SILAHKAN GUNAKAN FASILITAS "SEARCH" pojok kanan atas
untuk mencari judul skripsi yang di inginkan

pemesanan => Hub: 0857-351-08864

Monday, July 2, 2012

perilaku kepemimpinan kepala madrasah dalam proses pelaksanaan inovasi pendidikan | Contoh Skripsi



Penulis : -
Kode     :207
Judul     : perilaku kepemimpinan kepala madrasah  dalam proses pelaksanaan inovasi pendidikan

 -------------------------------------------------
BAB I
PENDAHULUAN

A Latar Belakang Masalah

            Madrasah dalam khazanah kehidupan manusia Indonesia merupakan fenomena budaya yang telah berusia satu abad lebih. Bahkan, bukan suatu hal yang berlebihan, madrasah telah menjadi salah satu wujud entintas budaya Indonesia yang dengan sendirinya menjalani proses sosialisasi yang relatif intensif. Indikasinya adalah kenyataan bahwa wujud entintas budaya ini telah diakui dan diterima kehadirannya. Secara berangsur namun pasti, ia telah memasuki arus utama pembangunan bangsa menjelang akhir abad ketergantungan–20 ini.
Madrasah mengandung arti tempat atau wahana anak mengenyam proses pembelajaran. Maksudnya, di madrasah itulah anak menjalani proses belajar secara terarah, terpimpin, dan terkendali. Dengan demikian, secara teknis madrasah menggambarkan proses pembelajaran secara formal yang tidak berbeda dengan sekolah. Hanya dalam lingkup kultural, madrasah memiliki konotasi spesifik. Di lembaga ini anak memperoleh pembelajaran hal ihwal atau seluk beluk agama dan keagamaan. Sehingga dalam pemakainya, kata madrasah lebih dikenal sebagai sekolah agama. 
Contoh Skripsi
Madrasah dalam perjalanannya mengalami transisi yang cukup panjang dengan realitas di lapangan. Transisi perubahan madrasah disebabkan fenomena yang ada, yaitu pendudukan kolonial Belanda yang mendiskriditkan pendidikan Islam (madrasah). Kemudian timbul istilah ilmu umum dan ilmu agama.
Realitas itu kemudian memunculkan pemikiran dari kaum modernis Islam, bahwa madrasah harus dapat menyesuaikan dengan perkembangan yang ada, memasukan ilmu-ilmu umum di dalamnya. Hal itu, dalam rangka meningkatkan pemahaman siswa terhadap ilmu agama dan umum.
Dalam perkembangannya inovasi madrasah secara formal dirintis oleh bapak Prof. DR. Mukti Ali, sewaktu menjabat sebagai Menteri Agama RI (1971-1978). Dengan terobosan SKB Tiga Menteri, yang mewajibkan kurikulum mata pelajaran umum sebanyak 70 % dan agama 30 % di madrasah, sebagai langkah untuk inovasi pendidikan madrasah. Inovasi tersebut, untuk meningkatkan kualitas pendidikan, menciptakan suatu iklim belajar mengajar yang tepat sebagaimana layaknya pendidikan modern.
Inovasi pendidikan selanjutnya adalah pemberlakuan kurikulum 1994 yang mengajarkan mata pelajaran umum 100 % plus. Pemberlakuan tersebut, dalam rangka mencari terobosan baru untuk kualitas pendidikan, agar menguasai ilmu agama dan ilmu umum secara seimbang. Realitas lapangan menunjukan bahwa pemberlakuan ini, tidak direspon baik oleh pengelola madrasah, sehingga inovasi/pembaharuan madrasah berjalan lambat.
Kita menyadari dalam dinamika dan peradaban global saat ini, madrasah mengalami tantangan yang sangat berat. Yakni masyarakat mulai terbelenggu dengan pandangan  positivisme, materialisme, dan kapitalisme sehingga segala sesuatu yang tidak memberikan faedah, keuntungan, dan peluang akan ditinggalkan. Bertolak dari pandangan  di atas bahwa madrasah dianggap marginal oleh masyarakat memang cukup beralasan. Masyarakat menganggap madrasah tidak profesional, tidak berkualitas, nem dibawah rata–rata, out put tidak mampu berkompetisi dengan yang lain, dan bahkan dianggap manajemen madrasah amburadul (Common Sense).Contoh Skripsi
Hal ini diperkuat pandangan Mastuhu (1999 :59), bahwa kelemahan sistem pendidikan madrasah, yakni (1) mementingkan materi di atas metodologi, (2) mementingkan memori diatas analisis dan dialog, (3) mementingkan pikiran vertikal diatas literal, (4) mementingkan penguatan pada “otak kiri” diatas “otak kanan”, (5) materi pelajaran agama yang diberikan masih bersifat tradisional, belum menyentuh aspek rasional, (6) penekanan yang berlebihan pada ilmu sebagai produk final, bukan pada proses metodologinya, dan (7) mementingkan orientasi “memiliki” di atas “menjadi”. 

