dibatasi dengan umur yang ia miliki. Belajar diwajibkan dari sejak ia lahir hingga ajal menutup mata.
Selanjutnya, banyak hal penting yang menentukan akan keberhasilan seseorang dalam hal belajar. Pendekatan dalam belajar merupakan salah satu aspek yang juga sangat menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam belajar. Banyak dijumpai bahwa siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata namun hanya mencapai hasil yang sama dengan yang dicapai oleh teman-temannya yang lain.
Sebaliknya, seorang siswa yang sebenarnya hanya memiliki kemampuan ranah cipta rata-rata atau sedang, dapat mencapai puncak prestasi yang memuaskan lantaran menggunakan pendekatan atau strategi yang efektif dan efisien dalam belajarnya.
Di samping itu, pentingnya pendekatan dalam belajar dan menuntut ilmu adalah agar proses dan hasil dari proses tersebut tidak sia-sia dan bahkan agar berguna serta bermanfaat baik untuk orang yang belajar dan juga untuk orang lain.
Imam al-Ghazali mengatakan, tanda-tanda bahwa Allah meninggalkan hambanya adalah apabila ia berbuat sesuatu yang tidak berguna. Dan barang siapa yang menghabiskan umurnya tanpa dipergunakan untuk beribadah kepada Allah, maka pantaslah ia mengalami kesedihan yang lama.[22] Serta barang siapa yang umurnya lebih dari empat puluh tahun tahun sedangkan amal kejelekannya lebih besar dari amal kebaikannya, maka orang tersebut bersiap-siaplah menuju neraka. Dan, parahnya lagi, manusia yang paling menderita siksaan Allah pada hari kiamat adalah orang-orang yang pintar namun ilmunya tidak bermanfaat.[23]
Mengingat begitu pentingnya pendekatan dalam belajar, agar seseorang berhasil dalam proses belajar serta ilmu yang dimiliki tidak sia-sia dan bahkan bisa berguna serta bermanfaat baik untuk dirinya dan juga untuk orang lain, maka penulis terdorong untuk mengadakan penelitian dengan judul: Pendekatan dalam Proses Belajar Perspektif Imam al-Ghazali: Kajian Kitab Ayyuhā al-Walad fī Nasīhati al-Mutaallimīn wa Mawizatihim Liya’lamū wa Yumayyizū ‘Ilman Nāfi‘an min Gayrihi.

===================================  
Anda dapat memiliki word/file aslinya
Silahkan download file aslinya setelah menghubungi admin….. klik disini
 Hanya mengganti biaya administrasi pengelolaan webite sebesar,  50.000,- MURAH Meriah
                                                     Anda tidak repot lagi mencari referensi.
                                                     Di jamin asli.contohmakalah



[1] Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: CV Penerbit Jumanatul Ali Art, 2004) hlm. 598.
[2] M. Zainuddin, “Aksiologi dalam Perspektif Islam”, eL-HARAKAH: Wacana Kependidikan, Keagamaan, dan Kebudayaan. Edisi 57, Tahun XXII, Desember-Pebruari 2002. hlm. 29.
[3] Ibid., hlm. 209.
[4] Sayyid Quthb, Tafsir fi Dlilal al-Qur’an, terj. As’ad Yasin dkk., Tafsir fi Zhilalil Qur’an: di Bawah Naungan al-Qur’an (Jakarta: Gema Insani Press, 1992), jilid 6, hlm. 98.
[5] Allamah Kamal Faqih, Nur al-Qur’an: An Enlightening Commentary Into The Light of The Holy Qur’an, terj., Ahsin Muhammad, Tafsir Nurul Qur’an: Sebuah Tafsir Sederhana Menuju Cahaya al-Qur’an (Jakarta: al-Huda, 2005), hlm. 16.
[6] Muhammad Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah (Jakarta: Lentera Hati, 2003), Vol. 6, hlm. 21.
[7] Ali ash-Shabuny, Safwatu al-Tafāsīr (Beyrut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1999), juz 2, hlm. 451.
[8] Depag, Op. Cit., hlm. 51.
[9] Ibid., hlm. 544.
[10] Muhammad Quraish Shihab, Op. Cit., vol. 14, hlm. 79-80.
[11] Ali ash-Shabuny, Safwatu al-Tafāsīr (Beyrut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1999), juz 3, hlm. 1217.
[12] Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Dīn, terj. Ismail Yakub, Ihya’ Ulum ad-Din (Semarang: Menara Kudus, 1979), jilid 1, hlm. 44.
[13] Abi Isa Muhammad bin Surah at-Turmudzi, al-Jāmi’ al-Shahīh wa Huwa Sunan al-Turmuzī (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2000), hlm. 478.
[14] Muhy-I al-Dien, Jalan Menuju Hikmah: Mutiara Ihya’ al-Ghazali untuk Orang Modern (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2001), hlm. 29.
[15] Muhaimin, dkk., Strategi Belajar Mengajar (Penerapannya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama) (Surabaya: CV. Citra Media, 1996), hlm. 43.
[16] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 90.
[17] Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. 2.
[18] Nana Sudjana, Teori-teori Belajar untuk Pengajaran (Jakarta: Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi UI, 1991), hlm. 5.
[19] Robert M. Gagne, Prinsip-prinsip Belajar untuk Pengajaran, terj., Abdillah Hanafi, (Surabaya: Usaha Nasional, 1988), hlm. 17-18.
[20] Depag, Op. Cit., hlm. 208.
[21] Muhammad Quraish Shihab, Op. Cit., vol. 5, hlm. 707.
[22] Imam al-Ghazali, Ayyuhā al-Walad fī Nasīhati al-Mutaallimīn wa Mawizatihim Liya’lamū wa Yumayyizū ‘Ilman Nāfi‘an min Gayrihi (t.k.: al-Haramain Jaya Indonesia, t.t), hlm. 3.
[23] Ibid.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment

1

2










                 KLIK

translet