SERANGAN udara Israel ke Jalur Gaza memasuki hari ke
enam, Senin (19/11). Hingga Selasa ini, korban tewas di pihak Palestina
dilaporkan telah mencapai 110 orang. Ribuan tentara Israel dengan tank
dan kendaraan lapis baja pun telah dikerahkan ke perbatasan Gaza, siap
bergerak maju jika Israel yakin tidak ada kesempatan bagi gencatan
senjata dalam konfliknya dengan Hamas.
Duta Besar Israel untuk AS, Michael Oren, kepada wartawan dalam sebuah briefing di
Kedutaan Besar Israel di Washington, DC, Senin, mengatakan, Israel
ingin menghindari invasi darat, tetapi perencanaan perang sudah komplet
dan tentara Israel siap menyerbu jika diperlukan.
Namun, Israel,
yang terus melancarkan serangan udara terhadap gerilyawan di Gaza, pada
Senin, dikatakan menyadari bahwa invasi darat akan membawa risiko yang
berdampak luas.
Israel belajar dari perang tahun 2008 di Gaza
ketika negara Yahudi itu kehilangan dukungan masyarakat internasional.
Angkatan udara dan pasukan darat ketika itu mengerahkan senjata yang
superior, menyerang banyak sasaran sipil dalam upaya untuk melenyapkan
militan dan infrastruktur mereka. Sekitar 1.300 orang tewas ketika itu.
Sebuah
penyelidikan PBB kemudian menyimpulkan bahwa militer Israel melakukan
kejahatan perang dalam konflik itu, yang menciptakan sebuah persoalan
diplomatik besar bagi Israel.
Dengan memori akan pengalaman itu
dan pemilihan umum parlemen yang tinggal dua bulan lagi, Pemerintah
Israel sadar akan potensi konsekuensi internasional dan domestik dari
invasi darat. Demikian kata para analis yang mengamati situasi itu
dengan cermat.
"Korban warga Palestina yang lebih tinggi dapat
menyebabkan erosi dukungan internasional bagi hak Israel untuk membela
diri dari serangan roket Hamas," kata Haim Malka, peneliti senior di
Center for Strategic and International Studies, seperti dikutip CNN.
"Perdana Menteri (Benjamin) Netanyahu ragu-ragu untuk melancarkan
sebuah operasi darat karena liabilitas politik dan risiko operasi
semacam itu bagi Israel," kata Malka.
Para petugas kesehatan
Palestina mengatakan sudah 110 orang tewas dan 860 lainnya terluka di
Gaza sejak Israel memulai serangan udara untuk menanggapi apa yang
disebut sebagai serangan roket yang gencar oleh kaum militan. Para
pejabat Israel mengatakan, tiga warganya tewas dan 68 lainnya terluka
akibat tembakan roket Hamas dari Gaza.
Jajak pendapat umum di Israel menunjukkan, warga negara itu enggan dengan keterlibatan militer yang lebih dalam. Menurut harian Jerusalem Post,
warga Israel menyatakan dukungan yang kuat bagi serangan udara yang
kini berlangsung, tetapi ragu-ragu jika harus melancarkan serangan
darat. Harian itu, Senin, melaporkan, 85 persen warga Israel yakin
operasi militer segera dimulai.
Ketika ditanya bagaimana
seharusnya langkah pemerintah? Sebanyak 45 persen responden lebih
menyukai serangan udara terus dilanjutkan, sementara 25 persen
merekomendasikan serangan darat, dan sekitar 22 persen mengatakan
Israel harus mengupayakan gencatan senjata.
Tujuan serangan udara
adalah untuk melemahkan atau menghancurkan kemampuan Hamas meluncurkan
roket ke Israel. Demikian kata seorang pejabat Israel. Kaum militan di
Gaza telah menembakkan hampir 1.000 roket ke Israel sejak konflik itu
pecah. Demikian kata Angkatan Pertahanan Israel (IDF), Senin. Israel
telah menyasar lebih dari 1.300 lokasi dalam kampanye pengebomannya.
Duta
Besar Oren mengatakan, pada tingkat aksi saat ini, kegiatan militer
bisa berlangsung 45 sampai 100 hari. Dia mengatakan, Hamas masih
memiliki 10.000 sampai 11.000 roket, tetapi tidak mengungkapkan berapa
banyak yang telah dihancurkan Israel.
Ketika ditanya wartawan, apa yang Israel inginkan dari Hamas? Oren mengatakan, jaminan kembali ke status quo.
Negosiasi di Mesir yang mencoba untuk menghentikan pertempuran tersebut belum menghasilkan terobosan.
Ada peluang 50-50 misi itu akan diperluas ke invasi darat. Demikian kata seorang pejabat Pemerintah Israel kepada harian Haaretz.
Dalam sebuah wawancara di televisi Israel, Senin, Wakil Menteri Luar
Negeri Israel Danny Ayalon mengatakan, tidak ada pilihan yang telah
dikesampingkan, tetapi pada tahap ini semuanya bergantung pada aksi
Hamas.
Mantan Jenderal Israel, Dan Harel, mengatakan, Israel
kehabisan sasaran yang jauh dari pusat-pusat populasi, sementara para
pemimpin Hamas dan sasaran-sasaran individu lainnya kini berada di bawah
tanah, di masjid, atau di antara penduduk sipil. "Ini target yang tidak
akan diserang Israel karena akan salah secara moral," kata Harel.
Jika
memang itu posisi Israel, itu berarti akan mengurangi kesempatan invasi
darat yang tidak diragukan lagi akan menyasar lokasi-lokasi para
pemimpin Hamas dan senjata-senjata di daerah-daerah yang sensitif.
"Skenario
yang paling mungkin adalah gencatan senjata, yang diharapkan akan
diperantarai Amerika Serikat dan Mesir, dan kita semua kemudian kembali
ke posisi tepat di mana kita sebelumnya," kata Reza Aslan, penulis buku Tidak Ada Tuhan selain Allah, yang melihat bagaimana gerakan Musim Semi Arab pada akhirnya akan berperan.
"Dalam
beberapa tahun, kita mulai proses ini lagi. Pada titik tertentu, Israel
akan harus mengakui bahwa Hamas, apakah suka atau tidak, merupakan
pemerintahan yang sesungguhnya di Gaza, dan harus mencari sebuah solusi
jangka panjang untuk mempertahankan gencatan senjata yang memadai dan
yang mungkin mencakup melonggarkan blokade terhadap Gaza," katanya
kepada CNN, Senin.
Menurut Haaretz, Netanyahu,
Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak, dan Menteri Luar Negeri Avigdor
Lieberman, hari Senin, diberi infomasi terbaru oleh para utusan Israel
yang baru saja kembali dari pembicaraan dengan para pejabat intelijen
Mesir. "Pembahasan berpusat pada tuntutan yang dibuat Hamas dan pada
usulan Mesir untuk berkompromi," kata koran itu, yang mengutip seorang
pejabat Israel.
Wilayah Palestina berada di bawah embargo ekonomi
yang melumpuhkan sejak Hamas, sebuah organisasi militan fundamentalis
Islam, mengambil kendali politik dari Otoritas Palestina di Jalur Gaza
dalam Pemilu 2007.
No comments:
Post a Comment