=================================== ===========
file full asli dan rapi sesuai dengan aslinya klik ;pemesanan
==============================================

Pandangan ini, dapat terbukti di lapangan bahwa madrasah-madrasah yang ada di lapangan (misalnya: Blitar, Tulungagung, Kediri, Malang, dan bahkan hampir seluruh madrasah yang ada di Indonesia) terutama madrasah swasta tidak mampu memberikan pembaharuan dan pencerahan bagi pendidikan Islam, akibat mendirikan madrasah yang hanya mementingkan kuantitas bukan kualitas. Begitu juga keberadaan Madrasah Ibtidaiyah swasta sebagian besar mengalami nasib yang sama, yakni keberadaannya la yamutu wala yahya / wujuduhu kaadamihi,  dapat dibilang hidup segan mati tak mau.
Hal ini disebabkan oleh faktor kepemimpinan yang tidak mampu menggerakan, mempengaruhi, mendorong, dan memanfaatkan sumber daya yang ada baik materiil, non materiil yang ada. Manajemen yang diterapkan seorang pemimpin (kepala madrasah) ala kadarnya, sehingga madrasah tidak dapat berkembang secara baik dari aspek kualitas dan kuantitas.
Disamping hal tersebut disebabkan, masalah-masalah pengelolaan madrasah yang selanjutnya dikelompokan menjadi: (1) masalah pengelolaan keuangan  (2) masalah pengelolaan waktu (3) masalah perilaku disiplin murid (4) masalah orang tua murid (5) masalah hubungan sekolah dengan masyarakat (6) masalah guru dan pengajaran (7) masalah hubungan, komunikasi, dan iklim sekolah (8) masalah-masalah lain. Bertolak dari kelemahan itu, yang menjadi pertanyaan mengapa upaya inovasi yang telah dirintis sejak dulu, utamanya peningkatan kualitas pendidikan rendah di MI, tidak berhasil sebagaimana yang diharapkan? adakah kesalahan dalam pengelolaan inovasi pendidikan madrasah?
Untuk menjawab pertanyaan itu, banyaknya masalah pengelolaan madrasah, diperlukan inovasi. Inovasi itu sendiri menurut Frymier dkk (1984) merupakan upaya pemecahan masalah-masalah yang dihadapi. Sedangkan apabila dikaitkan dengan fungsinya sebagai institusi sosial terbuka, maka madrasah memang dituntut mengadakan inovasi-inovasi untuk memenuhi harapan dan tuntutan masyarakat yang selalu berubah. Apabila tidak mampu mengadakan inovasi yang sesuai, maka madrasah tidak akan mampu hidup lama (wala yamutu wala yahya). Karena itu tidak berlebihan kiranya apabila Goodlad (1975), Henderson dan Perry (1987), dan Mckibbin (1983) merekomendasikan bahwa sekolah (madrasah) yang baik adalah sekolah (madrasah) yang mampu mengadakan inovasi-inovasi (Bafadal, 1995 :11).
Hal ini diperkuat pandangan Ibrahim (1988 : 52-54), bahwa inovasi pendidikan madrasah adalah suatu keharusan untuk peningkatan kualitas dan profesional pendidikan dalam rangka menatap masa depan, inovasi pendidikan tersebut adalah pembinaan personalia, banyaknya personal dan wilayah kerja, fasilitas fisik, penggunaan waktu, perumusan tujuan, prosedur, peran yang diperlukan, wawasan perasaan, bentuk hubungan antar bagian, hubungan dengan sistem yang lain, dan strategi : desain, kesadaran dan perhatian, evaluasi, dan percobaan. Dari sinilah inovasi pendidikan madrasah harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan.
Dari berbagai masalah dan kelemahan madrasah yang ada, khususnya madrasah Ibtidaiyah swasta, ada madrasah Ibtidaiyah swasta yang sudah mengaktualisasikan diri kembali, dan mengembalikan dirinya sebagai lembaga yang favorit, alternatif, dan teladan yang dapat memberikan wahana pembaharuan dan pencerahan bagi lembaga pendidikan Islam masa depan, yaitu MIJS  Malang.
MIJS lahir sebagai suatu wadah untuk menampung calon siswa MIN Malang I yang tidak tertampung karena keterbatasan ruang belajar, sementara dari pihak orang tua sangat menginginkan putra-putrinya mendapat pendidikan berkualitas seperti MIN Malang 1. Sejak tahun 1987/1988 YAPI membuka pendaftaran siswa baru, kelas 1 sementara tempat belajarnya menumpang di MIN Malang 1 dengan jumlah 46 orang. Pada tahun pelajaran 1990/1991, YAPI bekerjasama dengan YASULA (Yayasan Usaha Sosial Susila), untuk mengelola MIJS.
Atas peran serta semua pihak khususnya BP-3 dalam bidang penggalian dana untuk pengembangan sarana dan prasarana dan operasional pendidikan, maka pendidikan MIJS berkembang pesat. Dalam jangka waktu tiga tahun berbagai prestasi baik akademik non akademik sangat membanggakan. Dengan prestasi tersebut maka kepercayaan masyarakat terhadap MIJS bertambah besar. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya jumlah siswa.
Pada tahun 1996 MIJS memisahkan diri dari YASULA. Hal ini dilakukan oleh MIJS dikarenakan YASULA memiliki kepentingan yang sangat menonjol dan berusaha mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya dari pola usaha sosial pendidikan di MIJS.
Dari peristiwa inilah, MIJS mengalami kemerosotan, baik dibidang kualitas pendidikan dan sarana dan prasarana. Dalam bidang pendidikan, prestasi akademik siswa dapat dikatakan stagnan (menurun) karena pengelolaan proses belajar mengajar ala kadarnya (tidak ada inovasi). Bidang sarana dan prasarana tidak dapat terpenuhi, karena fasilitas gedung untuk proses belajar mengajar pindah dari tempat satu ke tempat yang lain (tidak mempunyai gedung), yang menyebabkan konsentrasi belajar siswa menjadi terganggu, dan tidak tidak kondusif.
Hal ini berjalan kurang lebih 1 tahun, 1996-1997. Madrasah dapat dikatakan dalam keadaan “kolab” yang berarti kemunduran yang sulit dibenahi (la yamutu wala yahya). Banyak orang tua murid yang mengambil anaknya untuk di sekolahkan di madrasah yang lain. Sebab orang tua murid tidak percaya lagi terhadap prestasi akademik dan non akademik MIJS. Hal itu dibenarkan bapak Suyanto, S.Pd sebagai koordinator pengelola kurikulum yang  menjadi tenaga pengajar dari awal didirikan MIJS bahwa 1 tahun  MIJS mengalami nasib yang menyedihkan (kolab), disebabkan sistem pengelolaan pendidikan kurang baik, dan kesalah pahaman pengelola.
Akhirnya pada pertemuan Cahyaningrat memilih DR. Imron Arifin sebagai kepala MIJS yang baru. Pemilihan itu, kata bapak Suyanto, S.Pd sebagai koordinator pengelola kurikulum untuk membenahi kinerja yang baik, dan meningkatkan kualitas pendidikan di MIJS.
Dengan waktu yang relatif singkat, kepala MIJS dapat dikatakan berhasil. Hal itu, dapat dilihat secara empiris bahwa MIJS telah memiliki sarana dan prasarana fisik  non fisik pembelajaran secara memadai. Sambutan kepala MIJS acara wisuda 30 juni 2001 dihadapan orang tua siswa bahwa rasa syukur ini patut kita panjatkan mengingat perkembangan kuantita dan kualita kependidikan MIJS semakin baik dan meningkat. Sambutan selanjutnya, perubahan, inovasi, dan pemberdayaan MIJS secara fisik, akademik, dan profesionalisme guru semakin meningkat.
Keberhasilan MIJS selama tiga tahun terakhir, dapat dilihat dan dicermati dari sambutan kepala MIJS selanjutnya pada 30 Juni 2001, Pembangunan fasilitas fisik di MIJS dikembangkan secara bertahap, pertama pembangunan gedung madrasah berlantai dua pada tanggal 28 maret 1999 diresmikan oleh Walikota Malang, dilanjutkan pembangunan sanggar pramuka dan seni, pada tanggal 21 April 1999 diresmikan oleh ketua YAPIJS.
Kedua, pembangunan dengan selesainya pembangunan pagar keliling, pavingisasi, parkir kendaraan guru, gedung koperasi, penyatuan ruang perpustakaan dengan mushala, renovasi tiga kelas atas menjadi aula semi permanen, dua kamar mandi kafetaria, westafel kafetaria, dan tandon air kamar mandi atas.
Ketiga, pembangunan penyelesaian pengeramikan semua lantai madrasah termasuk tempat wudhlu, pos satpam, kolam ikan, joglo belajar, paving block di laboratorium, kebun IPA, dan perataan parkir mobil penjemput.
Pembangunan tahap empat penyelesaian pembangunan gudang tandon air diatas kamar mandi-wudlu, pemberian saluran air dibawah paving, penyaluran listrik dan tambah daya. Akhirnya, dilakukan peresmian Laboratorium IPA dan Kebun IPA pada 16 Maret 2000 oleh Kakanwil Departemen Agama Jawa Timur.
Pada awal Juni 2001 hampir selesainya pembangunan lima lokal dengan konstruksi  lantai tiga. Semua usaha pembangunan ini dilakukan atas perkiraan kebutuhan (need assasment) didasarkan pada visi kemasa depan (creating for the future) bahwa MI Jenderal Sudirman diharapkan dan diproyeksikan menjadi salah satu institusi pendidikan dasar berciri ke-Islaman yang mempunyai kualitas. Pembangunan bertahap ini, kata kepala MIJS memakai konsep self managing school, yaitu madrasah swakelola mandiri.
Kemudian, inovasi pembelajaran yang dilaksanakan menurut pernyataan kepala MIJS 26 Agustus 2001 berupa team teaching, integrated curriculum, integrated learning, pengelompokan siswa, dan pondok ebtanas dan pembaharuan alat pembelajaran (komputerisasi, penggunaan VCD). Inovasi non akademik diwujudkan dengan pelayanan khusus, dulu 1 Pramuka, seakarang 15 kegiatan ekstra kurikuler.
Dari inovasi pembelajaran baik fisik dan non fisik dapat dilihat dari hasil perolehan NEM siswa semakin meningkat dibanding tahun sebelumnya. Tahun 2001 MIJS meraih sepuluh terbesar perolehan NEM se-kota Malang. Untuk non akademik MIJS dapat meraih berbagai prestasi yang diadakan oleh instansi lain.
Inovasi dalam pemberdayaan sumber daya manusia, menurut kepala MIJS 26 Agustus 2001 bahwa guru dilibatkan dalam forum-forum ilmiah, misalnya pelatihan, seminar, lokakarya, konsorsium. Terbukti  guru MIJS menjadi petatar KPI Jawa Timur, 1 Matematika, 2 petatar IPA, dan 2 petatar Super Camp.
Pandangan diatas diperkuat Arifin (1998 : XII), faktor-faktor yang memberi dukungan terhadap pencapaian prestasi madrsah meliputi: (1) Fasilitas fisik dan peralatan pendidikan yang baik (2) guru-guru dan staf pendukung yang kompeten dan mempunyai komitmen tinggi (3) Pembelajaran yang berdiferensiasi (4) Harapan dan kepercayaan yang tinggi, dan dukungan yang tinggi, dan dukungan yang kuat dari orang tua dan masyarakat sekitar (5) organisasi rasional dan harmonis (6) komitmen yang tinggi terhadap budaya lokal dan agama (7) Iklim kerja yang sehat, serta motivasi dan semangat kerja yang tinggi (8) keterlibatan wakil kepala sekolah dan guru (9) Kepala sekolah yang efektif (10) Dukungan figur-figur kreatif yang berwawasan luas dan kaya gagasan.
Berangkat dari data, dan keterangan di atas, MIJS mengalami perkembangan, dan keberhasilan dalam waktu yang cukup relatif singkat, tidak terlepas dari peran kepala madrasah dalam membuat kebijakan operasional dalam pengelolaan inovasi pendidikan yang dilaksanakannya. Pandangan ini secara teoritik dan lapangan dibenarkan, kunci keberhasilan pendidikan sangat tergantung Kepala madrasah (Gorton, 1976 : 244). Kecerdasan, kepiawian, dan kekreatifan seorang Kepala madrasah merupakan kunci madrasah akan berhasil. Dari sinilah peneliti tertarik untuk meneliti, dan memahaminya. Pertanyaan pokok yang muncul  adalah mengapa kepala MIJS melaksanakan inovasi.



B. Rumusan Dan Batasan Masalah
            Fokus utama penelitian ini perilaku kepemimpinan kepala madrasah  dalam proses pelaksanaan inovasi pendidikan. Lebih lanjut diuraikan dalam rumusan dan batasan penelitian sebagai berikut :
1. Inovasi apa saja yang di kembangkan di MIJS, yang meliputi aspek fisik dan non fisik ?
2. Bagaimana proses pelaksanaan inovasi di tinjau dari aspek manajemen pendidikan ?
3.    Mengapa Kepala MIJS  melakasanakan inovasi pendidikan?

==============================================
DAPATKAN FILE nya Dengan menghubungi admin
Anda dapat memiliki word/file aslinya
Silahkan download file aslinya setelah menghubungi admin….. klik disini
 Hanya mengganti biaya administrasi pengelolaan webite sebesar,  50.000,- MURAH Meriah
                                                     Anda tidak repot lagi mencari referensi.
                                                     Di jamin asli.contohmakalah

No comments:

Post a Comment

1

2










                 KLIK

translet